<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>11 Negara ASEAN Bangun Konektivitas Pembayaran Digital   </title><description>Membangun konektivitas pembayaran 11 negara di ASEAN disebut memiliki tantangan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/03/28/320/2788826/11-negara-asean-bangun-konektivitas-pembayaran-digital</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/03/28/320/2788826/11-negara-asean-bangun-konektivitas-pembayaran-digital"/><item><title>11 Negara ASEAN Bangun Konektivitas Pembayaran Digital   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/03/28/320/2788826/11-negara-asean-bangun-konektivitas-pembayaran-digital</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/03/28/320/2788826/11-negara-asean-bangun-konektivitas-pembayaran-digital</guid><pubDate>Selasa 28 Maret 2023 15:22 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/03/28/320/2788826/11-negara-asean-bangun-konektivitas-pembayaran-digital-s1oZv53lrY.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi transaksi digital. (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/03/28/320/2788826/11-negara-asean-bangun-konektivitas-pembayaran-digital-s1oZv53lrY.JPG</image><title>Ilustrasi transaksi digital. (Foto: Freepik)</title></images><description>BALI - Membangun konektivitas pembayaran 11 negara di ASEAN disebut memiliki tantangan.

Managing Director GoPay, Budi Gandasoebrata membeberkan sejumlah tantangan tersebut.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

BI Dorong Transaksi Lintas Negara di Asean Mata Uang Digital

&quot;Tantangan pertama adalah soal koordinasi, tapi kelihatannya dengan acara ASEAN 2023 ini memang koordinasi high level dari sisi regulator sudah ada,&quot; ujar Budi kepada awak media di Nusa Dua, Bali pada Selasa (28/3/2023).

Jadi dari sisi kebijakan standar yang akan digunakan, sebut Budi, nampaknya sudah ada kesepakatan dari regulator, termasuk prakiraan kedepannya untuk mendukung interkonektivitas dan interoperabilitas itu seperti apa.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

BI Minta Jangan Bandingkan Asean dengan Uni Eropa, Apa Alasannya?

Tantangan kedua menyangkut implentasi, kata Budi, di mana perihal implementasi itu tentunya nanti dari masing-masing perusahaan penyelenggara infrastruktur di masing-masing negara tentunya perlu melakukan interkonektivitas.

&quot;Jadi dengan standar yang sudah ditetapkan oleh regulator dan pedoman pedoman yang sudah diterbitkan nantinya tentunya bisa masuk ke tahap implementasi,&quot; ucap Budi.

Selepas implementasi, maka tantangan selanjutnya terkait tahap sosialisasi.

&quot;Karena kalau sudah implementasi, tentunya bagaimana kita sosialisasi ke pengguna misalnya wisatawan Indonesia ke luar negeri atau dari Malaysia, Singapura datang ke Bali, bagaimana kita bisa sosialisasi dan juga promosi kalau cross border payment itu sudah bisa digunakan misalnya,&quot; tambah Budi.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8xMC80LzE2NDExMS81L3g4ajU3ODc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Namun, dari sisi pelaku, Budi menegaskan bahwa pihaknya sudah siap.

Hampir semua penyelengara jasa pembayaran saat ini sudah sudah mengimplementasikan QRIS sebagai salah satu inisiatif yang mempromosikan interoperabilitas dan interkonektivitas dari sisi pembayaran retail.



&quot;Karena basisnya itu sudah ada ini, cuma tinggal pengembangan tambahan nantinya untuk mendukung crossborder payment dari sisi retail,&quot; ucap Budi.



&quot;Tentunya kita harus siap lah, pasti ada pengembangan yang dilakukan, tapi tentunya dengan dukungan dari Bank Indonesia (BI) dan regulator-regulator dari ASEAN, bisa dieksekusi lebih baik dan lebih mudah,&quot; tambahnya.</description><content:encoded>BALI - Membangun konektivitas pembayaran 11 negara di ASEAN disebut memiliki tantangan.

Managing Director GoPay, Budi Gandasoebrata membeberkan sejumlah tantangan tersebut.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

BI Dorong Transaksi Lintas Negara di Asean Mata Uang Digital

&quot;Tantangan pertama adalah soal koordinasi, tapi kelihatannya dengan acara ASEAN 2023 ini memang koordinasi high level dari sisi regulator sudah ada,&quot; ujar Budi kepada awak media di Nusa Dua, Bali pada Selasa (28/3/2023).

Jadi dari sisi kebijakan standar yang akan digunakan, sebut Budi, nampaknya sudah ada kesepakatan dari regulator, termasuk prakiraan kedepannya untuk mendukung interkonektivitas dan interoperabilitas itu seperti apa.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

BI Minta Jangan Bandingkan Asean dengan Uni Eropa, Apa Alasannya?

Tantangan kedua menyangkut implentasi, kata Budi, di mana perihal implementasi itu tentunya nanti dari masing-masing perusahaan penyelenggara infrastruktur di masing-masing negara tentunya perlu melakukan interkonektivitas.

&quot;Jadi dengan standar yang sudah ditetapkan oleh regulator dan pedoman pedoman yang sudah diterbitkan nantinya tentunya bisa masuk ke tahap implementasi,&quot; ucap Budi.

Selepas implementasi, maka tantangan selanjutnya terkait tahap sosialisasi.

&quot;Karena kalau sudah implementasi, tentunya bagaimana kita sosialisasi ke pengguna misalnya wisatawan Indonesia ke luar negeri atau dari Malaysia, Singapura datang ke Bali, bagaimana kita bisa sosialisasi dan juga promosi kalau cross border payment itu sudah bisa digunakan misalnya,&quot; tambah Budi.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8xMC80LzE2NDExMS81L3g4ajU3ODc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Namun, dari sisi pelaku, Budi menegaskan bahwa pihaknya sudah siap.

Hampir semua penyelengara jasa pembayaran saat ini sudah sudah mengimplementasikan QRIS sebagai salah satu inisiatif yang mempromosikan interoperabilitas dan interkonektivitas dari sisi pembayaran retail.



&quot;Karena basisnya itu sudah ada ini, cuma tinggal pengembangan tambahan nantinya untuk mendukung crossborder payment dari sisi retail,&quot; ucap Budi.



&quot;Tentunya kita harus siap lah, pasti ada pengembangan yang dilakukan, tapi tentunya dengan dukungan dari Bank Indonesia (BI) dan regulator-regulator dari ASEAN, bisa dieksekusi lebih baik dan lebih mudah,&quot; tambahnya.</content:encoded></item></channel></rss>
