<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bos BCA Buka-bukaan Tantangan Industri Perbankan di 2023</title><description>Bos BCA buka-bukan soal tantangan industri perbankan di Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/04/03/320/2792262/bos-bca-buka-bukaan-tantangan-industri-perbankan-di-2023</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/04/03/320/2792262/bos-bca-buka-bukaan-tantangan-industri-perbankan-di-2023"/><item><title>Bos BCA Buka-bukaan Tantangan Industri Perbankan di 2023</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/04/03/320/2792262/bos-bca-buka-bukaan-tantangan-industri-perbankan-di-2023</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/04/03/320/2792262/bos-bca-buka-bukaan-tantangan-industri-perbankan-di-2023</guid><pubDate>Senin 03 April 2023 15:14 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/04/03/320/2792262/bos-bca-buka-bukaan-tantangan-industri-perbankan-di-2023-WiY3XZy4tk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bos BCA ungkap tantangan industri perbankan (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/04/03/320/2792262/bos-bca-buka-bukaan-tantangan-industri-perbankan-di-2023-WiY3XZy4tk.jpg</image><title>Bos BCA ungkap tantangan industri perbankan (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Bos BCA buka-bukan soal tantangan industri perbankan di Indonesia. Memasuki 2023, Perbankan Indonesia sudah dihadapkan dengan berbagai tantangan hingga krisis kepercayaan nasabah imbas konflik dari global.
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, sejalan dengan dana nasabah yang mengalir, tantangannya adalah bagaimana perbankan melepaskan kredit secara baik dan prudent.

BACA JUGA:
Jahja Ungkap Alasan ATM BCA Hanya di Kota Besar, Belum Masuk Daerah Pelosok


&quot;Tetapi tentu harus di segala lini, bukan hanya satu SME saja, nggak, SME harus, komersial, korporasi, karena menurut filosofi saya SME harus kita perhatikan, masyarakat yang banyak, tetapi korporasi ini kan sebagai saluran air itu hulunya dulu karena akan mengalir ke bawah,&quot; jelas Jahja dalam segmen Market Buzz Power Breakfast IDX, Senin (3/4/2023).
Selain SME, BCA juga mengedepankan KPR yang bukan hanya sekadar jual rumah saja. Jahja menekankan bahwa rumah yang di bawah Rp2 miliar, elemen lokalnya masih banyak sekali.

BACA JUGA:
Jahja Setiaatmadja Bongkar Rahasia BCA Tetap Profit di Tengah Ketidakpastian Global


&quot;Mungkin lebih dari 20 kan, ada kaca, ada kayu, macam-macam dan jangan lupa tenaga kerja, ini yang penting, karena setiap komplek pembangunan pasti dibuka bedeng-bedeng, pasti ada yang jualan karena pekerja ini kan harus makan,&quot; katanya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMi8wOC80LzE2MjI4NC81L3g4ajZna3k=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Menurutnya, hal tersebut adalah multiplier effect dari KPR karena  begitu ada pembangunan rumah, akan ada tenaga kerja yang butuh makan,  disitulah lingkungan menyediakan dan UMKM bisa hidup.
Jahja melihat sebelum pandemi, sektor properti punya tiga market  yakni orang yang butuh rumah, orang yang membeli rumah untuk investasi  dan orang yang &quot;nyekolahin&quot; rumah.
Adapun pasca pandemi yang tersisa adalah orang yang membutuhkan rumah  saja. Dari 270 juta orang di Indonesia, Jahja yakin masih banyak yang  butuh rumah.
&quot;Jadi kalau sudah sempat membeli rumah, maka jangka panjang itu pasti menguntungkan dan hidupnya lebih aman,&quot; ujar Jahja.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Bos BCA buka-bukan soal tantangan industri perbankan di Indonesia. Memasuki 2023, Perbankan Indonesia sudah dihadapkan dengan berbagai tantangan hingga krisis kepercayaan nasabah imbas konflik dari global.
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, sejalan dengan dana nasabah yang mengalir, tantangannya adalah bagaimana perbankan melepaskan kredit secara baik dan prudent.

BACA JUGA:
Jahja Ungkap Alasan ATM BCA Hanya di Kota Besar, Belum Masuk Daerah Pelosok


&quot;Tetapi tentu harus di segala lini, bukan hanya satu SME saja, nggak, SME harus, komersial, korporasi, karena menurut filosofi saya SME harus kita perhatikan, masyarakat yang banyak, tetapi korporasi ini kan sebagai saluran air itu hulunya dulu karena akan mengalir ke bawah,&quot; jelas Jahja dalam segmen Market Buzz Power Breakfast IDX, Senin (3/4/2023).
Selain SME, BCA juga mengedepankan KPR yang bukan hanya sekadar jual rumah saja. Jahja menekankan bahwa rumah yang di bawah Rp2 miliar, elemen lokalnya masih banyak sekali.

BACA JUGA:
Jahja Setiaatmadja Bongkar Rahasia BCA Tetap Profit di Tengah Ketidakpastian Global


&quot;Mungkin lebih dari 20 kan, ada kaca, ada kayu, macam-macam dan jangan lupa tenaga kerja, ini yang penting, karena setiap komplek pembangunan pasti dibuka bedeng-bedeng, pasti ada yang jualan karena pekerja ini kan harus makan,&quot; katanya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMi8wOC80LzE2MjI4NC81L3g4ajZna3k=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Menurutnya, hal tersebut adalah multiplier effect dari KPR karena  begitu ada pembangunan rumah, akan ada tenaga kerja yang butuh makan,  disitulah lingkungan menyediakan dan UMKM bisa hidup.
Jahja melihat sebelum pandemi, sektor properti punya tiga market  yakni orang yang butuh rumah, orang yang membeli rumah untuk investasi  dan orang yang &quot;nyekolahin&quot; rumah.
Adapun pasca pandemi yang tersisa adalah orang yang membutuhkan rumah  saja. Dari 270 juta orang di Indonesia, Jahja yakin masih banyak yang  butuh rumah.
&quot;Jadi kalau sudah sempat membeli rumah, maka jangka panjang itu pasti menguntungkan dan hidupnya lebih aman,&quot; ujar Jahja.</content:encoded></item></channel></rss>
