<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sepi Bak Kuburan, Ini Kisah Pedagang Glodok Bertahan di Tengah Gempuran Belanja Online</title><description>Kondisi Pusat  Perbelanjaan Glodok kini sepi bak kuburan. Namun masih  ada beberapa pedagang Glodok yang memilih bertahan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/01/19/455/2749227/sepi-bak-kuburan-ini-kisah-pedagang-glodok-bertahan-di-tengah-gempuran-belanja-online</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/01/19/455/2749227/sepi-bak-kuburan-ini-kisah-pedagang-glodok-bertahan-di-tengah-gempuran-belanja-online"/><item><title>Sepi Bak Kuburan, Ini Kisah Pedagang Glodok Bertahan di Tengah Gempuran Belanja Online</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/01/19/455/2749227/sepi-bak-kuburan-ini-kisah-pedagang-glodok-bertahan-di-tengah-gempuran-belanja-online</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/01/19/455/2749227/sepi-bak-kuburan-ini-kisah-pedagang-glodok-bertahan-di-tengah-gempuran-belanja-online</guid><pubDate>Kamis 19 Januari 2023 12:27 WIB</pubDate><dc:creator>Khairunnisa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/01/19/455/2749227/sepi-bak-kuburan-ini-kisah-pedagang-glodok-bertahan-di-tengah-gempuran-belanja-online-lPewssMP9R.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Mal glodok sepi (Foto: BBC Indonesia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/01/19/455/2749227/sepi-bak-kuburan-ini-kisah-pedagang-glodok-bertahan-di-tengah-gempuran-belanja-online-lPewssMP9R.jpg</image><title>Mal glodok sepi (Foto: BBC Indonesia)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Kondisi Pusat  Perbelanjaan Glodok kini sepi bak kuburan. Namun masih ada beberapa pedagang Glodok yang memilih bertahan menjajakan produknya.
Pedagang Glodok memilih bertahan meski sejak pandemi, transaksi tatap muka calon pembeli dan para pedagang kian menurun dan digantikan situs penjualan online. Di Harco Glodok, pengunjung akan langsung disambut pemandangan kios-kios yang masih buka setelah libur tahun baru.
Sebagian besar mengobral aksesori elektronik dan perangkat kantor yang ditawarkan kepada pengunjung yang lalu-lalang.
BACA JUGA:Pusat Perbelanjaan Glodok City Sepi, Banyak Toko Tutup

Namun, naik ke lantai atas, jumlah kios-kios yang tutup lebih banyak dibandingkan dengan kios-kios yang buka di lantai bawah.
Kecuali satu-dua yang masih melayani pelanggan di tengah lorong-lorong penuh penutup besi. Salah satunya adalah sebuah toko yang terletak di lantai atas ujung kiri. Toko itu merupakan satu-satunya toko &amp;lsquo;hidup&amp;rsquo; di tengah dua gerai yang sudah tutup.
Toko itu milik Vincent yang menjaganya seorang diri. Ia bersembunyi di balik tumpukan rak-rak tinggi berisi kardus. Vincent sudah berjualan kipas angin di Glodok selama 20 tahun. Usaha tersebut merupakan turunan dari keluarganya yang giat berbisnis sejak tahun 1970-an.
BACA JUGA:Omzetnya Melonjak, Pedagang Pernak-pernik Imlek di Pecinan Glodok Raup Cuan!

Pria berumur 56 tahun itu mengatakan 75% dari omzetnya berasal dari langganan, dan hanya sebagian kecil dari penjualan e-commerce.
&amp;ldquo;Pembeli online masih relatif [sedikit] ya, masih belum begitu ramai. Dalam seminggu mungkin bisa dua atau tiga pembeli,&amp;rdquo; ujar Vincent dikutip dari BBC Indonesia, Kamis (19/1/2023).
Vincent mengatakan toko offlinenya membawa rezeki lebih dibandingkan akun Tokopedianya. Ia menerima sekitar 30 sampai 35 pesanan per hari dari orang yang telah berlangganan dengan tokonya sejak tahun 1990-an sampai awal 2000-an.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8xNS8yMC8xNjA4MTgvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Para langganannya pun, menurut Vincent, masih lebih memilih  berbelanja langsung ke tokonya ketimbang membeli produknya lewat situs  niaga online.
Oleh karena itu, ia tetapi kukuh mempertahankan tokonya. Ia sendiri  sudah berpindah lokasi tiga kali, semula di LTC Glodok Hayam Wuruk,  kemudian di Pasar HWI Lindeteves, dan kini di Harco Glodok.
Meski sudah menetap di lokasi baru, Vincent mengaku tokonya masih  relatif sepi peminat meskipun pengunjung sudah bermunculan sejak pandemi  melandai.
&amp;ldquo;Orang yang lewat banyak, puluhan setiap hari. Tapi yang nanya barang, pengunjung gitu ya, paling 4-5 [orang],&amp;rdquo; katanya.
Di gedung sebelah, yakni Glodok Plaza, penjual perangkat kamera Andi  (40) merasakan hal yang sama ketika membuka cabang toko daring di  Tokopedia dan Shoppee.
Penjualan online untuk produk-produknya tidak sampai 50% dari omzet.  Hasil penjualannya masih didominasi langganan. Meski begitu, ia merasa  pengunjung Glodok Plaza masih sama sepinya seperti pelanggan online.
&amp;ldquo;Karena kami sudah ada dari dulu, langganan sudah ada. Kalau  mengandalkan traffic di sini sudah parah. Tidak seperti zaman  1990-2000an, dulu ramai banget kan,&amp;rdquo; kata Andi.
Berdasarkan survei JakPat, pada paruh pertama 2022 sebanyak 47%  masyarakat Indonesia lebih memilih untuk membeli gawai dan peralatan  elektronik di situs e-commerce. Sementara, hanya 24% responden memilih  untuk datang langsung ke toko untuk membeli barang elektronik.
Kebanyakan dari gerai-gerai toko yang masih tersisa di pusat  perbelanjaan daerah Glodok, Jakarta Pusat mengandalkan bisnis mereka di  bidang perangkat elektronik seperti kamera, alat pengeras suara, dan  lainnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Kondisi Pusat  Perbelanjaan Glodok kini sepi bak kuburan. Namun masih ada beberapa pedagang Glodok yang memilih bertahan menjajakan produknya.
Pedagang Glodok memilih bertahan meski sejak pandemi, transaksi tatap muka calon pembeli dan para pedagang kian menurun dan digantikan situs penjualan online. Di Harco Glodok, pengunjung akan langsung disambut pemandangan kios-kios yang masih buka setelah libur tahun baru.
Sebagian besar mengobral aksesori elektronik dan perangkat kantor yang ditawarkan kepada pengunjung yang lalu-lalang.
BACA JUGA:Pusat Perbelanjaan Glodok City Sepi, Banyak Toko Tutup

Namun, naik ke lantai atas, jumlah kios-kios yang tutup lebih banyak dibandingkan dengan kios-kios yang buka di lantai bawah.
Kecuali satu-dua yang masih melayani pelanggan di tengah lorong-lorong penuh penutup besi. Salah satunya adalah sebuah toko yang terletak di lantai atas ujung kiri. Toko itu merupakan satu-satunya toko &amp;lsquo;hidup&amp;rsquo; di tengah dua gerai yang sudah tutup.
Toko itu milik Vincent yang menjaganya seorang diri. Ia bersembunyi di balik tumpukan rak-rak tinggi berisi kardus. Vincent sudah berjualan kipas angin di Glodok selama 20 tahun. Usaha tersebut merupakan turunan dari keluarganya yang giat berbisnis sejak tahun 1970-an.
BACA JUGA:Omzetnya Melonjak, Pedagang Pernak-pernik Imlek di Pecinan Glodok Raup Cuan!

Pria berumur 56 tahun itu mengatakan 75% dari omzetnya berasal dari langganan, dan hanya sebagian kecil dari penjualan e-commerce.
&amp;ldquo;Pembeli online masih relatif [sedikit] ya, masih belum begitu ramai. Dalam seminggu mungkin bisa dua atau tiga pembeli,&amp;rdquo; ujar Vincent dikutip dari BBC Indonesia, Kamis (19/1/2023).
Vincent mengatakan toko offlinenya membawa rezeki lebih dibandingkan akun Tokopedianya. Ia menerima sekitar 30 sampai 35 pesanan per hari dari orang yang telah berlangganan dengan tokonya sejak tahun 1990-an sampai awal 2000-an.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8xNS8yMC8xNjA4MTgvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Para langganannya pun, menurut Vincent, masih lebih memilih  berbelanja langsung ke tokonya ketimbang membeli produknya lewat situs  niaga online.
Oleh karena itu, ia tetapi kukuh mempertahankan tokonya. Ia sendiri  sudah berpindah lokasi tiga kali, semula di LTC Glodok Hayam Wuruk,  kemudian di Pasar HWI Lindeteves, dan kini di Harco Glodok.
Meski sudah menetap di lokasi baru, Vincent mengaku tokonya masih  relatif sepi peminat meskipun pengunjung sudah bermunculan sejak pandemi  melandai.
&amp;ldquo;Orang yang lewat banyak, puluhan setiap hari. Tapi yang nanya barang, pengunjung gitu ya, paling 4-5 [orang],&amp;rdquo; katanya.
Di gedung sebelah, yakni Glodok Plaza, penjual perangkat kamera Andi  (40) merasakan hal yang sama ketika membuka cabang toko daring di  Tokopedia dan Shoppee.
Penjualan online untuk produk-produknya tidak sampai 50% dari omzet.  Hasil penjualannya masih didominasi langganan. Meski begitu, ia merasa  pengunjung Glodok Plaza masih sama sepinya seperti pelanggan online.
&amp;ldquo;Karena kami sudah ada dari dulu, langganan sudah ada. Kalau  mengandalkan traffic di sini sudah parah. Tidak seperti zaman  1990-2000an, dulu ramai banget kan,&amp;rdquo; kata Andi.
Berdasarkan survei JakPat, pada paruh pertama 2022 sebanyak 47%  masyarakat Indonesia lebih memilih untuk membeli gawai dan peralatan  elektronik di situs e-commerce. Sementara, hanya 24% responden memilih  untuk datang langsung ke toko untuk membeli barang elektronik.
Kebanyakan dari gerai-gerai toko yang masih tersisa di pusat  perbelanjaan daerah Glodok, Jakarta Pusat mengandalkan bisnis mereka di  bidang perangkat elektronik seperti kamera, alat pengeras suara, dan  lainnya.</content:encoded></item></channel></rss>
