<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>RI-Malaysia Bahas Pengembangan Industri Sawit, Menko Airlangga: Perkuat Kerjasama Atasi Diskriminasi</title><description>Indonesia dan Malaysia membahas pengembangan industri sawit.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/02/10/320/2762373/ri-malaysia-bahas-pengembangan-industri-sawit-menko-airlangga-perkuat-kerjasama-atasi-diskriminasi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/02/10/320/2762373/ri-malaysia-bahas-pengembangan-industri-sawit-menko-airlangga-perkuat-kerjasama-atasi-diskriminasi"/><item><title>RI-Malaysia Bahas Pengembangan Industri Sawit, Menko Airlangga: Perkuat Kerjasama Atasi Diskriminasi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/02/10/320/2762373/ri-malaysia-bahas-pengembangan-industri-sawit-menko-airlangga-perkuat-kerjasama-atasi-diskriminasi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/02/10/320/2762373/ri-malaysia-bahas-pengembangan-industri-sawit-menko-airlangga-perkuat-kerjasama-atasi-diskriminasi</guid><pubDate>Jum'at 10 Februari 2023 06:59 WIB</pubDate><dc:creator>Hana Wahyuti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/02/10/320/2762373/ri-malaysia-bahas-pengembangan-industri-sawit-menko-airlangga-perkuat-kerjasama-atasi-diskriminasi-fp0EjZBSKL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">RI-Malaysia tingkatkan kerjasama kembangkan sawit (Foto: Kemenko Perekonomian)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/02/10/320/2762373/ri-malaysia-bahas-pengembangan-industri-sawit-menko-airlangga-perkuat-kerjasama-atasi-diskriminasi-fp0EjZBSKL.jpg</image><title>RI-Malaysia tingkatkan kerjasama kembangkan sawit (Foto: Kemenko Perekonomian)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Indonesia dan Malaysia membahas pengembangan industri kelapa sawit. Kedua negara sepakat mendorong industri minyak sawit yakni fokus pada pengembangan petani kecil dengan meningkatkan penyerapan produk di dalam negeri serta mendorong percepatan hilirisasi.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, salah satu upayanya adalah penguatan aspek keberlanjutan kelapa sawit melalui skema sertifikasi nasional yakni ISPO dan MSPO juga perlu terus dilakukan, terlebih saat ini Sekretariat CPOPC juga telah mengeluarkan Global Framework Principles for Sustainable Palm Oil (GFP-SPO).
BACA JUGA:Berapa Harga Kelapa Sawit per Kilo Sekarang? 


Pemangku kepentingan domestik juga perlu untuk merumuskan strategi dalam mempertahankan harga remunerasi minyak sawit, mengingat sebagai kontributor pasokan minyak sawit global terbesar di dunia, Indonesia dan Malaysia diharapkan dapat memperoleh harga yang menguntungkan bagi berbagai pihak. Serupa dengan penetapan harga, perluasan akses pasar dengan tetap memperhatikan prinsip selektif juga penting untuk dilakukan guna mengoptimalkan keuntungan tersebut.

BACA JUGA:Harga Minyak Kelapa Sawit Turun Jadi USD858 di Januari 2023 


Usai diskusi bersama pelaku industri tersebut, Menko Airlangga memberikan keterangan pers mengenai pertemuan bilateral dengan Wakil Perdana Menteri dan Menteri Perkebunan dan Komoditas Malaysia YAB Dato' Sri Haji Fadillah bin Haji Yusof yang telah dilakukan pada awal kegiatan. Pembahasan yang diangkat yakni seputar masalah industri kelapa sawit, serta usulan pendekatan bersama dan kemungkinan tindakan terkoordinasi.
&amp;ldquo;Kami sepakat untuk terus melindungi sektor kelapa sawit dengan memperkuat upaya dan kerjasama dalam mengatasi diskriminasi terhadap kelapa sawit. Menanggapi meningkatnya kebijakan sepihak yang mempengaruhi kelapa sawit, pertemuan ini sepakat untuk memanfaatkan keterlibatan dengan negara-negara pengimpor utama melalui dialog kebijakan,&amp;rdquo; ungkap Menko Airlangga, Jumat (10/2/2023).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8zMC8xLzE2MTc1Mi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Selanjutnya, Menko Airlangga menuturkan bahwa untuk menanggapi  kesepakatan politik tentang proposal Komoditas Bebas Deforestasi Uni  Eropa (UE) telah disepakati akan dilakukan misi bersama ke UE untuk  mengomunikasikan solusi dan konsekuensi dari peraturan tersebut. Usai  misi ke UE, kunjungan juga akan dilakukan ke India untuk mempromosikan  penggunaan minyak sawit menyusul pengakuan ISPO dan MSPO oleh India  melalui inisiatif bersama dengan Indian Palm Oil Sustainability  Framework (IPOS), serta pengenalan GFP-SPO.
Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan Keketuaan CPOPC  untuk tahun 2023 kepada YAB Dato&amp;rsquo; Sri Fadillah bin Hj Yusof serta  membahas strategi perluasan keanggotaan CPOPC dan melihat kemungkinan  Honduras untuk menjadi anggota ketiga CPOPC dalam waktu dekat.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Indonesia dan Malaysia membahas pengembangan industri kelapa sawit. Kedua negara sepakat mendorong industri minyak sawit yakni fokus pada pengembangan petani kecil dengan meningkatkan penyerapan produk di dalam negeri serta mendorong percepatan hilirisasi.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, salah satu upayanya adalah penguatan aspek keberlanjutan kelapa sawit melalui skema sertifikasi nasional yakni ISPO dan MSPO juga perlu terus dilakukan, terlebih saat ini Sekretariat CPOPC juga telah mengeluarkan Global Framework Principles for Sustainable Palm Oil (GFP-SPO).
BACA JUGA:Berapa Harga Kelapa Sawit per Kilo Sekarang? 


Pemangku kepentingan domestik juga perlu untuk merumuskan strategi dalam mempertahankan harga remunerasi minyak sawit, mengingat sebagai kontributor pasokan minyak sawit global terbesar di dunia, Indonesia dan Malaysia diharapkan dapat memperoleh harga yang menguntungkan bagi berbagai pihak. Serupa dengan penetapan harga, perluasan akses pasar dengan tetap memperhatikan prinsip selektif juga penting untuk dilakukan guna mengoptimalkan keuntungan tersebut.

BACA JUGA:Harga Minyak Kelapa Sawit Turun Jadi USD858 di Januari 2023 


Usai diskusi bersama pelaku industri tersebut, Menko Airlangga memberikan keterangan pers mengenai pertemuan bilateral dengan Wakil Perdana Menteri dan Menteri Perkebunan dan Komoditas Malaysia YAB Dato' Sri Haji Fadillah bin Haji Yusof yang telah dilakukan pada awal kegiatan. Pembahasan yang diangkat yakni seputar masalah industri kelapa sawit, serta usulan pendekatan bersama dan kemungkinan tindakan terkoordinasi.
&amp;ldquo;Kami sepakat untuk terus melindungi sektor kelapa sawit dengan memperkuat upaya dan kerjasama dalam mengatasi diskriminasi terhadap kelapa sawit. Menanggapi meningkatnya kebijakan sepihak yang mempengaruhi kelapa sawit, pertemuan ini sepakat untuk memanfaatkan keterlibatan dengan negara-negara pengimpor utama melalui dialog kebijakan,&amp;rdquo; ungkap Menko Airlangga, Jumat (10/2/2023).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8zMC8xLzE2MTc1Mi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Selanjutnya, Menko Airlangga menuturkan bahwa untuk menanggapi  kesepakatan politik tentang proposal Komoditas Bebas Deforestasi Uni  Eropa (UE) telah disepakati akan dilakukan misi bersama ke UE untuk  mengomunikasikan solusi dan konsekuensi dari peraturan tersebut. Usai  misi ke UE, kunjungan juga akan dilakukan ke India untuk mempromosikan  penggunaan minyak sawit menyusul pengakuan ISPO dan MSPO oleh India  melalui inisiatif bersama dengan Indian Palm Oil Sustainability  Framework (IPOS), serta pengenalan GFP-SPO.
Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan Keketuaan CPOPC  untuk tahun 2023 kepada YAB Dato&amp;rsquo; Sri Fadillah bin Hj Yusof serta  membahas strategi perluasan keanggotaan CPOPC dan melihat kemungkinan  Honduras untuk menjadi anggota ketiga CPOPC dalam waktu dekat.</content:encoded></item></channel></rss>
