<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Minyak Turun di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global</title><description>Harga minyak dunia turun karena kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga pada Senin (24/4/2023).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/04/24/320/2803219/harga-minyak-turun-di-tengah-ketidakpastian-ekonomi-global</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/04/24/320/2803219/harga-minyak-turun-di-tengah-ketidakpastian-ekonomi-global"/><item><title>Harga Minyak Turun di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/04/24/320/2803219/harga-minyak-turun-di-tengah-ketidakpastian-ekonomi-global</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/04/24/320/2803219/harga-minyak-turun-di-tengah-ketidakpastian-ekonomi-global</guid><pubDate>Senin 24 April 2023 18:01 WIB</pubDate><dc:creator>Dovana Hasiana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/04/24/320/2803219/harga-minyak-turun-di-tengah-ketidakpastian-ekonomi-global-hYCoOxkFAB.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Minyak dunia. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/04/24/320/2803219/harga-minyak-turun-di-tengah-ketidakpastian-ekonomi-global-hYCoOxkFAB.JPG</image><title>Minyak dunia. (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA &amp;mdash; Harga minyak dunia turun karena kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga pada Senin (24/4/2023).

Adapun konomi global dan penerapan kebijakan pengetatan pasokan oleh OPEC+ yang diprediksi tidak dapat memenuhi permintaan yang meningkat.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Harga Minyak Brent dan WTI Anjlok 5% di Minggu Ini&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Minyak mentah Brent tergelincir 48 sen, atau 0,6%, menjadi USD81,18 per barel sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS berada di USD77,39 per barel, turun 48 sen, atau 0,6% lebih rendah.

&amp;ldquo;Data ekonomi AS yang lemah dan pendapatan perusahaan yang mengecewakan dari sektor teknologi memicu kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi, sehingga investor  bersikap lebih hati - hati dan menghindari risiko,&amp;rdquo; ujar analis CMC Markets, Tina Teng dilansir Reuters.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Harga Minyak Dunia Naik, WTI Dibanderol USD80,86/Barel

Kekhawatiran juga didorong dengan proyeksi Bank sentral Amerika Serikat, Inggris dan Eropa yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan pada minggu pertama bulan Mei untuk mengatasi inflasi yang sangat tinggi.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNC8wMi8xLzE2NDg0MC81L3g4anoxajg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Pemulihan ekonomi China yang bergelombang pasca Covid-19 juga mengaburkan prospek permintaan minyaknya, meskipun data bea cukai China menunjukkan jumlah impor minyak mentah negara tersebut mencapai rekor volume tertinggi pada bulan Maret. Impor Cina dari negara pemasok teratas, yakni Rusia dan Arab Saudi, masing-masing mencapai 2 juta barel per hari (bpd).



Namun demikian, analis dan investor tetap optimis tentang pemulihan permintaan bahan bakar China menjelang paruh kedua tahun 2023.



&quot;Pemulihan permintaan minyak China diperkirakan akan melebihi perlambatan permintaan OECD dalam waktu dekat, sementara sanksi dan kendala pasokan menambah peluang untuk kenaikan harga,&quot; ujar analis di Bank Nasional Australia,



Dia menambahkan bahwa Brent dapat naik menjadi USD92 per barel pada akhir kuartal kedua.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;mdash; Harga minyak dunia turun karena kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga pada Senin (24/4/2023).

Adapun konomi global dan penerapan kebijakan pengetatan pasokan oleh OPEC+ yang diprediksi tidak dapat memenuhi permintaan yang meningkat.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Harga Minyak Brent dan WTI Anjlok 5% di Minggu Ini&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Minyak mentah Brent tergelincir 48 sen, atau 0,6%, menjadi USD81,18 per barel sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS berada di USD77,39 per barel, turun 48 sen, atau 0,6% lebih rendah.

&amp;ldquo;Data ekonomi AS yang lemah dan pendapatan perusahaan yang mengecewakan dari sektor teknologi memicu kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi, sehingga investor  bersikap lebih hati - hati dan menghindari risiko,&amp;rdquo; ujar analis CMC Markets, Tina Teng dilansir Reuters.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Harga Minyak Dunia Naik, WTI Dibanderol USD80,86/Barel

Kekhawatiran juga didorong dengan proyeksi Bank sentral Amerika Serikat, Inggris dan Eropa yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan pada minggu pertama bulan Mei untuk mengatasi inflasi yang sangat tinggi.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNC8wMi8xLzE2NDg0MC81L3g4anoxajg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Pemulihan ekonomi China yang bergelombang pasca Covid-19 juga mengaburkan prospek permintaan minyaknya, meskipun data bea cukai China menunjukkan jumlah impor minyak mentah negara tersebut mencapai rekor volume tertinggi pada bulan Maret. Impor Cina dari negara pemasok teratas, yakni Rusia dan Arab Saudi, masing-masing mencapai 2 juta barel per hari (bpd).



Namun demikian, analis dan investor tetap optimis tentang pemulihan permintaan bahan bakar China menjelang paruh kedua tahun 2023.



&quot;Pemulihan permintaan minyak China diperkirakan akan melebihi perlambatan permintaan OECD dalam waktu dekat, sementara sanksi dan kendala pasokan menambah peluang untuk kenaikan harga,&quot; ujar analis di Bank Nasional Australia,



Dia menambahkan bahwa Brent dapat naik menjadi USD92 per barel pada akhir kuartal kedua.</content:encoded></item></channel></rss>
