<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>JD.ID Tutup, Buruh: Resesi Global Serang Industri Digital</title><description>JD.ID resmi menutup seluruh layanan per 31 Maret 2023.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/01/30/320/2755781/jd-id-tutup-buruh-resesi-global-serang-industri-digital</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/01/30/320/2755781/jd-id-tutup-buruh-resesi-global-serang-industri-digital"/><item><title>JD.ID Tutup, Buruh: Resesi Global Serang Industri Digital</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/01/30/320/2755781/jd-id-tutup-buruh-resesi-global-serang-industri-digital</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/01/30/320/2755781/jd-id-tutup-buruh-resesi-global-serang-industri-digital</guid><pubDate>Senin 30 Januari 2023 16:42 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/01/30/320/2755781/jd-id-tutup-buruh-resesi-global-serang-industri-digital-kjxGu4l66J.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">JD.ID tutup (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/01/30/320/2755781/jd-id-tutup-buruh-resesi-global-serang-industri-digital-kjxGu4l66J.jpeg</image><title>JD.ID tutup (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; JD.ID resmi menutup seluruh layanan per 31 Maret 2023. Platform jual-beli online (e-commerce) ini tidak lagi menerima pesanan mulai 15 Februari 2023.
Menyoroti hal ini, Presiden Partai Buruh dan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menilai hal itu tidak lepas dari dampak resesi ekonomi global.
BACA JUGA:Ini Alasan JD.COM Tutup JD.ID di Indonesia

Iqbal menilai dampak dari melemah ekonomi cukup terasa pada menurunnya permintaan. Ini memicu maraknya PHK yang terjadi sejak tahun 2022 hingga awal tahun 2023.
Bahkan Iqbal menilai, hal tersebut juga punya kemungkinan bakal menyelimuti sepanjang tahun 2023.
BACA JUGA:JD.ID Tutup, Setop Terima Pesanan Mulai 15 Februari 2023

&quot;Pertama resesi ekonomi tidak bisa dihindarkan, perang belum menentu dan menjadi hambatan rantai pasok, akibatnya di Eropa menurun daya belinya, Seluruh dunia melakukan pemangkasan, google, Microsoft, Cripto juga melakukan PHK imbasnya,&quot; ujar Said Iqbal saat dihubungi MNC Portal, Senin (30/1/2023).
Menurutnya, dampak pelemahan ekonomi global paling terasa di sektor ekonomi digital. Sebab perusahaan digital dan teknologi ini masih membutuhkan modal yang cukup besar untuk menjalankan operasionalnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8yMy80LzE1NzQyNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Di sisi lain, investor juga mulai merealisasikan keuntungan dari  modal yang ditanam sebelumnya. Karena perusahaan digital seperti  diketahui juga cukup ramai saat pandemi covid 19, namun saat ini  pembatasan mobilitas juga dicabut sering dari pengumuman pemerintah.
&quot;Fenomena (JD.Id) ini jangan kaget bakal meluas ke platform  e-commerce lainnya, mungkin bisa seperti Blibli, Tokped, Grab, atau  lainnya, kemungkinan itu pasti ada, resesi global bakal berdampak pada  sektor ekonomi digital,&quot; imbuhnya.
Penutupan perusahaan ini, kata dia, akan berdampak pada PHK dan  meningkatkan pengangguran baru. Dirinya berharap pemerintah bisa  mencermati fenomena-fenomena yang terjadi dalam industri digital.
&quot;Terhadap sektor tertentu, terutama padat karya, yang ordernya dari  luar, itu memang seharusnya dijaga, paling tidak bisa menjamin untuk  berjualan di pasar domestik,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; JD.ID resmi menutup seluruh layanan per 31 Maret 2023. Platform jual-beli online (e-commerce) ini tidak lagi menerima pesanan mulai 15 Februari 2023.
Menyoroti hal ini, Presiden Partai Buruh dan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menilai hal itu tidak lepas dari dampak resesi ekonomi global.
BACA JUGA:Ini Alasan JD.COM Tutup JD.ID di Indonesia

Iqbal menilai dampak dari melemah ekonomi cukup terasa pada menurunnya permintaan. Ini memicu maraknya PHK yang terjadi sejak tahun 2022 hingga awal tahun 2023.
Bahkan Iqbal menilai, hal tersebut juga punya kemungkinan bakal menyelimuti sepanjang tahun 2023.
BACA JUGA:JD.ID Tutup, Setop Terima Pesanan Mulai 15 Februari 2023

&quot;Pertama resesi ekonomi tidak bisa dihindarkan, perang belum menentu dan menjadi hambatan rantai pasok, akibatnya di Eropa menurun daya belinya, Seluruh dunia melakukan pemangkasan, google, Microsoft, Cripto juga melakukan PHK imbasnya,&quot; ujar Said Iqbal saat dihubungi MNC Portal, Senin (30/1/2023).
Menurutnya, dampak pelemahan ekonomi global paling terasa di sektor ekonomi digital. Sebab perusahaan digital dan teknologi ini masih membutuhkan modal yang cukup besar untuk menjalankan operasionalnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8yMy80LzE1NzQyNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Di sisi lain, investor juga mulai merealisasikan keuntungan dari  modal yang ditanam sebelumnya. Karena perusahaan digital seperti  diketahui juga cukup ramai saat pandemi covid 19, namun saat ini  pembatasan mobilitas juga dicabut sering dari pengumuman pemerintah.
&quot;Fenomena (JD.Id) ini jangan kaget bakal meluas ke platform  e-commerce lainnya, mungkin bisa seperti Blibli, Tokped, Grab, atau  lainnya, kemungkinan itu pasti ada, resesi global bakal berdampak pada  sektor ekonomi digital,&quot; imbuhnya.
Penutupan perusahaan ini, kata dia, akan berdampak pada PHK dan  meningkatkan pengangguran baru. Dirinya berharap pemerintah bisa  mencermati fenomena-fenomena yang terjadi dalam industri digital.
&quot;Terhadap sektor tertentu, terutama padat karya, yang ordernya dari  luar, itu memang seharusnya dijaga, paling tidak bisa menjamin untuk  berjualan di pasar domestik,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
