<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Inflasi Januari 5,28%, Suku Bunga Acuan BI Naik Lagi?</title><description>Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan di Januari 2023 menyentuh angka 5,28%.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/02/02/320/2757796/inflasi-januari-5-28-suku-bunga-acuan-bi-naik-lagi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/02/02/320/2757796/inflasi-januari-5-28-suku-bunga-acuan-bi-naik-lagi"/><item><title>Inflasi Januari 5,28%, Suku Bunga Acuan BI Naik Lagi?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/02/02/320/2757796/inflasi-januari-5-28-suku-bunga-acuan-bi-naik-lagi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/02/02/320/2757796/inflasi-januari-5-28-suku-bunga-acuan-bi-naik-lagi</guid><pubDate>Kamis 02 Februari 2023 14:22 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/02/02/320/2757796/inflasi-januari-5-28-suku-bunga-acuan-bi-naik-lagi-Hu5pDSET2E.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Inflasi Januari 5,28% (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/02/02/320/2757796/inflasi-januari-5-28-suku-bunga-acuan-bi-naik-lagi-Hu5pDSET2E.jpg</image><title>Inflasi Januari 5,28% (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan di Januari 2023 menyentuh angka 5,28%. Laju inflasi yang tinggi ini akan mempengaruhi keputusan Bank Sentral dalam menetapkan suku bunga acuan.
Namun, Wakil Direktur INDEF Eko Listiyanto menilai jika tidak ada guncangan yang luar biasa ke depan, maka suku bunga Bank Indonesia (BI) sudah bisa ditahan.
BACA JUGA:Inflasi Januari 5,28%, Sri Mulyani Cs Diminta Waspada

&quot;Kenapa? Karena, pertama dari sisi tren inflasi, inflasinya sekarang 5,28%, sementara suku bunga sudah di atas 5,5%. Artinya, tidak ada negative interest rate, itu bunga acuan, bunga di perbankan lebih tinggi lagi,&quot; ujar Eko kepada MNC Portal di Jakarta, Kamis (2/2/2023).
Hal ini sudah mensinyalkan bahwa sebenarnya suku bunga BI tidak perlu dinaikkan lagi. Yang kedua, faktor Rupiah, karena Rupiah di triwulan I-2023 ini akan cenderung stabil.
BACA JUGA:Kendalikan Inflasi, BPS Minta Jaga Stok dan Distribusi Pangan

&quot;Kecuali kalau ada hal-hal luar biasa yang tidak terduga, misalkan perang Rusia-Ukraina memasuki eskalasi babak baru, kalau sekarang orang-orang sudah tahu dan paham kalau situasi memanas, sudah beda dibandingkan dengan tahun lalu,&quot; ungkap Eko.
Jika Rupiah sudah menyentuh Rp15.000 per dolar Amerika Serikat (AS), Eko menilai sudah tidak ada urgensi untuk menaikkan suku bunga lagi. Ketiga, jika dilihat, inflasi di AS juga sudah masuk tren menurun, di mana mereka menaikkan suku bunga tetapi sudah tidak seagresif sebelumnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMi8wMS80LzE2MTkxNC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Jadi kalau sudah tidak agresif, kalau mereka naiknya cuma 25 basis  poin (bps), tidak perlu kita imbangi. Memang juga akan tergantung pada  strategi negara lain, terutama AS seperti apa, terus juga kita harus  tahu bahwa kenaikan suku bunga itu forward looking, jadi mengarahkan  sasaran inflasi ke depan sebetulnya. Jadi kalau sudah 5,75% suku  bunganya dan inflasinya rendah, jangan terlalu agresif,&quot; terang Eko.
Senada dengan Eko, Ekonom LPEM FEB Universitas Indonesia (UI), Teuku  Riefky mengatakan bahwa BI perlu melanjutkan koordinasi yang erat dengan  TPIP dan TPID. &quot;Untuk (kenaikan) suku bunga sejauh ini nampaknya masih  belum diperlukan,&quot; ucap Riefky.
Namun, Ekonom sekaligus Direktur CELIOS Bhima Yudhistira menilai  bahwa BI masih perlu untuk menaikkan suku bunga menjelang lebaran. &quot;BI  sebaiknya menaikkan suku bunga 25-50 bps lagi, mengingat tekanan inflasi  masih cukup tinggi terutama jelang Ramadhan di Maret nanti,&quot; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan di Januari 2023 menyentuh angka 5,28%. Laju inflasi yang tinggi ini akan mempengaruhi keputusan Bank Sentral dalam menetapkan suku bunga acuan.
Namun, Wakil Direktur INDEF Eko Listiyanto menilai jika tidak ada guncangan yang luar biasa ke depan, maka suku bunga Bank Indonesia (BI) sudah bisa ditahan.
BACA JUGA:Inflasi Januari 5,28%, Sri Mulyani Cs Diminta Waspada

&quot;Kenapa? Karena, pertama dari sisi tren inflasi, inflasinya sekarang 5,28%, sementara suku bunga sudah di atas 5,5%. Artinya, tidak ada negative interest rate, itu bunga acuan, bunga di perbankan lebih tinggi lagi,&quot; ujar Eko kepada MNC Portal di Jakarta, Kamis (2/2/2023).
Hal ini sudah mensinyalkan bahwa sebenarnya suku bunga BI tidak perlu dinaikkan lagi. Yang kedua, faktor Rupiah, karena Rupiah di triwulan I-2023 ini akan cenderung stabil.
BACA JUGA:Kendalikan Inflasi, BPS Minta Jaga Stok dan Distribusi Pangan

&quot;Kecuali kalau ada hal-hal luar biasa yang tidak terduga, misalkan perang Rusia-Ukraina memasuki eskalasi babak baru, kalau sekarang orang-orang sudah tahu dan paham kalau situasi memanas, sudah beda dibandingkan dengan tahun lalu,&quot; ungkap Eko.
Jika Rupiah sudah menyentuh Rp15.000 per dolar Amerika Serikat (AS), Eko menilai sudah tidak ada urgensi untuk menaikkan suku bunga lagi. Ketiga, jika dilihat, inflasi di AS juga sudah masuk tren menurun, di mana mereka menaikkan suku bunga tetapi sudah tidak seagresif sebelumnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMi8wMS80LzE2MTkxNC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Jadi kalau sudah tidak agresif, kalau mereka naiknya cuma 25 basis  poin (bps), tidak perlu kita imbangi. Memang juga akan tergantung pada  strategi negara lain, terutama AS seperti apa, terus juga kita harus  tahu bahwa kenaikan suku bunga itu forward looking, jadi mengarahkan  sasaran inflasi ke depan sebetulnya. Jadi kalau sudah 5,75% suku  bunganya dan inflasinya rendah, jangan terlalu agresif,&quot; terang Eko.
Senada dengan Eko, Ekonom LPEM FEB Universitas Indonesia (UI), Teuku  Riefky mengatakan bahwa BI perlu melanjutkan koordinasi yang erat dengan  TPIP dan TPID. &quot;Untuk (kenaikan) suku bunga sejauh ini nampaknya masih  belum diperlukan,&quot; ucap Riefky.
Namun, Ekonom sekaligus Direktur CELIOS Bhima Yudhistira menilai  bahwa BI masih perlu untuk menaikkan suku bunga menjelang lebaran. &quot;BI  sebaiknya menaikkan suku bunga 25-50 bps lagi, mengingat tekanan inflasi  masih cukup tinggi terutama jelang Ramadhan di Maret nanti,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
