<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gubernur BI: Sistem Keuangan Indonesia Kuat Hadapi Penutupan Perbankan di AS</title><description>Perry Warjiyo menyatakan bahwa sistem keuangan Indonesia berdaya tahan dalam menghadapi dampak penutupan sejumlah bank di AS.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/05/10/320/2811643/gubernur-bi-sistem-keuangan-indonesia-kuat-hadapi-penutupan-perbankan-di-as</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/05/10/320/2811643/gubernur-bi-sistem-keuangan-indonesia-kuat-hadapi-penutupan-perbankan-di-as"/><item><title>Gubernur BI: Sistem Keuangan Indonesia Kuat Hadapi Penutupan Perbankan di AS</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/05/10/320/2811643/gubernur-bi-sistem-keuangan-indonesia-kuat-hadapi-penutupan-perbankan-di-as</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/05/10/320/2811643/gubernur-bi-sistem-keuangan-indonesia-kuat-hadapi-penutupan-perbankan-di-as</guid><pubDate>Rabu 10 Mei 2023 16:45 WIB</pubDate><dc:creator>Mutiara Oktaviana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/10/320/2811643/gubernur-bi-sistem-keuangan-indonesia-kuat-hadapi-penutupan-perbankan-di-as-AYXiadDRyz.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/10/320/2811643/gubernur-bi-sistem-keuangan-indonesia-kuat-hadapi-penutupan-perbankan-di-as-AYXiadDRyz.jpg</image><title>Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan bahwa sistem keuangan Indonesia berdaya tahan dalam menghadapi dampak penutupan sejumlah bank di Amerika Serikat (AS) maupun pengetatan kondisi pasar keuangan global.
&quot;Uji ketahanan atau stress test BI menunjukkan kuatnya perbankan Indonesia dalam menghadapi tekanan yang saat ini terjadi,&quot; ungkap Perry dalam acara Peluncuran Buku Kajian Stabilitas Keuangan Nomor 40 dikutip Antara di Jakarta, Rabu (10/5/2023).

BACA JUGA:
Cara dan Syarat Ikut Lowongan Kerja di Bank Indonesia, Simak Ya!

Tekanan tersebut yakni baik dari risiko likuiditas, risiko pasar karena kenaikan imbal hasil (yield) surat berharga negara (SBN), volatilitas nilai tukar rupiah, maupun risiko kredit karena rendahnya rasio kredit macet (Non Performing Loan/NPL).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNS8wOC80LzE2NTkzNy81L3g4a3Jkb3U=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Selain dari hasil uji ketahanan, Perry menuturkan daya tahan perbankan Indonesia juga disebabkan oleh sangat terbatasnya eksposur langsung kepemilikan surat berharga dolar AS.

BACA JUGA:
Besok, Operasional Bank Indonesia Kembali Normal

Meski demikian, BI terus memantau dan mewaspadai sejumlah tantangan yang dapat muncul ke depan seperti perlambatan ekonomi dunia, berlanjutnya permasalahan perbankan di AS, pengetatan pasar keuangan global, maupun perlunya implementasi Undang-Undang (UU) Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan untuk transformasi keuangan domestik.Untuk itu, ia menegaskan, sinergi terus diperkuat dalam wadah Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), baik dalam memperkuat pencegahan krisis maupun mendorong kredit pembiayaan ke sektor riil.
Demikian pula dalam hal ini, koordinasi terus dilakukan dengan otoritas sektor keuangan, pelaku sektor keuangan seperti perbankan dan non bank, serta dunia usaha.
&quot;Semuanya diarahkan untuk mendorong pemulihan dan transformasi nasional,&quot; ucap dia.
BI sendiri, lanjut dia, konsisten menempuh kebijakan makroprudensial longgar untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong pemulihan ekonomi nasional.
Kebijakan tersebut dilakukan dalam bauran kebijakan optimal bersama kebijakan moneter yang diarahkan untuk menjaga stabilitas ekonomi, serta kebijakan sistem pembayaran untuk meningkatkan efisiensi pembayaran dan mendorong ekonomi keuangan digital.</description><content:encoded>JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan bahwa sistem keuangan Indonesia berdaya tahan dalam menghadapi dampak penutupan sejumlah bank di Amerika Serikat (AS) maupun pengetatan kondisi pasar keuangan global.
&quot;Uji ketahanan atau stress test BI menunjukkan kuatnya perbankan Indonesia dalam menghadapi tekanan yang saat ini terjadi,&quot; ungkap Perry dalam acara Peluncuran Buku Kajian Stabilitas Keuangan Nomor 40 dikutip Antara di Jakarta, Rabu (10/5/2023).

BACA JUGA:
Cara dan Syarat Ikut Lowongan Kerja di Bank Indonesia, Simak Ya!

Tekanan tersebut yakni baik dari risiko likuiditas, risiko pasar karena kenaikan imbal hasil (yield) surat berharga negara (SBN), volatilitas nilai tukar rupiah, maupun risiko kredit karena rendahnya rasio kredit macet (Non Performing Loan/NPL).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNS8wOC80LzE2NTkzNy81L3g4a3Jkb3U=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Selain dari hasil uji ketahanan, Perry menuturkan daya tahan perbankan Indonesia juga disebabkan oleh sangat terbatasnya eksposur langsung kepemilikan surat berharga dolar AS.

BACA JUGA:
Besok, Operasional Bank Indonesia Kembali Normal

Meski demikian, BI terus memantau dan mewaspadai sejumlah tantangan yang dapat muncul ke depan seperti perlambatan ekonomi dunia, berlanjutnya permasalahan perbankan di AS, pengetatan pasar keuangan global, maupun perlunya implementasi Undang-Undang (UU) Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan untuk transformasi keuangan domestik.Untuk itu, ia menegaskan, sinergi terus diperkuat dalam wadah Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), baik dalam memperkuat pencegahan krisis maupun mendorong kredit pembiayaan ke sektor riil.
Demikian pula dalam hal ini, koordinasi terus dilakukan dengan otoritas sektor keuangan, pelaku sektor keuangan seperti perbankan dan non bank, serta dunia usaha.
&quot;Semuanya diarahkan untuk mendorong pemulihan dan transformasi nasional,&quot; ucap dia.
BI sendiri, lanjut dia, konsisten menempuh kebijakan makroprudensial longgar untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong pemulihan ekonomi nasional.
Kebijakan tersebut dilakukan dalam bauran kebijakan optimal bersama kebijakan moneter yang diarahkan untuk menjaga stabilitas ekonomi, serta kebijakan sistem pembayaran untuk meningkatkan efisiensi pembayaran dan mendorong ekonomi keuangan digital.</content:encoded></item></channel></rss>
