<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Suku Bunga The Fed Naik Lagi, Waspada Perlambatan Ekonomi AS</title><description>Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve atau The Fed terus  menaikkan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) sejak bulan Maret 2022.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/05/04/320/2807996/suku-bunga-the-fed-naik-lagi-waspada-perlambatan-ekonomi-as</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/05/04/320/2807996/suku-bunga-the-fed-naik-lagi-waspada-perlambatan-ekonomi-as"/><item><title>Suku Bunga The Fed Naik Lagi, Waspada Perlambatan Ekonomi AS</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/05/04/320/2807996/suku-bunga-the-fed-naik-lagi-waspada-perlambatan-ekonomi-as</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/05/04/320/2807996/suku-bunga-the-fed-naik-lagi-waspada-perlambatan-ekonomi-as</guid><pubDate>Kamis 04 Mei 2023 09:49 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/04/320/2807996/suku-bunga-the-fed-naik-lagi-waspada-perlambatan-ekonomi-as-OYDkzDiwMa.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">The Fed naikkan suku bunga (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/04/320/2807996/suku-bunga-the-fed-naik-lagi-waspada-perlambatan-ekonomi-as-OYDkzDiwMa.jpeg</image><title>The Fed naikkan suku bunga (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Bank Sentral AS The Federal Reserve atau The Fed terus menaikkan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) sejak bulan Maret 2022. Suku bunga acuan dinaikkan untuk melawan inflasi yang terus melonjak.
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB Universitas Indonesia (UI), Teuku Riefky menyebut bahwa berlanjutnya tren kenaikan suku bunga oleh The Fed kemungkinan akan menyebabkan perlambatan ekonomi AS secara umum.

BACA JUGA:
Federal Reserve Naikkan Suku Bunga 25 basis poin


&quot;Yang pada gilirannya akan menurunkan permintaan ekspor Indonesia oleh AS dan mempengaruhi impor Indonesia dari AS,&quot; ungkap Riefky dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (4/5/2023).
Pada tahun 2022, pangsa ekspor Indonesia ke AS mencapai sekitar 10% dari total ekspor, sedangkan pangsa impor tercatat sebesar 4,9% dari total impor. &quot;Oleh karena itu, dinamika terkini di sektor perbankan AS kemungkinan akan mempengaruhi, meskipun secara halus, kinerja perdagangan Indonesia secara keseluruhan,&quot; ucap Riefky.

BACA JUGA:
The Fed Diprediksi Bakal Kembali Naikan Suku Bunga Acuan


Riefky menyoroti jika The Fed melanjutkan siklus pengetatan moneternya, potensi arus dana keluar dari negara berkembang akan dapat terealisasi karena investor akan cenderung mencari imbal hasil yang lebih tinggi. Hal ini kemudian dapat menyebabkan pelemahan nilai mata uang domestik atau depresiasi.
Maka dari itu, dampak tidak langsung lainnya adalah melalui depresiasi Rupiah yang dapat membuat impor Indonesia relatif lebih mahal dan akibatnya menurunkan surplus neraca berjalan.
&quot;Namun, mengingat rendahnya keterbukaan perdagangan Indonesia secara keseluruhan, 46% dari PDB, beban dari runtuhnya Silicon Valley Bank (SVB) di jalur ini seharusnya tidak signifikan,&quot; jelas Riefky.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8xNi80LzE2MDg5Ny81L3g4ajZtNmo=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Mengingat rendahnya porsi kepemilikan asing pada obligasi pemerintah  yakni kurang dari 20% dari total obligasi pemerintah, dampak kenaikan  FFR di pasar keuangan Indonesia mungkin akan terbatas. Namun di sisi  lain, jika FFR terus mengalami kenaikan, maka banyak bank sentral di  negara berkembang, termasuk Bank Indonesia (BI), terpaksa harus  menerapkan skenario serupa dengan menaikkan suku bunga domestik untuk  menjaga spread dengan FFR.
&quot;Prosedur ini berpotensi menghambat kinerja perekonomian domestik secara umum di era pemulihan pasca pandemi,&quot; tambahnya.
Terlepas dari itu, BI menganggap spread atau perbedaan suku bunga  saat ini sudah cukup memadai sehingga sejak kolapsnya SVB sampai saat  ini, suku bunga kebijakan masih tidak berubah. &quot;Dengan demikian, sejauh  ini tidak ada dampak ekonomi domestik lanjutkan yang diamati akan datang  dari jalur ini,&quot; pungkas Riefky.</description><content:encoded>JAKARTA - Bank Sentral AS The Federal Reserve atau The Fed terus menaikkan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) sejak bulan Maret 2022. Suku bunga acuan dinaikkan untuk melawan inflasi yang terus melonjak.
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB Universitas Indonesia (UI), Teuku Riefky menyebut bahwa berlanjutnya tren kenaikan suku bunga oleh The Fed kemungkinan akan menyebabkan perlambatan ekonomi AS secara umum.

BACA JUGA:
Federal Reserve Naikkan Suku Bunga 25 basis poin


&quot;Yang pada gilirannya akan menurunkan permintaan ekspor Indonesia oleh AS dan mempengaruhi impor Indonesia dari AS,&quot; ungkap Riefky dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (4/5/2023).
Pada tahun 2022, pangsa ekspor Indonesia ke AS mencapai sekitar 10% dari total ekspor, sedangkan pangsa impor tercatat sebesar 4,9% dari total impor. &quot;Oleh karena itu, dinamika terkini di sektor perbankan AS kemungkinan akan mempengaruhi, meskipun secara halus, kinerja perdagangan Indonesia secara keseluruhan,&quot; ucap Riefky.

BACA JUGA:
The Fed Diprediksi Bakal Kembali Naikan Suku Bunga Acuan


Riefky menyoroti jika The Fed melanjutkan siklus pengetatan moneternya, potensi arus dana keluar dari negara berkembang akan dapat terealisasi karena investor akan cenderung mencari imbal hasil yang lebih tinggi. Hal ini kemudian dapat menyebabkan pelemahan nilai mata uang domestik atau depresiasi.
Maka dari itu, dampak tidak langsung lainnya adalah melalui depresiasi Rupiah yang dapat membuat impor Indonesia relatif lebih mahal dan akibatnya menurunkan surplus neraca berjalan.
&quot;Namun, mengingat rendahnya keterbukaan perdagangan Indonesia secara keseluruhan, 46% dari PDB, beban dari runtuhnya Silicon Valley Bank (SVB) di jalur ini seharusnya tidak signifikan,&quot; jelas Riefky.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8xNi80LzE2MDg5Ny81L3g4ajZtNmo=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Mengingat rendahnya porsi kepemilikan asing pada obligasi pemerintah  yakni kurang dari 20% dari total obligasi pemerintah, dampak kenaikan  FFR di pasar keuangan Indonesia mungkin akan terbatas. Namun di sisi  lain, jika FFR terus mengalami kenaikan, maka banyak bank sentral di  negara berkembang, termasuk Bank Indonesia (BI), terpaksa harus  menerapkan skenario serupa dengan menaikkan suku bunga domestik untuk  menjaga spread dengan FFR.
&quot;Prosedur ini berpotensi menghambat kinerja perekonomian domestik secara umum di era pemulihan pasca pandemi,&quot; tambahnya.
Terlepas dari itu, BI menganggap spread atau perbedaan suku bunga  saat ini sudah cukup memadai sehingga sejak kolapsnya SVB sampai saat  ini, suku bunga kebijakan masih tidak berubah. &quot;Dengan demikian, sejauh  ini tidak ada dampak ekonomi domestik lanjutkan yang diamati akan datang  dari jalur ini,&quot; pungkas Riefky.</content:encoded></item></channel></rss>
