<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Laba Gunung Raja Paksi (GGRP) Turun 5,5% Jadi Rp896 Miliar di 2022</title><description>PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) mencatatkan laba senilai US58,4 juta atau setara Rp896 miliar pada tahun 2022.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/03/17/278/2782830/laba-gunung-raja-paksi-ggrp-turun-5-5-jadi-rp896-miliar-di-2022</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/03/17/278/2782830/laba-gunung-raja-paksi-ggrp-turun-5-5-jadi-rp896-miliar-di-2022"/><item><title>Laba Gunung Raja Paksi (GGRP) Turun 5,5% Jadi Rp896 Miliar di 2022</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/03/17/278/2782830/laba-gunung-raja-paksi-ggrp-turun-5-5-jadi-rp896-miliar-di-2022</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/03/17/278/2782830/laba-gunung-raja-paksi-ggrp-turun-5-5-jadi-rp896-miliar-di-2022</guid><pubDate>Jum'at 17 Maret 2023 12:14 WIB</pubDate><dc:creator>Mutiara Oktaviana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/03/17/278/2782830/laba-gunung-raja-paksi-ggrp-turun-5-5-jadi-rp896-miliar-di-2022-G84YLqO8t9.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi saham. (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/03/17/278/2782830/laba-gunung-raja-paksi-ggrp-turun-5-5-jadi-rp896-miliar-di-2022-G84YLqO8t9.JPG</image><title>Ilustrasi saham. (Foto: Freepik)</title></images><description>JAKARTA - PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) mencatatkan laba senilai US58,4 juta atau setara Rp896 miliar pada tahun 2022 atau turun 5,5% dibanding tahun 2021 yang terbilang USD61,896 juta. (Kurs: Rp15.351/USD).

Dikutip Harian Neraca, dampaknya, laba per saham dasar dan dilusian turun ke level USD0,0048 per lembar, sedangkan di akhir tahun 2021 berada di level USD0,0051.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

BTN Tebar Dividen Rp609 Miliar, 20% dari Laba

Adapun untuk penjualan bersih perseroan naik 31,06% menjadi USD945,49 juta. Dimana penjualan baja lembaran dan turunannya tumbuh 23,3% menjadi USD656,84 juta.

Lalu penjualan baja batangan dan turunannya melonjak 52,3% menjadi USD288,65 juta.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Delta Dunia Makmur (DOID) Raup Laba Rp450,5 Miliar di 2022

Sayangnya, beban pokok penjualan membengkak 39,1% menjadi USD857,1 juta. Hal ini disebabkan pembelian bahan baku dan barang setengah jadi naik 67,1% menjadi USD565,18 juta.

Kemudian untuk biaya pabrikasi terkerek 43,1% menjadi USD199,2 juta. Dampaknya, laba kotor menyusut 15,1% menjadi USD88,39 juta. Sementara itu, total kewajiban bertambah 20,6% menjadi USD380,1 juta. Pada sisi lain, jumlah ekuitas meningkat 7,03% menjadi USD806,21 juta.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMC8xOS82Ny8xMjM1MTUvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Tahun ini, perseroan melihat peluang pertumbuhan kinerja industri baja. Optimisme tersebut didasari oleh data dari Indonesian Iron and Steel Association (IISIA) yang memberikan angka pertumbuhan sekitar 5% setiap tahunnya.



Selain itu, perseroan juga melihat potensi besar penggunaan baja pada proyek pembangunan infrastruktur dan pengembangan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. GGRP mencatat bahwa kebutuhan baja pada proyek IKN berkisar sekitar 9,2 juta ton. Maka dari itu, GGRP pun berharap pemerintah dapat terus mengawasi penggunaan baja pada proyek IKN agar tetap mengutamakan produk dalam negeri.



Di tahun ini, perseroan akan tetap fokus pada optimalisasi utilisasi mesin light section mill (LSM) yang bisa memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan pendapatan perseroan ke depan. Strategi itu sejalan juga dengan fokus Gunung Raja Paksi yang tertuju pada roadmap Environment Social and Governance (ESG).

&quot;Di mana kami melihat produk baja yang low carbon emission dan menerapkan proses ramah lingkungan akan semakin menjadi kebutuhan baja di masa yang akan datang,&quot; kata Corporate Affairs Director Gunung Raja Paksi, Fedaus.



Diketahui, perseroan memperoleh sustainability linked loan (SLL) sebesar USD32 juta dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI). Kredit bilateral dengan tenor 5 tahun ini akan digunakan untuk mendanai salah satu inisiatif keberlanjutan GGRP, termasuk fasilitas Light Section Mill (LSM). Kerja sama dengan BNI merupakan langkah komitmen pengembangan bisnis yang berbasis ESG oleh GGRP.



Dari bantuan kredit dari BNI tersebut, GGRP dapat meningkatkan kapasitas produksi dan memperbarui mesin LSM. Upaya tersebut akan mendorong efisiensi operasional melalui penurunan konsumsi energi yang pada akhirnya mengurangi emisi karbon dari pabrik perusahaan.</description><content:encoded>JAKARTA - PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) mencatatkan laba senilai US58,4 juta atau setara Rp896 miliar pada tahun 2022 atau turun 5,5% dibanding tahun 2021 yang terbilang USD61,896 juta. (Kurs: Rp15.351/USD).

Dikutip Harian Neraca, dampaknya, laba per saham dasar dan dilusian turun ke level USD0,0048 per lembar, sedangkan di akhir tahun 2021 berada di level USD0,0051.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

BTN Tebar Dividen Rp609 Miliar, 20% dari Laba

Adapun untuk penjualan bersih perseroan naik 31,06% menjadi USD945,49 juta. Dimana penjualan baja lembaran dan turunannya tumbuh 23,3% menjadi USD656,84 juta.

Lalu penjualan baja batangan dan turunannya melonjak 52,3% menjadi USD288,65 juta.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Delta Dunia Makmur (DOID) Raup Laba Rp450,5 Miliar di 2022

Sayangnya, beban pokok penjualan membengkak 39,1% menjadi USD857,1 juta. Hal ini disebabkan pembelian bahan baku dan barang setengah jadi naik 67,1% menjadi USD565,18 juta.

Kemudian untuk biaya pabrikasi terkerek 43,1% menjadi USD199,2 juta. Dampaknya, laba kotor menyusut 15,1% menjadi USD88,39 juta. Sementara itu, total kewajiban bertambah 20,6% menjadi USD380,1 juta. Pada sisi lain, jumlah ekuitas meningkat 7,03% menjadi USD806,21 juta.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMC8xOS82Ny8xMjM1MTUvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Tahun ini, perseroan melihat peluang pertumbuhan kinerja industri baja. Optimisme tersebut didasari oleh data dari Indonesian Iron and Steel Association (IISIA) yang memberikan angka pertumbuhan sekitar 5% setiap tahunnya.



Selain itu, perseroan juga melihat potensi besar penggunaan baja pada proyek pembangunan infrastruktur dan pengembangan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. GGRP mencatat bahwa kebutuhan baja pada proyek IKN berkisar sekitar 9,2 juta ton. Maka dari itu, GGRP pun berharap pemerintah dapat terus mengawasi penggunaan baja pada proyek IKN agar tetap mengutamakan produk dalam negeri.



Di tahun ini, perseroan akan tetap fokus pada optimalisasi utilisasi mesin light section mill (LSM) yang bisa memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan pendapatan perseroan ke depan. Strategi itu sejalan juga dengan fokus Gunung Raja Paksi yang tertuju pada roadmap Environment Social and Governance (ESG).

&quot;Di mana kami melihat produk baja yang low carbon emission dan menerapkan proses ramah lingkungan akan semakin menjadi kebutuhan baja di masa yang akan datang,&quot; kata Corporate Affairs Director Gunung Raja Paksi, Fedaus.



Diketahui, perseroan memperoleh sustainability linked loan (SLL) sebesar USD32 juta dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI). Kredit bilateral dengan tenor 5 tahun ini akan digunakan untuk mendanai salah satu inisiatif keberlanjutan GGRP, termasuk fasilitas Light Section Mill (LSM). Kerja sama dengan BNI merupakan langkah komitmen pengembangan bisnis yang berbasis ESG oleh GGRP.



Dari bantuan kredit dari BNI tersebut, GGRP dapat meningkatkan kapasitas produksi dan memperbarui mesin LSM. Upaya tersebut akan mendorong efisiensi operasional melalui penurunan konsumsi energi yang pada akhirnya mengurangi emisi karbon dari pabrik perusahaan.</content:encoded></item></channel></rss>
