<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menkeu dan Gubernur Bank Sentral ASEAN+3 Teken Sejumlah Kesepakatan, Ini Isinya</title><description>Para Menteri Keuangan (Menkeu) dan Gubernur Bank Sentral Negara Anggota ASEAN+3 meneken sejumlah kesepakatan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/05/03/320/2807407/menkeu-dan-gubernur-bank-sentral-asean-3-teken-sejumlah-kesepakatan-ini-isinya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/05/03/320/2807407/menkeu-dan-gubernur-bank-sentral-asean-3-teken-sejumlah-kesepakatan-ini-isinya"/><item><title>Menkeu dan Gubernur Bank Sentral ASEAN+3 Teken Sejumlah Kesepakatan, Ini Isinya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/05/03/320/2807407/menkeu-dan-gubernur-bank-sentral-asean-3-teken-sejumlah-kesepakatan-ini-isinya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/05/03/320/2807407/menkeu-dan-gubernur-bank-sentral-asean-3-teken-sejumlah-kesepakatan-ini-isinya</guid><pubDate>Rabu 03 Mei 2023 11:16 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/03/320/2807407/menkeu-dan-gubernur-bank-sentral-asean-3-teken-sejumlah-kesepakatan-ini-isinya-ai1QFfaUm5.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Kesepakatan ASEAN plus 3 (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/03/320/2807407/menkeu-dan-gubernur-bank-sentral-asean-3-teken-sejumlah-kesepakatan-ini-isinya-ai1QFfaUm5.jpeg</image><title>Kesepakatan ASEAN plus 3 (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Para Menteri Keuangan (Menkeu) dan Gubernur Bank Sentral Negara Anggota ASEAN+3 meneken sejumlah kesepakatan. Para petinggi menegaskan kembali komitmen bersama mereka untuk memperkuat dialog kebijakan mengenai perkembangan terkini dan prospek ekonomi global dan regional, serta respons kebijakan terhadap risiko dan tantangan ke depan.

BACA JUGA:
Ekonomi ASEAN Disebut Kuat, Sri Mulyani: Tapi Kita Harus Waspada


Lebih lanjut, Pertemuan Menkeu dan Gubernur Bank Sentral ASEAN+3 di Incheon, Korea Selatan pada Selasa (2/5) tersebut sepakat untuk memperkuat kerja sama keuangan regional melalui inisiatif di bawah Regional Financing Arrangements (RFA) Future Direction, Chiang Mai Initiative Multilateralisation (CMIM), AMRO, Asian Bond Markets Initiative (ABMI), Disaster Risk Financing (DRF), dan ASEAN+3 Future Initiatives, termasuk pembiayaan infrastruktur, kajian studi pada fasilitas nonpembiayaan, pembiayaan risiko bencana (DRF), serta kajian studi beberapa tema strategis atas Digitalisasi Keuangan, keuangan berkelanjutan, utang korporasi, utang rumah tangga, dan Transaksi Mata Uang Lokal (Local Currency Transaction/LCT).
Pada pertemuan tersebut, Menkeu Sri Mulyani Indrawati, menyampaikan pertumbuhan ekonomi ASEAN+3 yang kuat sebesar 3,2% pada tahun 2022, terlepas dari efek pandemi COVID-19 yang masih ada dan konflik Rusia-Ukraina yang meningkat menjadi krisis.

BACA JUGA:
PLN Pastikan Listrik Aman Jelang KTT ASEAN Labuan Bajo


&quot;Sementara itu, gejolak sektor perbankan baru-baru ini di AS dan Eropa memiliki dampak rambatan yang terbatas di kawasan ASEAN+3. Meskipun demikian, kita harus tetap waspada,&quot; ungkap Sri melalui keterangan resminya di Incheon, Rabu (3/5/2023).
Ke depan, kawasan ini diperkirakan akan tumbuh sebesar 4,6% pada tahun 2023, dipacu oleh permintaan domestik yang kuat karena pemulihan ekonomi terus menunjukkan perbaikan.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNC8yNS8xLzE2NTU1Ny81L3g4a2UwcXc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry  Warjiyo, menyoroti bahwa tantangan saat ini dan ketergantungan yang  besar pada mata uang dominan tertentu untuk perdagangan internasional  dan penyelesaian investasi dapat meningkatkan kerentanan dan  meningkatkan risiko stabilitas keuangan di ASEAN+3.
&quot;Oleh karena itu, ASEAN+3 perlu berinovasi untuk dapat menjaga  stabilitas, di tengah inflasi yang masih tinggi,  kondisi likuiditas  yang lebih  ketat, ruang kebijakan yang lebih sempit, dan  pengaruh kuat  dolar,&quot; ungkap Perry.
Dalam hal ini, Perry menekankan pentingnya memperkuat dan  meningkatkan kerja sama di antara negara-negara ASEAN+3 dalam  konektivitas pembayaran dengan mempromosikan penggunaan mata uang lokal  yang lebih luas untuk transaksi.
&quot;Berkaitan dengan hal tersebut, AFMGM+3 menyambut baik dan mengakui  perkembangan kajian Sistem Pembayaran Lintas Batas di ASEAN+3, khususnya  mengenai Penguatan Transaksi Mata Uang Lokal (Local Currency  Transactions &amp;ndash; LCT) dalam pembahasan Isu Tematik ASEAN+3,&quot; tambah Perry.
Mengingat situasi pandemi COVID-19 yang jauh lebih membaik, kawasan  ASEAN menyadari perlunya pengurangan dukungan kebijakan terkait COVID-19  dengan tetap melaksanakan langkah-langkah kebijakan yang dikalibrasi  secara hati-hati untuk mengendalikan inflasi, menjaga stabilitas moneter  dan keuangan, memperkuat sektor-sektor utama, seperti ekonomi hijau dan  ekonomi digital, memastikan keberlanjutan fiskal jangka panjang, dan  mempromosikan pertumbuhan yang kuat, tangguh, dan berkelanjutan.
Kawasan ASEAN juga mengakui bahwa prospek pertumbuhan jangka panjang  untuk kawasan ini bergantung pada bagaimana kawasan ini mengelola risiko  yang terkait dengan kemungkinan pandemi dan perubahan iklim di masa  depan, termasuk bencana alam yang lebih sering dan parah.
&quot;Dengan mempertimbangkan risiko-risiko ini, AFMGM+3 mengakui  pentingnya kolaborasi menuju pemulihan yang kuat dan inklusif serta  membuat kemajuan berkelanjutan dalam agenda 2030 untuk pembangunan  berkelanjutan, untuk mencapai pembangunan global yang lebih kuat, lebih  hijau, lebih tangguh, dan seimbang,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Para Menteri Keuangan (Menkeu) dan Gubernur Bank Sentral Negara Anggota ASEAN+3 meneken sejumlah kesepakatan. Para petinggi menegaskan kembali komitmen bersama mereka untuk memperkuat dialog kebijakan mengenai perkembangan terkini dan prospek ekonomi global dan regional, serta respons kebijakan terhadap risiko dan tantangan ke depan.

BACA JUGA:
Ekonomi ASEAN Disebut Kuat, Sri Mulyani: Tapi Kita Harus Waspada


Lebih lanjut, Pertemuan Menkeu dan Gubernur Bank Sentral ASEAN+3 di Incheon, Korea Selatan pada Selasa (2/5) tersebut sepakat untuk memperkuat kerja sama keuangan regional melalui inisiatif di bawah Regional Financing Arrangements (RFA) Future Direction, Chiang Mai Initiative Multilateralisation (CMIM), AMRO, Asian Bond Markets Initiative (ABMI), Disaster Risk Financing (DRF), dan ASEAN+3 Future Initiatives, termasuk pembiayaan infrastruktur, kajian studi pada fasilitas nonpembiayaan, pembiayaan risiko bencana (DRF), serta kajian studi beberapa tema strategis atas Digitalisasi Keuangan, keuangan berkelanjutan, utang korporasi, utang rumah tangga, dan Transaksi Mata Uang Lokal (Local Currency Transaction/LCT).
Pada pertemuan tersebut, Menkeu Sri Mulyani Indrawati, menyampaikan pertumbuhan ekonomi ASEAN+3 yang kuat sebesar 3,2% pada tahun 2022, terlepas dari efek pandemi COVID-19 yang masih ada dan konflik Rusia-Ukraina yang meningkat menjadi krisis.

BACA JUGA:
PLN Pastikan Listrik Aman Jelang KTT ASEAN Labuan Bajo


&quot;Sementara itu, gejolak sektor perbankan baru-baru ini di AS dan Eropa memiliki dampak rambatan yang terbatas di kawasan ASEAN+3. Meskipun demikian, kita harus tetap waspada,&quot; ungkap Sri melalui keterangan resminya di Incheon, Rabu (3/5/2023).
Ke depan, kawasan ini diperkirakan akan tumbuh sebesar 4,6% pada tahun 2023, dipacu oleh permintaan domestik yang kuat karena pemulihan ekonomi terus menunjukkan perbaikan.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNC8yNS8xLzE2NTU1Ny81L3g4a2UwcXc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry  Warjiyo, menyoroti bahwa tantangan saat ini dan ketergantungan yang  besar pada mata uang dominan tertentu untuk perdagangan internasional  dan penyelesaian investasi dapat meningkatkan kerentanan dan  meningkatkan risiko stabilitas keuangan di ASEAN+3.
&quot;Oleh karena itu, ASEAN+3 perlu berinovasi untuk dapat menjaga  stabilitas, di tengah inflasi yang masih tinggi,  kondisi likuiditas  yang lebih  ketat, ruang kebijakan yang lebih sempit, dan  pengaruh kuat  dolar,&quot; ungkap Perry.
Dalam hal ini, Perry menekankan pentingnya memperkuat dan  meningkatkan kerja sama di antara negara-negara ASEAN+3 dalam  konektivitas pembayaran dengan mempromosikan penggunaan mata uang lokal  yang lebih luas untuk transaksi.
&quot;Berkaitan dengan hal tersebut, AFMGM+3 menyambut baik dan mengakui  perkembangan kajian Sistem Pembayaran Lintas Batas di ASEAN+3, khususnya  mengenai Penguatan Transaksi Mata Uang Lokal (Local Currency  Transactions &amp;ndash; LCT) dalam pembahasan Isu Tematik ASEAN+3,&quot; tambah Perry.
Mengingat situasi pandemi COVID-19 yang jauh lebih membaik, kawasan  ASEAN menyadari perlunya pengurangan dukungan kebijakan terkait COVID-19  dengan tetap melaksanakan langkah-langkah kebijakan yang dikalibrasi  secara hati-hati untuk mengendalikan inflasi, menjaga stabilitas moneter  dan keuangan, memperkuat sektor-sektor utama, seperti ekonomi hijau dan  ekonomi digital, memastikan keberlanjutan fiskal jangka panjang, dan  mempromosikan pertumbuhan yang kuat, tangguh, dan berkelanjutan.
Kawasan ASEAN juga mengakui bahwa prospek pertumbuhan jangka panjang  untuk kawasan ini bergantung pada bagaimana kawasan ini mengelola risiko  yang terkait dengan kemungkinan pandemi dan perubahan iklim di masa  depan, termasuk bencana alam yang lebih sering dan parah.
&quot;Dengan mempertimbangkan risiko-risiko ini, AFMGM+3 mengakui  pentingnya kolaborasi menuju pemulihan yang kuat dan inklusif serta  membuat kemajuan berkelanjutan dalam agenda 2030 untuk pembangunan  berkelanjutan, untuk mencapai pembangunan global yang lebih kuat, lebih  hijau, lebih tangguh, dan seimbang,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
