<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>IMF Revisi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2023 Jadi 2,9%</title><description>International Monetary Fund (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini menjadi 2,9%.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/01/31/320/2756275/imf-revisi-proyeksi-pertumbuhan-ekonomi-global-2023-jadi-2-9</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/01/31/320/2756275/imf-revisi-proyeksi-pertumbuhan-ekonomi-global-2023-jadi-2-9"/><item><title>IMF Revisi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2023 Jadi 2,9%</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/01/31/320/2756275/imf-revisi-proyeksi-pertumbuhan-ekonomi-global-2023-jadi-2-9</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/01/31/320/2756275/imf-revisi-proyeksi-pertumbuhan-ekonomi-global-2023-jadi-2-9</guid><pubDate>Selasa 31 Januari 2023 12:57 WIB</pubDate><dc:creator>Clara Amelia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/01/31/320/2756275/imf-revisi-proyeksi-pertumbuhan-ekonomi-global-2023-jadi-2-9-b9QOqqCD10.jpg" expression="full" type="image/jpeg">IMF revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/01/31/320/2756275/imf-revisi-proyeksi-pertumbuhan-ekonomi-global-2023-jadi-2-9-b9QOqqCD10.jpg</image><title>IMF revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - International Monetary Fund (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini menjadi 2,9%. Sebelumnya IMF meramal ekonomi global hanya tumbuh 2,7% tahun ini.
Revisi ke atas ini seiring dibukanya kembali perekonomian Tiongkok.
BACA JUGA:Peringatan IMF: Pertumbuhan Ekonomi Global Turun Jadi 2,7% Tahun Ini

&quot;Penyebaran COVID-19 yang cepat di Tiongkok menghambat pertumbuhan pada tahun 2022, tetapi pembukaan kembali baru-baru ini telah membuka jalan bagi pemulihan yang lebih cepat dari perkiraan,&quot; ungkap Chief Economist and Director Research Department Pierre-Olivier Gourinchas dilansir dari Antara, Selasa (31/1/2023).
Adapun pertumbuhan global diperkirakan mencapai 3,4% pada tahun 2022, sementara di tahun 2024 mencapai 3,1%.
BACA JUGA:Waspada! Jokowi Sebut Sudah 47 Negara Jadi Pasien IMF

Di sisi lain, inflasi global diperkirakan turun dari 8,8% pada 2022 menjadi 6,6% pada 2023 dan 4,3% pada 2024, masih di atas tingkat sebelum pandemi yakni pada 2017&amp;ndash;2019 di sekitar 3,5%.
Dia mengungkapkan kenaikan suku bunga bank sentral untuk melawan inflasi dan perang Rusia di Ukraina terus membebani aktivitas ekonomi.
Dari perkiraan pertumbuhan ekonomi dan inflasi tersebut, keseimbangan risiko tetap mengarah ke risiko penurunan, meski telah termoderasi sejak proyeksi pada Oktober 2022.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8xNC8xLzE1Njg4MS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Risiko penurunan yakni kemungkinan didorong oleh risiko kesehatan  parah di Tiongkok yang dapat menghambat pemulihan, kemungkinan  peningkatan perang Rusia di Ukraina, dan pembiayaan global yang lebih  ketat bisa memperburuk kesulitan utang.
Selain itu, lanjut Pierre, pasar keuangan juga bisa tiba-tiba berubah  sebagai tanggapan atas berita inflasi yang merugikan, sementara  fragmentasi geopolitik lebih lanjut dapat menghambat kemajuan ekonomi.
Kendati begitu, terdapat kemungkinan kenaikan dari dorongan yang  lebih kuat berkat permintaan yang terpendam di banyak negara atau  penurunan inflasi yang lebih cepat.
&quot;Di sebagian besar perekonomian, di tengah krisis biaya hidup,  prioritas tetap mencapai disinflasi berkelanjutan. Dengan kondisi  moneter yang lebih ketat dan pertumbuhan yang lebih rendah yang  berpotensi mempengaruhi stabilitas keuangan dan utang, diperlukan  perangkat makroprudensial dan memperkuat kerangka restrukturisasi  utang,&quot; tuturnya.
Lebih lanjut, kata dia, mempercepat vaksinasi COVID-19 di Tiongkok  akan melindungi pemulihan. Dukungan fiskal juga harus lebih baik  ditargetkan pada mereka yang paling terkena dampak kenaikan harga pangan  dan energi, sehingga langkah-langkah bantuan fiskal yang luas harus  ditarik.
Kerja sama multilateral yang lebih kuat pun sangat penting untuk  mempertahankan keuntungan dari sistem multilateral berbasis aturan dan  untuk memitigasi perubahan iklim dengan membatasi emisi dan meningkatkan  investasi hijau.</description><content:encoded>JAKARTA - International Monetary Fund (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini menjadi 2,9%. Sebelumnya IMF meramal ekonomi global hanya tumbuh 2,7% tahun ini.
Revisi ke atas ini seiring dibukanya kembali perekonomian Tiongkok.
BACA JUGA:Peringatan IMF: Pertumbuhan Ekonomi Global Turun Jadi 2,7% Tahun Ini

&quot;Penyebaran COVID-19 yang cepat di Tiongkok menghambat pertumbuhan pada tahun 2022, tetapi pembukaan kembali baru-baru ini telah membuka jalan bagi pemulihan yang lebih cepat dari perkiraan,&quot; ungkap Chief Economist and Director Research Department Pierre-Olivier Gourinchas dilansir dari Antara, Selasa (31/1/2023).
Adapun pertumbuhan global diperkirakan mencapai 3,4% pada tahun 2022, sementara di tahun 2024 mencapai 3,1%.
BACA JUGA:Waspada! Jokowi Sebut Sudah 47 Negara Jadi Pasien IMF

Di sisi lain, inflasi global diperkirakan turun dari 8,8% pada 2022 menjadi 6,6% pada 2023 dan 4,3% pada 2024, masih di atas tingkat sebelum pandemi yakni pada 2017&amp;ndash;2019 di sekitar 3,5%.
Dia mengungkapkan kenaikan suku bunga bank sentral untuk melawan inflasi dan perang Rusia di Ukraina terus membebani aktivitas ekonomi.
Dari perkiraan pertumbuhan ekonomi dan inflasi tersebut, keseimbangan risiko tetap mengarah ke risiko penurunan, meski telah termoderasi sejak proyeksi pada Oktober 2022.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8xNC8xLzE1Njg4MS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Risiko penurunan yakni kemungkinan didorong oleh risiko kesehatan  parah di Tiongkok yang dapat menghambat pemulihan, kemungkinan  peningkatan perang Rusia di Ukraina, dan pembiayaan global yang lebih  ketat bisa memperburuk kesulitan utang.
Selain itu, lanjut Pierre, pasar keuangan juga bisa tiba-tiba berubah  sebagai tanggapan atas berita inflasi yang merugikan, sementara  fragmentasi geopolitik lebih lanjut dapat menghambat kemajuan ekonomi.
Kendati begitu, terdapat kemungkinan kenaikan dari dorongan yang  lebih kuat berkat permintaan yang terpendam di banyak negara atau  penurunan inflasi yang lebih cepat.
&quot;Di sebagian besar perekonomian, di tengah krisis biaya hidup,  prioritas tetap mencapai disinflasi berkelanjutan. Dengan kondisi  moneter yang lebih ketat dan pertumbuhan yang lebih rendah yang  berpotensi mempengaruhi stabilitas keuangan dan utang, diperlukan  perangkat makroprudensial dan memperkuat kerangka restrukturisasi  utang,&quot; tuturnya.
Lebih lanjut, kata dia, mempercepat vaksinasi COVID-19 di Tiongkok  akan melindungi pemulihan. Dukungan fiskal juga harus lebih baik  ditargetkan pada mereka yang paling terkena dampak kenaikan harga pangan  dan energi, sehingga langkah-langkah bantuan fiskal yang luas harus  ditarik.
Kerja sama multilateral yang lebih kuat pun sangat penting untuk  mempertahankan keuntungan dari sistem multilateral berbasis aturan dan  untuk memitigasi perubahan iklim dengan membatasi emisi dan meningkatkan  investasi hijau.</content:encoded></item></channel></rss>
