<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Vale Indonesia (INCO) Raup Laba Rp3,04 Triliun Sepanjang 2022</title><description>PT Vale Indonesia Tbk (INCO) meraup laba bersih sebesar USD200,40 juta atau Rp3,04 triliun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/02/17/278/2766658/vale-indonesia-inco-raup-laba-rp3-04-triliun-sepanjang-2022</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/02/17/278/2766658/vale-indonesia-inco-raup-laba-rp3-04-triliun-sepanjang-2022"/><item><title>Vale Indonesia (INCO) Raup Laba Rp3,04 Triliun Sepanjang 2022</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/02/17/278/2766658/vale-indonesia-inco-raup-laba-rp3-04-triliun-sepanjang-2022</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/02/17/278/2766658/vale-indonesia-inco-raup-laba-rp3-04-triliun-sepanjang-2022</guid><pubDate>Jum'at 17 Februari 2023 11:48 WIB</pubDate><dc:creator>Cahya Puteri Abdi Rabbi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/02/17/278/2766658/vale-indonesia-inco-raup-laba-rp3-04-triliun-sepanjang-2022-Hu6iDVDaqd.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Laba INCO naik (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/02/17/278/2766658/vale-indonesia-inco-raup-laba-rp3-04-triliun-sepanjang-2022-Hu6iDVDaqd.jpg</image><title>Laba INCO naik (Foto: Freepik)</title></images><description>JAKARTA - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) meraup laba bersih sebesar USD200,40 juta atau Rp3,04 triliun. Laba INCO naik 20,87% dari tahun sebelumnya yang sebesar USD165,79 juta.
Sejalan dengan pertumbuhan laba bersih, angka pendapatan INCO juga naik sebesar 23,73% menjadi USD1,17 miliar atau Rp17,92 triliun. Adapun, pada tahun 2021 perseroan mencatatkan pendapatan sebesar USD953,17 juta.
BACA JUGA:Produksi Nikel Vale Indonesia (INCO) Turun Sepanjang 2022

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, penjualan kepada VCL tercatat sebesar USD953,20 juta atau Rp14,48 triliun, serta penjualan kepada SMM tercatat sebesar USD226,24 juta atau Rp3,43 triliun.
CEO INCO Febriany Eddy mengatakan bahwa peningkatan angka penjualan didorong oleh harga realisasi rata-rata yang lebih tinggi. Di mana, harga realisasi rata-rata pengiriman nikel dalam matte yakni sebesar USD19.348 per ton, lebih tinggi dari level tahun 2021 sebesar USD14.309 per ton.
BACA JUGA:Vale Indonesia (INCO) Habiskan USD2,91 Juta untuk Eksplorasi

&amp;ldquo;Harga yang lebih tinggi ini tentunya membawa dampak positif bagi kinerja keuangan kami,&amp;rdquo; kata Febriany dalam keterangan resminya, Jumat (17/2/2023).
Dari sisi pengeluaran, beban pokok pendapatan INCO tercatat naik menjadi USD865,88 juta atau Rp13,15 triliun. Adapun, beban usaha tercatat sebesar USD19,73 juta dan beban lainnya sebesar USD23,09 juta.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8wMi80LzE1OTk3OC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;ldquo;Penyebab utama kenaikan beban pokok pendapatan adalah harga bahan bakar dan batu bara yang lebih tinggi,&amp;rdquo; imbuh Febriany.
Sementara itu, produksi INCO sepanjang tahun lalu tercatat sebesar  60.090 metrik ton nikel dalam matte. Angka itu lebih renda 8% dari  produksi tahun 2021, utamanya disebabkan oleh adanya pelaksanaan proyek  pembangunan kembali Tanur 4.
Febriany mengatakan, dengan selesainya proyek tersebut, perseroan  optimistis dapat mencapai volume produksi yang lebih tinggi pada tahun  2023 ini. Sementara di saat yang bersamaan, perseroan juga berupaya  meningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya operasi.
Dalam melakukan hal tersebut, INCO berkomitmen untuk tidak akan  mengkompromikan nilai-nilai utama perseroan yakni, keselamatan jiwa  merupakan hal terpenting dan menghargai kelestarian bumi serta  komunitas.
&amp;ldquo;Terlepas dari produksi yang lebih rendah, saya sangat mengapresiasi kerja keras seluruh karyawan di perusahaan kami,&amp;rdquo; ujar dia.
Lebih lanjut, konsumsi high sulphur fuel oil (HSFO) perseroan pada  tahun 2022 meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2021, mengimbangi  konsumsi batu bara yang lebih rendah. Hal itu dikarenakan INCO telah  memutuskan untuk menggunakan HSFO sebagai sumber energi operasional  perseroan sejak September 2022, sebagai upaya menyikapi kenaikan harga  batu bara yang cukup tajam.
Sementara itu, konsumsi diesel pada tahun 2022 mengalami penurunan  bila dibandingkan dengan tahun 2021. Dibandingkan dengan tahun 2021,  harga rata-rata HSFO, diesel maupun batu bara pada tahun 2022 meningkat  signifikan masing-masing sebesar 44%, 74% dan 136%.</description><content:encoded>JAKARTA - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) meraup laba bersih sebesar USD200,40 juta atau Rp3,04 triliun. Laba INCO naik 20,87% dari tahun sebelumnya yang sebesar USD165,79 juta.
Sejalan dengan pertumbuhan laba bersih, angka pendapatan INCO juga naik sebesar 23,73% menjadi USD1,17 miliar atau Rp17,92 triliun. Adapun, pada tahun 2021 perseroan mencatatkan pendapatan sebesar USD953,17 juta.
BACA JUGA:Produksi Nikel Vale Indonesia (INCO) Turun Sepanjang 2022

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, penjualan kepada VCL tercatat sebesar USD953,20 juta atau Rp14,48 triliun, serta penjualan kepada SMM tercatat sebesar USD226,24 juta atau Rp3,43 triliun.
CEO INCO Febriany Eddy mengatakan bahwa peningkatan angka penjualan didorong oleh harga realisasi rata-rata yang lebih tinggi. Di mana, harga realisasi rata-rata pengiriman nikel dalam matte yakni sebesar USD19.348 per ton, lebih tinggi dari level tahun 2021 sebesar USD14.309 per ton.
BACA JUGA:Vale Indonesia (INCO) Habiskan USD2,91 Juta untuk Eksplorasi

&amp;ldquo;Harga yang lebih tinggi ini tentunya membawa dampak positif bagi kinerja keuangan kami,&amp;rdquo; kata Febriany dalam keterangan resminya, Jumat (17/2/2023).
Dari sisi pengeluaran, beban pokok pendapatan INCO tercatat naik menjadi USD865,88 juta atau Rp13,15 triliun. Adapun, beban usaha tercatat sebesar USD19,73 juta dan beban lainnya sebesar USD23,09 juta.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8wMi80LzE1OTk3OC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;ldquo;Penyebab utama kenaikan beban pokok pendapatan adalah harga bahan bakar dan batu bara yang lebih tinggi,&amp;rdquo; imbuh Febriany.
Sementara itu, produksi INCO sepanjang tahun lalu tercatat sebesar  60.090 metrik ton nikel dalam matte. Angka itu lebih renda 8% dari  produksi tahun 2021, utamanya disebabkan oleh adanya pelaksanaan proyek  pembangunan kembali Tanur 4.
Febriany mengatakan, dengan selesainya proyek tersebut, perseroan  optimistis dapat mencapai volume produksi yang lebih tinggi pada tahun  2023 ini. Sementara di saat yang bersamaan, perseroan juga berupaya  meningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya operasi.
Dalam melakukan hal tersebut, INCO berkomitmen untuk tidak akan  mengkompromikan nilai-nilai utama perseroan yakni, keselamatan jiwa  merupakan hal terpenting dan menghargai kelestarian bumi serta  komunitas.
&amp;ldquo;Terlepas dari produksi yang lebih rendah, saya sangat mengapresiasi kerja keras seluruh karyawan di perusahaan kami,&amp;rdquo; ujar dia.
Lebih lanjut, konsumsi high sulphur fuel oil (HSFO) perseroan pada  tahun 2022 meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2021, mengimbangi  konsumsi batu bara yang lebih rendah. Hal itu dikarenakan INCO telah  memutuskan untuk menggunakan HSFO sebagai sumber energi operasional  perseroan sejak September 2022, sebagai upaya menyikapi kenaikan harga  batu bara yang cukup tajam.
Sementara itu, konsumsi diesel pada tahun 2022 mengalami penurunan  bila dibandingkan dengan tahun 2021. Dibandingkan dengan tahun 2021,  harga rata-rata HSFO, diesel maupun batu bara pada tahun 2022 meningkat  signifikan masing-masing sebesar 44%, 74% dan 136%.</content:encoded></item></channel></rss>
