<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jaga Stabilitas, BI Diminta Tahan Suku Bunga 5,75%</title><description>Bank Indonesia (BI) diminta mempertahankan suku bunga kebijakan pada level 5,75% bulan ini.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/03/16/320/2782066/jaga-stabilitas-bi-diminta-tahan-suku-bunga-5-75</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/03/16/320/2782066/jaga-stabilitas-bi-diminta-tahan-suku-bunga-5-75"/><item><title>Jaga Stabilitas, BI Diminta Tahan Suku Bunga 5,75%</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/03/16/320/2782066/jaga-stabilitas-bi-diminta-tahan-suku-bunga-5-75</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/03/16/320/2782066/jaga-stabilitas-bi-diminta-tahan-suku-bunga-5-75</guid><pubDate>Kamis 16 Maret 2023 10:49 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/03/16/320/2782066/jaga-stabilitas-bi-diminta-tahan-suku-bunga-5-75-KyZ5KF5qL7.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Bank Indonesia. (Foto: BI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/03/16/320/2782066/jaga-stabilitas-bi-diminta-tahan-suku-bunga-5-75-KyZ5KF5qL7.JPG</image><title>Bank Indonesia. (Foto: BI)</title></images><description>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) diminta  mempertahankan suku bunga kebijakan pada level 5,75% bulan ini.

Ekonom LPEM FEB Universitas Indonesia (UI), Teuku Riefky menyebut ini perlu dilakukan demi menjaga stabilitas harga dan nilai tukar sambil melanjutkan langkah-langkah makroprudensial.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Bank Indonesia Diproyeksi Tahan Suku Bunga hingga Akhir 2023

&quot;Kondisi terkini menunjukkan perekonomian Indonesia semakin membaik dengan angka inflasi yang meningkat, namun relatif terkendali,&quot; ujar Riefky di Jakarta, Kamis (16/3/2023).

Di sisi eksternal, Indonesia mencatat arus modal keluar dan Rupiah yang telah kembali stabil setelah serangkaian depresiasi.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Suku Bunga Bank Indonesia Diprediksi Naik ke 6% di 2023

Dibandingkan dengan negara berkembang lainnya, dia menilai kinerja Rupiah masih lebih baik.

&quot;Selain itu, dengan kecenderungan cadangan yang meningkat, Indonesia mungkin memiliki ruang yang cukup untuk meredam guncangan eksternal,&quot; ucap Riefky.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMi8yMi80LzE2MzE1Mi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Menurutnya, perbedaan imbal hasil antara obligasi pemerintah Indonesia dan obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tampaknya cukup untuk dibiarkan seperti saat ini, menyusul kasus Silicon Valley Bank (SVB) baru-baru ini yang dapat mendorong the Fed untuk lebih lunak dalam menetapkan tingkat suku bunga.



&quot;Sayangnya, hal yang kurang menyenangkan baru-baru ini terjadi setelah dunia menyaksikan kebangkrutan SVB,&quot; terang Riefky.



Namun, di sisi lain, hal tersebut dapat mendorong the Fed untuk tidak terlalu agresif dalam memperketat kebijakan moneternya mengingat situasi pasar keuangannya yang masih dalam kondisi tidak stabil.



&quot;Desakan penundaan pengetatan kebijakan moneter AS tersebut dapat menciptakan

momentum aliran dana masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia,&quot; tandas Riefky.</description><content:encoded>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) diminta  mempertahankan suku bunga kebijakan pada level 5,75% bulan ini.

Ekonom LPEM FEB Universitas Indonesia (UI), Teuku Riefky menyebut ini perlu dilakukan demi menjaga stabilitas harga dan nilai tukar sambil melanjutkan langkah-langkah makroprudensial.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Bank Indonesia Diproyeksi Tahan Suku Bunga hingga Akhir 2023

&quot;Kondisi terkini menunjukkan perekonomian Indonesia semakin membaik dengan angka inflasi yang meningkat, namun relatif terkendali,&quot; ujar Riefky di Jakarta, Kamis (16/3/2023).

Di sisi eksternal, Indonesia mencatat arus modal keluar dan Rupiah yang telah kembali stabil setelah serangkaian depresiasi.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Suku Bunga Bank Indonesia Diprediksi Naik ke 6% di 2023

Dibandingkan dengan negara berkembang lainnya, dia menilai kinerja Rupiah masih lebih baik.

&quot;Selain itu, dengan kecenderungan cadangan yang meningkat, Indonesia mungkin memiliki ruang yang cukup untuk meredam guncangan eksternal,&quot; ucap Riefky.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMi8yMi80LzE2MzE1Mi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Menurutnya, perbedaan imbal hasil antara obligasi pemerintah Indonesia dan obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tampaknya cukup untuk dibiarkan seperti saat ini, menyusul kasus Silicon Valley Bank (SVB) baru-baru ini yang dapat mendorong the Fed untuk lebih lunak dalam menetapkan tingkat suku bunga.



&quot;Sayangnya, hal yang kurang menyenangkan baru-baru ini terjadi setelah dunia menyaksikan kebangkrutan SVB,&quot; terang Riefky.



Namun, di sisi lain, hal tersebut dapat mendorong the Fed untuk tidak terlalu agresif dalam memperketat kebijakan moneternya mengingat situasi pasar keuangannya yang masih dalam kondisi tidak stabil.



&quot;Desakan penundaan pengetatan kebijakan moneter AS tersebut dapat menciptakan

momentum aliran dana masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia,&quot; tandas Riefky.</content:encoded></item></channel></rss>
