<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menguak Alasan Kenapa di Keraton Solo Ada Kebo Bule?</title><description>Menguak alasan kenapa di Keraton Solo ada kebo bule menarik untuk diulas.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/03/14/470/2780969/menguak-alasan-kenapa-di-keraton-solo-ada-kebo-bule</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/03/14/470/2780969/menguak-alasan-kenapa-di-keraton-solo-ada-kebo-bule"/><item><title>Menguak Alasan Kenapa di Keraton Solo Ada Kebo Bule?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/03/14/470/2780969/menguak-alasan-kenapa-di-keraton-solo-ada-kebo-bule</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/03/14/470/2780969/menguak-alasan-kenapa-di-keraton-solo-ada-kebo-bule</guid><pubDate>Selasa 14 Maret 2023 15:41 WIB</pubDate><dc:creator>Mutiara Oktaviana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/03/14/470/2780969/menguak-alasan-kenapa-di-keraton-solo-ada-kebo-bule-ovhzlaUKvk.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Menguak alasan kenapa di keraton solo ada kebo bule (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/03/14/470/2780969/menguak-alasan-kenapa-di-keraton-solo-ada-kebo-bule-ovhzlaUKvk.jpeg</image><title>Menguak alasan kenapa di keraton solo ada kebo bule (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Menguak alasan kenapa di Keraton Solo ada kebo bule menarik untuk diulas. Surakarta dikenal memiliki tradisi perayaan malam tahun baru Hijriah atau malam 1 Suro yang khas.
Biasanya kegiatan yang dihelat pada perayaan ini, bentuknya seperti kirab benda pusaka yang mengarak beberapa ekor kerbau milik Keraton Surakarta.

BACA JUGA:
 Banyak Kesamaan dengan Keraton Solo, Yuk Kepoin Cerita Budaya Keraton Yogyakarta 


Kerbau milik keraton ini biasa dikenal dengan Kebo Bule, di mana kerbau ini memiliki ciri khas berkulit putih kemerahan.
Asal-usul Kebo Bule di Keraton Surakarta dapat ditilik dari masa Pakubuwono II sekitar abad ke-18. Kebo Bule ini merupakan pemberian dari Bupati Ponorogo, Kyai Hasan Besari Tegalsari, sebagai hadiah kepada kerajaan.

BACA JUGA:
Mengenal Kerbau Bule Keraton Solo, Dipercaya Jadi Pengawal Pusaka Kiai Slamet 


Bagi masyarakat sekitar dengan hadirnya Kebo Bule pada momen malam 1 Suro menjadikan perayaan tersebut menjadi semakin lebih hikmat. Pasalnya Kebo Bule ini dianggap membawa berkah dan juga keselamatan dari Yang Maha Kuasa.
Banyak di antara para warga yang justru berusaha memegang tubuh Kebo Bule. Bahkan, hingga warga berbondong-bondong memungut kotoran Kebo Bule yang terjatuh di jalan saat ritual mubeng beteng.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMi8yNy8yMC8xNTk1OTIvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Di mana kotoran tersebut dipercaya memiliki khasiat, mulai dari menyembuhkan penyakit hingga menyuburkan tanaman.
Adanya kepercayaan masyarakat akan kekuatan yang dimiliki oleh Kebo  Bule ini, kerap dilekatkan dengan nama Kyai Slamet yang memiliki akar  sejarah yang panjang.
Melansir situs resmi Pemerintah Kota Surakarta pada Rabu (14/3/2023),  nama Kyai Slamet sendiri sebenarnya merupakan nama salah satu benda  pusaka Keraton Kasunanan yang berbentuk tombak.
Asal-usul Kebo Bule di Keraton Surakarta dapat ditilik dari masa  Pakubuwono II sekitar abad ke-18. Kebo Bule ini merupakan pemberian dari  Bupati Ponorogo, Kyai Hasan Besari Tegalsari, sebagai hadiah kepada  kerajaan.
Momennya kala itu Pakubuwono II berhasil merebut kembali Keraton  Kartasura dari tangan pemberontak Pecinan, yang berlanjut dengan  hijrahnya kerajaan dari Kartasura ke Sala pada 1745. Pemberian kerbau  itu dimaksudkan sebagai pengawal tombak Kyai Slamet.
Seakan-akan wujud dari Kebo Bule ini sangat ditunggu-tunggu  masyarakat, di mana ratusan orang tumpah di jalan-jalan yang akan  dilalui kirab. Hal ini pun membuat masyarakat meyakini akan mendapatkan  berkah jika menyaksikan kirab ini secara langsung.
Kebo Bule biasanya menjadi tokoh utama dalam prosesi kirab. Nantinya  kawanan kerbau tersebut akan berjalan mengiringi benda pusaka tombak  Kyai Slamet yang juga diarak. Istilahnya, Kebo Bule menjadi pengawal  dari benda pusaka.</description><content:encoded>JAKARTA - Menguak alasan kenapa di Keraton Solo ada kebo bule menarik untuk diulas. Surakarta dikenal memiliki tradisi perayaan malam tahun baru Hijriah atau malam 1 Suro yang khas.
Biasanya kegiatan yang dihelat pada perayaan ini, bentuknya seperti kirab benda pusaka yang mengarak beberapa ekor kerbau milik Keraton Surakarta.

BACA JUGA:
 Banyak Kesamaan dengan Keraton Solo, Yuk Kepoin Cerita Budaya Keraton Yogyakarta 


Kerbau milik keraton ini biasa dikenal dengan Kebo Bule, di mana kerbau ini memiliki ciri khas berkulit putih kemerahan.
Asal-usul Kebo Bule di Keraton Surakarta dapat ditilik dari masa Pakubuwono II sekitar abad ke-18. Kebo Bule ini merupakan pemberian dari Bupati Ponorogo, Kyai Hasan Besari Tegalsari, sebagai hadiah kepada kerajaan.

BACA JUGA:
Mengenal Kerbau Bule Keraton Solo, Dipercaya Jadi Pengawal Pusaka Kiai Slamet 


Bagi masyarakat sekitar dengan hadirnya Kebo Bule pada momen malam 1 Suro menjadikan perayaan tersebut menjadi semakin lebih hikmat. Pasalnya Kebo Bule ini dianggap membawa berkah dan juga keselamatan dari Yang Maha Kuasa.
Banyak di antara para warga yang justru berusaha memegang tubuh Kebo Bule. Bahkan, hingga warga berbondong-bondong memungut kotoran Kebo Bule yang terjatuh di jalan saat ritual mubeng beteng.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMi8yNy8yMC8xNTk1OTIvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Di mana kotoran tersebut dipercaya memiliki khasiat, mulai dari menyembuhkan penyakit hingga menyuburkan tanaman.
Adanya kepercayaan masyarakat akan kekuatan yang dimiliki oleh Kebo  Bule ini, kerap dilekatkan dengan nama Kyai Slamet yang memiliki akar  sejarah yang panjang.
Melansir situs resmi Pemerintah Kota Surakarta pada Rabu (14/3/2023),  nama Kyai Slamet sendiri sebenarnya merupakan nama salah satu benda  pusaka Keraton Kasunanan yang berbentuk tombak.
Asal-usul Kebo Bule di Keraton Surakarta dapat ditilik dari masa  Pakubuwono II sekitar abad ke-18. Kebo Bule ini merupakan pemberian dari  Bupati Ponorogo, Kyai Hasan Besari Tegalsari, sebagai hadiah kepada  kerajaan.
Momennya kala itu Pakubuwono II berhasil merebut kembali Keraton  Kartasura dari tangan pemberontak Pecinan, yang berlanjut dengan  hijrahnya kerajaan dari Kartasura ke Sala pada 1745. Pemberian kerbau  itu dimaksudkan sebagai pengawal tombak Kyai Slamet.
Seakan-akan wujud dari Kebo Bule ini sangat ditunggu-tunggu  masyarakat, di mana ratusan orang tumpah di jalan-jalan yang akan  dilalui kirab. Hal ini pun membuat masyarakat meyakini akan mendapatkan  berkah jika menyaksikan kirab ini secara langsung.
Kebo Bule biasanya menjadi tokoh utama dalam prosesi kirab. Nantinya  kawanan kerbau tersebut akan berjalan mengiringi benda pusaka tombak  Kyai Slamet yang juga diarak. Istilahnya, Kebo Bule menjadi pengawal  dari benda pusaka.</content:encoded></item></channel></rss>
