<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sri Mulyani Waspada Ekonomi RI Bisa Gelap Gulita</title><description>Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui kondisi dunia sedang tidak baik-baik saja.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/02/03/320/2758388/sri-mulyani-waspada-ekonomi-ri-bisa-gelap-gulita</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/02/03/320/2758388/sri-mulyani-waspada-ekonomi-ri-bisa-gelap-gulita"/><item><title>Sri Mulyani Waspada Ekonomi RI Bisa Gelap Gulita</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/02/03/320/2758388/sri-mulyani-waspada-ekonomi-ri-bisa-gelap-gulita</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/02/03/320/2758388/sri-mulyani-waspada-ekonomi-ri-bisa-gelap-gulita</guid><pubDate>Jum'at 03 Februari 2023 12:41 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/02/03/320/2758388/sri-mulyani-waspada-ekonomi-ri-bisa-gelap-gulita-5e2lRUrF3q.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sri Mulyani waspadai ekonomi RI bisa gelap gulita (Foto: MPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/02/03/320/2758388/sri-mulyani-waspada-ekonomi-ri-bisa-gelap-gulita-5e2lRUrF3q.jpg</image><title>Sri Mulyani waspadai ekonomi RI bisa gelap gulita (Foto: MPI)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui kondisi dunia sedang tidak baik-baik saja. Namun, dia bersyukur bahwa Indonesia masih dalam kondisi baik.
&quot;We are in a good shape now. Kalau kita tidak bagus dalam merespon, kita juga bisa ikut dalam (situasi) gelap gulita,&quot; ujar Sri dalam kuliah umum secara virtual di Jakarta, Jumat (3/2/2023).
BACA JUGA:Sri Mulyani Sebut RI Bisa Jadi Perekat Dunia pada Situasi Sulit, Ini Buktinya

Dia mengatakan, APBN di 2023 dari sisi belanja tetap dijaga. Prioritas nasional tetap, yaitu tetap mendukung pemulihan ekonomi.
&quot;Bedanya kalau dulu kita mengeluarkan belanja kesehatan untuk pandemi bisa sampai Rp300 triliun, sekarang Rp176 triliun. Sisanya dipakai untuk prioritas yang lain,&quot; ungkap Sri.
BACA JUGA:Pastikan Uang Pajak Kembali ke Masyarakat, Sri Mulyani: Ada Subsidi LPG, Listrik hingga BBM

Dia menyebut ini tidak berarti bahwa kesehatan tidak penting, karena reformasi sektor kesehatan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) tetap didukung secara penuh, baik itu memperbaiki mulai dari Posyandu, Puskesmas, rumah sakit di daerah, BPJS Kesehatan, dan menangani masalah yang non COVID-19 seperti stunting, tuberculosis (TBC), diabetes, dan lainnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8yNy80LzE2MTY0OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Semuanya sekarang menjadi persoalan yang harus kita waspadai.  Pendidikan juga (anggarannya) Rp612 triliun, ini tertinggi. Saya selalu  mengatakan ketika saya menjadi Menkeu tahun 2006, APBN-nya enggak sampai  Rp600 triliun, tapi tahun ini pendidikan saja Rp612 triliun,&quot; tambah  Sri.
Ini menggambarkan niat pemerintah untuk terus menjaga dan membangun  pondasi Indonesia. Kalau Indonesia ingin menjadi negara high-income,  sumber daya manusia (SDM) adalah aspek yang paling penting.
&quot;Kita tidak hanya dalam bentuk belanja dari sisi Kementerian/Lembaga  (K/L), Kemendikbud dan Kemenag yang mengelola sektor pendidikan, tapi  sekarang kita juga punya dana abadi LPDP yang sudah mencapai lebih dari  Rp130 triliun,&quot; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui kondisi dunia sedang tidak baik-baik saja. Namun, dia bersyukur bahwa Indonesia masih dalam kondisi baik.
&quot;We are in a good shape now. Kalau kita tidak bagus dalam merespon, kita juga bisa ikut dalam (situasi) gelap gulita,&quot; ujar Sri dalam kuliah umum secara virtual di Jakarta, Jumat (3/2/2023).
BACA JUGA:Sri Mulyani Sebut RI Bisa Jadi Perekat Dunia pada Situasi Sulit, Ini Buktinya

Dia mengatakan, APBN di 2023 dari sisi belanja tetap dijaga. Prioritas nasional tetap, yaitu tetap mendukung pemulihan ekonomi.
&quot;Bedanya kalau dulu kita mengeluarkan belanja kesehatan untuk pandemi bisa sampai Rp300 triliun, sekarang Rp176 triliun. Sisanya dipakai untuk prioritas yang lain,&quot; ungkap Sri.
BACA JUGA:Pastikan Uang Pajak Kembali ke Masyarakat, Sri Mulyani: Ada Subsidi LPG, Listrik hingga BBM

Dia menyebut ini tidak berarti bahwa kesehatan tidak penting, karena reformasi sektor kesehatan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) tetap didukung secara penuh, baik itu memperbaiki mulai dari Posyandu, Puskesmas, rumah sakit di daerah, BPJS Kesehatan, dan menangani masalah yang non COVID-19 seperti stunting, tuberculosis (TBC), diabetes, dan lainnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8yNy80LzE2MTY0OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Semuanya sekarang menjadi persoalan yang harus kita waspadai.  Pendidikan juga (anggarannya) Rp612 triliun, ini tertinggi. Saya selalu  mengatakan ketika saya menjadi Menkeu tahun 2006, APBN-nya enggak sampai  Rp600 triliun, tapi tahun ini pendidikan saja Rp612 triliun,&quot; tambah  Sri.
Ini menggambarkan niat pemerintah untuk terus menjaga dan membangun  pondasi Indonesia. Kalau Indonesia ingin menjadi negara high-income,  sumber daya manusia (SDM) adalah aspek yang paling penting.
&quot;Kita tidak hanya dalam bentuk belanja dari sisi Kementerian/Lembaga  (K/L), Kemendikbud dan Kemenag yang mengelola sektor pendidikan, tapi  sekarang kita juga punya dana abadi LPDP yang sudah mencapai lebih dari  Rp130 triliun,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
