<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bisakah RI Kurangi 70% Sampah Plastik hingga 2025?   </title><description>Masalah sampah plastik di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang belum terselesaikan</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/05/11/320/2812257/bisakah-ri-kurangi-70-sampah-plastik-hingga-2025</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/05/11/320/2812257/bisakah-ri-kurangi-70-sampah-plastik-hingga-2025"/><item><title>Bisakah RI Kurangi 70% Sampah Plastik hingga 2025?   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/05/11/320/2812257/bisakah-ri-kurangi-70-sampah-plastik-hingga-2025</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/05/11/320/2812257/bisakah-ri-kurangi-70-sampah-plastik-hingga-2025</guid><pubDate>Kamis 11 Mei 2023 15:53 WIB</pubDate><dc:creator>Hana Wahyuti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/11/320/2812257/bisakah-ri-kurangi-70-sampah-plastik-hingga-2025-YOX6ds2B28.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sampah Masih Menjadi Masalah di Indonesia. (Foto: Okezone.com/Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/11/320/2812257/bisakah-ri-kurangi-70-sampah-plastik-hingga-2025-YOX6ds2B28.jpg</image><title>Sampah Masih Menjadi Masalah di Indonesia. (Foto: Okezone.com/Antara)</title></images><description>JAKARTA - Masalah sampah plastik di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang belum terselesaikan. Ditambah lagi adanya peredaran galon sekali pakai yang menjadi perhatian karena bertentangan dengan rencana pemerintah untuk mengurangi 70% sampah plastik pada 2025.
&quot;Kampanye masif yang mendorong penggunaan galon sekali pakai ini kontradiktif dengan semangat pengurangan sampah plastik,&quot; kata Juru Kampanye Perkotaan Walhi Abdul Ghofar, di Jakarta, Kamis (11/5/2023).
Dalam satu hingga dua tahun belakangan ini ada satu produk tertentu yang melakukan kampanye penggunaan galon sekali pakai secara intensif.

BACA JUGA:
Keren! Mahasiswa ITS Sulap Sampah Plastik jadi Bahan Bakar

&quot;Ada target mengurangi sebesar-besarnya penggunaan plastik, nah seharusnya penggunaan galon sekali pakai itu tidak dipromosikan secara besar-besaran,&quot; katanya.
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), produksi sampah di Indonesia mencapai 68,5 juta ton pada 2021 lalu. Dari angka tersebut, sebesar 11,6 juta ton atau sekira 17 persen disumbang oleh sampah plastik.
Laporan data produksi sampah plastik nasional di tahun 2021 juga menyebutkan bahwa tipe bahan plastik yang kerap ditemukan adalah Polyethylene Terephthalate (PET). Bahan tersebut merupakan kemasan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) sekali pakai.
Artinya, polusi sampah plastik AMDK masih jadi masalah yang belum teratasi di tanah air. Lembaga riset AC Nielsen mendapati bahwa produk AMDK menyumbang 328.117 ton dari 11,6 juta ton sampah plastik sepanjang tahun 2021.

BACA JUGA:
Siswa SMK di Aceh Ini Sulap Sampah Plastik jadi Paving Block

Kondisi tersebut diperparah dengan minimnya tingkat pengumpulan sampah plastik dan daur ulang di Indonesia. Ghofar mengatakan, angka sampah plastik yang bisa dikumpulkan secara nasional belum menyentuh 15%
Sedangkan sampah plastik yang mampu didaur ulang baru mencapai 10%. Sementara, sebesar 50% sisanya tidak terkelola dan berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).Melihat kondisi itu,  penggunaan galon sekali pakai yang semakin masif justru akan menambah persoalan baru. Dia melanjutkan, semakin banyak produsen memproduksi galon sekali pakai maka akan semakin menggunung pula sampah plastik yang terkumpul.
Data Asosiasi Produsen Air Minum Kemasan Nasional (Asparminas) menyebutkan bahwa penjualan galon sekali pakai mengalami peningkatan menjadi 8% pada awal 2023. Apabila produsen memproduksi 100 juta galon per hari maka dengan peningkatan konsumsi yang terjadi sudah ada 8 juta sampah galon sekali pakai per hari
Artinya, potensi pencemaran lingkungan yang diakibatkan galon sekali pakai juga akan meningkat seiring dengan jumlah produksi mereka karena tidak bisa dibarengi dengan angka kolektif sampah. Terlebih galon sekali pakai muncul dalam ukuran yang lebih kecil dari galon isi ulang sekitar 5 hingga 15 liter untuk ukuran paling besar.</description><content:encoded>JAKARTA - Masalah sampah plastik di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang belum terselesaikan. Ditambah lagi adanya peredaran galon sekali pakai yang menjadi perhatian karena bertentangan dengan rencana pemerintah untuk mengurangi 70% sampah plastik pada 2025.
&quot;Kampanye masif yang mendorong penggunaan galon sekali pakai ini kontradiktif dengan semangat pengurangan sampah plastik,&quot; kata Juru Kampanye Perkotaan Walhi Abdul Ghofar, di Jakarta, Kamis (11/5/2023).
Dalam satu hingga dua tahun belakangan ini ada satu produk tertentu yang melakukan kampanye penggunaan galon sekali pakai secara intensif.

BACA JUGA:
Keren! Mahasiswa ITS Sulap Sampah Plastik jadi Bahan Bakar

&quot;Ada target mengurangi sebesar-besarnya penggunaan plastik, nah seharusnya penggunaan galon sekali pakai itu tidak dipromosikan secara besar-besaran,&quot; katanya.
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), produksi sampah di Indonesia mencapai 68,5 juta ton pada 2021 lalu. Dari angka tersebut, sebesar 11,6 juta ton atau sekira 17 persen disumbang oleh sampah plastik.
Laporan data produksi sampah plastik nasional di tahun 2021 juga menyebutkan bahwa tipe bahan plastik yang kerap ditemukan adalah Polyethylene Terephthalate (PET). Bahan tersebut merupakan kemasan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) sekali pakai.
Artinya, polusi sampah plastik AMDK masih jadi masalah yang belum teratasi di tanah air. Lembaga riset AC Nielsen mendapati bahwa produk AMDK menyumbang 328.117 ton dari 11,6 juta ton sampah plastik sepanjang tahun 2021.

BACA JUGA:
Siswa SMK di Aceh Ini Sulap Sampah Plastik jadi Paving Block

Kondisi tersebut diperparah dengan minimnya tingkat pengumpulan sampah plastik dan daur ulang di Indonesia. Ghofar mengatakan, angka sampah plastik yang bisa dikumpulkan secara nasional belum menyentuh 15%
Sedangkan sampah plastik yang mampu didaur ulang baru mencapai 10%. Sementara, sebesar 50% sisanya tidak terkelola dan berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).Melihat kondisi itu,  penggunaan galon sekali pakai yang semakin masif justru akan menambah persoalan baru. Dia melanjutkan, semakin banyak produsen memproduksi galon sekali pakai maka akan semakin menggunung pula sampah plastik yang terkumpul.
Data Asosiasi Produsen Air Minum Kemasan Nasional (Asparminas) menyebutkan bahwa penjualan galon sekali pakai mengalami peningkatan menjadi 8% pada awal 2023. Apabila produsen memproduksi 100 juta galon per hari maka dengan peningkatan konsumsi yang terjadi sudah ada 8 juta sampah galon sekali pakai per hari
Artinya, potensi pencemaran lingkungan yang diakibatkan galon sekali pakai juga akan meningkat seiring dengan jumlah produksi mereka karena tidak bisa dibarengi dengan angka kolektif sampah. Terlebih galon sekali pakai muncul dalam ukuran yang lebih kecil dari galon isi ulang sekitar 5 hingga 15 liter untuk ukuran paling besar.</content:encoded></item></channel></rss>
