<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>AS Diprediksi Gagal Bayar Utang, China dan Rusia Diuntungkan</title><description>Amerika Serikat (AS) diprediksi gagal membayar utang.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/05/08/320/2809954/as-diprediksi-gagal-bayar-utang-china-dan-rusia-diuntungkan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/05/08/320/2809954/as-diprediksi-gagal-bayar-utang-china-dan-rusia-diuntungkan"/><item><title>AS Diprediksi Gagal Bayar Utang, China dan Rusia Diuntungkan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/05/08/320/2809954/as-diprediksi-gagal-bayar-utang-china-dan-rusia-diuntungkan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/05/08/320/2809954/as-diprediksi-gagal-bayar-utang-china-dan-rusia-diuntungkan</guid><pubDate>Senin 08 Mei 2023 07:21 WIB</pubDate><dc:creator>Mutiara Oktaviana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/08/320/2809954/as-diprediksi-gagal-bayar-utang-china-dan-rusia-diuntungkan-RxpXxWbXKT.jpg" expression="full" type="image/jpeg">AS diprediksi gagal bayar utang (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/08/320/2809954/as-diprediksi-gagal-bayar-utang-china-dan-rusia-diuntungkan-RxpXxWbXKT.jpg</image><title>AS diprediksi gagal bayar utang (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Amerika Serikat (AS) diprediksi gagal membayar utang. Hal ini lantaran kebuntuan di antara Partai Republik di DPR AS dan Presiden Joe Biden terkait pagu utang negara, alias batas maksimal sah bagi pemerintah AS untuk dapat meminjam uang demi melunasi utang-utangnya.
Direktur Kantor Manajemen dan Anggaran AS Shalanda Young menilai kondisi ini menjadi keuntungan bagi musuh-musuh Amerika.

BACA JUGA:
9 Fakta AS Terancam Gagal Bayar Utang


&amp;ldquo;Mereka menyukai ini. Mereka suka melihat kekacauan dalam sistem Amerika. Mereka senang melihat kita tidak dapat melakukan tugas-tugas kita yang mendasar. Setidaknya ini menjadi sebuah ujian tentang apa yang berhasil di dunia. Apakah demokrasi masih berfungsi dengan baik ataukah cara China yang berhasil?,&amp;rdquo; ujar Young dilansir dari VOA, Senin (8/5/2023).
Kegagalan AS membayar utang-utangnya akan menimbulkan gelombang kejut terhadap keuangan dunia.

BACA JUGA:
AS Berpotensi Gagal Bayar Utang, Apa Dampaknya ke RI?


Musuh-musuh AS, termasuk Rusia dan China, dapat meraup keuntungan dari hal itu dengan melakukan kampanye disinformasi yang disebarkan melalui media sosial, media pemerintah dan platform lainnya, kata Todd Helmus, ilmuwan perilaku senior RAND Corporation sekaligus pakar disinformasi, melalui Zoom.
&amp;ldquo;Rusia dan China sama-sama menggembar-gemborkan kegagalan demokrasi Amerika dalam upaya untuk menyatakan bahwa sistem pemerintahan mereka lebih baik daripada sistem kita. [Kemungkinan gagal bayar] ini pasti akan dimainkan dalam narasi seperti itu. Seringkali, ketika mereka menyebarluaskan konten ini, mereka melakukannya melalui berbagai saluran dengan cara yang setidaknya semi-terkoordinasi, dan saya kira mereka akan memanfaatkan fakta ini pada semua platform itu,&amp;rdquo; ujar Helmus.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8zMC8xLzE2NDc2NS81L3g4amwybnk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Dulu, pemungutan suara untuk meningkatkan pagu utang negara merupakan  hal yang rutin dilakukan. Kongres telah menyetujui kenaikan plafon  utang sebanyak 78 kali sejak tahun 1960 &amp;ndash; 49 kali di bawah kepresidenan  Partai Republik dan 29 kali di bawah kepresidenan Partai Demokrat.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pemungutan suara itu semakin  bersifat partisan, hingga memicu ketegangan pada 2011 dan 2013.
Pada saat itu, Barack Obama, yang menjabat presiden, mengatakan,  &amp;ldquo;Jika Kongres tidak menyetujui kenaikan pagu utang dalam beberapa minggu  ke depan, Amerika Serikat akan gagal membayar utang-utangnya. Itu tidak  pernah terjadi dalam sejarah Amerika.&amp;rdquo;
Partai Republik bersikeras bahwa anggaran belanja pemerintah federal  harus dipangkas jika ingin mereka menyetujui kenaikan pagu utang.
Ketua DPR AS Kevin McCarthy dari Partai Republik menuturkan, &amp;ldquo;Anggota  DPR dari Partai Republik baru saja mengesahkan satu-satunya rancangan  undang-undang di Washington yang menaikkan pagu utang, mengakhiri  pengeluaran Washington yang boros dan membawa Amerika kembali ke jalur  ekonomi yang benar.&amp;rdquo;
Di sisi lain, Presiden Joe Biden mengaku tidak akan menegosiasikan  isu tersebut. &amp;ldquo;Keduanya sama sekali tidak berhubungan. Apakah Anda  membayar utang atau tidak, tidak ada kaitannya sama sekali dengan  anggaran Anda,&amp;rdquo; tandasnya.
Pertemuan Biden dengan para pemimpin kongres dari kedua partai di Gedung Putih akan dilakukan hari Selasa (9/5).</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Amerika Serikat (AS) diprediksi gagal membayar utang. Hal ini lantaran kebuntuan di antara Partai Republik di DPR AS dan Presiden Joe Biden terkait pagu utang negara, alias batas maksimal sah bagi pemerintah AS untuk dapat meminjam uang demi melunasi utang-utangnya.
Direktur Kantor Manajemen dan Anggaran AS Shalanda Young menilai kondisi ini menjadi keuntungan bagi musuh-musuh Amerika.

BACA JUGA:
9 Fakta AS Terancam Gagal Bayar Utang


&amp;ldquo;Mereka menyukai ini. Mereka suka melihat kekacauan dalam sistem Amerika. Mereka senang melihat kita tidak dapat melakukan tugas-tugas kita yang mendasar. Setidaknya ini menjadi sebuah ujian tentang apa yang berhasil di dunia. Apakah demokrasi masih berfungsi dengan baik ataukah cara China yang berhasil?,&amp;rdquo; ujar Young dilansir dari VOA, Senin (8/5/2023).
Kegagalan AS membayar utang-utangnya akan menimbulkan gelombang kejut terhadap keuangan dunia.

BACA JUGA:
AS Berpotensi Gagal Bayar Utang, Apa Dampaknya ke RI?


Musuh-musuh AS, termasuk Rusia dan China, dapat meraup keuntungan dari hal itu dengan melakukan kampanye disinformasi yang disebarkan melalui media sosial, media pemerintah dan platform lainnya, kata Todd Helmus, ilmuwan perilaku senior RAND Corporation sekaligus pakar disinformasi, melalui Zoom.
&amp;ldquo;Rusia dan China sama-sama menggembar-gemborkan kegagalan demokrasi Amerika dalam upaya untuk menyatakan bahwa sistem pemerintahan mereka lebih baik daripada sistem kita. [Kemungkinan gagal bayar] ini pasti akan dimainkan dalam narasi seperti itu. Seringkali, ketika mereka menyebarluaskan konten ini, mereka melakukannya melalui berbagai saluran dengan cara yang setidaknya semi-terkoordinasi, dan saya kira mereka akan memanfaatkan fakta ini pada semua platform itu,&amp;rdquo; ujar Helmus.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8zMC8xLzE2NDc2NS81L3g4amwybnk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Dulu, pemungutan suara untuk meningkatkan pagu utang negara merupakan  hal yang rutin dilakukan. Kongres telah menyetujui kenaikan plafon  utang sebanyak 78 kali sejak tahun 1960 &amp;ndash; 49 kali di bawah kepresidenan  Partai Republik dan 29 kali di bawah kepresidenan Partai Demokrat.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pemungutan suara itu semakin  bersifat partisan, hingga memicu ketegangan pada 2011 dan 2013.
Pada saat itu, Barack Obama, yang menjabat presiden, mengatakan,  &amp;ldquo;Jika Kongres tidak menyetujui kenaikan pagu utang dalam beberapa minggu  ke depan, Amerika Serikat akan gagal membayar utang-utangnya. Itu tidak  pernah terjadi dalam sejarah Amerika.&amp;rdquo;
Partai Republik bersikeras bahwa anggaran belanja pemerintah federal  harus dipangkas jika ingin mereka menyetujui kenaikan pagu utang.
Ketua DPR AS Kevin McCarthy dari Partai Republik menuturkan, &amp;ldquo;Anggota  DPR dari Partai Republik baru saja mengesahkan satu-satunya rancangan  undang-undang di Washington yang menaikkan pagu utang, mengakhiri  pengeluaran Washington yang boros dan membawa Amerika kembali ke jalur  ekonomi yang benar.&amp;rdquo;
Di sisi lain, Presiden Joe Biden mengaku tidak akan menegosiasikan  isu tersebut. &amp;ldquo;Keduanya sama sekali tidak berhubungan. Apakah Anda  membayar utang atau tidak, tidak ada kaitannya sama sekali dengan  anggaran Anda,&amp;rdquo; tandasnya.
Pertemuan Biden dengan para pemimpin kongres dari kedua partai di Gedung Putih akan dilakukan hari Selasa (9/5).</content:encoded></item></channel></rss>
