<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Siap-Siap! Harga Produk Mamin Makin Mahal Imbas Kenaikan Harga Gula</title><description>Siap-siap harga produk makanan dan minuman (mamin) mahal karena kenaikan harga gula rafinasi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/05/22/320/2817861/siap-siap-harga-produk-mamin-makin-mahal-imbas-kenaikan-harga-gula</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/05/22/320/2817861/siap-siap-harga-produk-mamin-makin-mahal-imbas-kenaikan-harga-gula"/><item><title>Siap-Siap! Harga Produk Mamin Makin Mahal Imbas Kenaikan Harga Gula</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/05/22/320/2817861/siap-siap-harga-produk-mamin-makin-mahal-imbas-kenaikan-harga-gula</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/05/22/320/2817861/siap-siap-harga-produk-mamin-makin-mahal-imbas-kenaikan-harga-gula</guid><pubDate>Senin 22 Mei 2023 13:19 WIB</pubDate><dc:creator>Dovana Hasiana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/22/320/2817861/siap-siap-harga-produk-mamin-makin-mahal-imbas-kenaikan-harga-gula-1wL5eUue0m.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Harga gula naik (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/22/320/2817861/siap-siap-harga-produk-mamin-makin-mahal-imbas-kenaikan-harga-gula-1wL5eUue0m.jpg</image><title>Harga gula naik (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;mdash; Siap-siap harga produk makanan dan minuman (mamin) mahal karena kenaikan harga gula rafinasi. Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman (GAPMMI) Adhi S Lukman mengatakan pihaknya tengah mempertimbangkan untuk menaikan harga produk industri makanan dan minuman (mamin) pada akhir tahun.

BACA JUGA:
Ibu-Ibu Harga Gula hingga Minyak Goreng Turun, Berikut Rinciannya


Hal ini dilakukan lantaran adanya kenaikan harga gula rafinasi hingga 36,84% menjadi USD26 sen per pon dari harga sebelumnya yakni USD19 sen per pon. Sehingga pihaknya harus mengeluarkan biaya hingga Rp 10.000 untuk membeli satu kilogram gula rafinasi. Angka tersebut naik signifikan dibandingkan harga gula rafinasi per kilogram yang sebelumnya hanya berada pada kisaran Rp7.000 - Rp8.000.
&amp;ldquo;Kenaikan harga di perusahaan besar biasanya terjadi pada awal atau akhir tahun. Kami akan mengkaji untuk kenaikan harga ini di akhir tahun,&amp;rdquo; ujar Ketua Umum GAPMMI, Adhi S Lukman dalam program Market Review IDX Channel, Senin (22/5/2023).

BACA JUGA:
Harga Gula Ditingkat Petani Rp11.500/Kg, di Pasar Berapa?


Adhi mengatakan, jika hingga akhir tahun harga gula rafinasi tidak kunjung mendekati level normal, pihaknya akan menaikkan harga produk. Sehingga terdapat potensi bahwa pihaknya akan menerima keuntungan penjualan yang lebih sedikit.
Menurutnya, kenaikan harga untuk produk industri mamin akan dipertimbangkan dengan matang. Pasalnya, perusahaan besar harus terlebih dahulu bernegosiasi dengan pelaku usaha retail. Di samping itu, Adhi merasa pihaknya juga masih mempertimbangkan daya beli masyarakat pada masa pemulihan dari Pandemi Covid 19.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNy8xMS8wNC8xLzEwNDk1NC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Dengan demikian, pelaku industri mamin melakukan langkah alternatif  untuk memangkas biaya produksi. Di antaranya melakukan efisiensi atau  penghematan ongkos produksi untuk pengeluaran energi dan air untuk  meredam kenaikan harga bahan baku tersebut.
&amp;ldquo;Kalau dilihat, pengeluaran energi dan air cukup besar. Ini yang coba dipangkas untuk menekan biaya produksi,&amp;rdquo; imbuhnya.
Selain itu, perusahaan juga tengah mencari bahan baku alternatif  untuk memangkas biaya produksi. Namun, pihaknya juga berkomitmen untuk  tetap menjaga kualitas dari produknya.
Adhi berharap, tambahan pasokan gula dari Australia pada masa panen  di bulan Juni dan Juli yang akan mendatang dapat membantu untuk  menstabilkan harga. Sehingga biaya produksi bisa kembali normal dan  pihaknya tidak perlu meningkatkan harga produk di akhir tahun.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;mdash; Siap-siap harga produk makanan dan minuman (mamin) mahal karena kenaikan harga gula rafinasi. Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman (GAPMMI) Adhi S Lukman mengatakan pihaknya tengah mempertimbangkan untuk menaikan harga produk industri makanan dan minuman (mamin) pada akhir tahun.

BACA JUGA:
Ibu-Ibu Harga Gula hingga Minyak Goreng Turun, Berikut Rinciannya


Hal ini dilakukan lantaran adanya kenaikan harga gula rafinasi hingga 36,84% menjadi USD26 sen per pon dari harga sebelumnya yakni USD19 sen per pon. Sehingga pihaknya harus mengeluarkan biaya hingga Rp 10.000 untuk membeli satu kilogram gula rafinasi. Angka tersebut naik signifikan dibandingkan harga gula rafinasi per kilogram yang sebelumnya hanya berada pada kisaran Rp7.000 - Rp8.000.
&amp;ldquo;Kenaikan harga di perusahaan besar biasanya terjadi pada awal atau akhir tahun. Kami akan mengkaji untuk kenaikan harga ini di akhir tahun,&amp;rdquo; ujar Ketua Umum GAPMMI, Adhi S Lukman dalam program Market Review IDX Channel, Senin (22/5/2023).

BACA JUGA:
Harga Gula Ditingkat Petani Rp11.500/Kg, di Pasar Berapa?


Adhi mengatakan, jika hingga akhir tahun harga gula rafinasi tidak kunjung mendekati level normal, pihaknya akan menaikkan harga produk. Sehingga terdapat potensi bahwa pihaknya akan menerima keuntungan penjualan yang lebih sedikit.
Menurutnya, kenaikan harga untuk produk industri mamin akan dipertimbangkan dengan matang. Pasalnya, perusahaan besar harus terlebih dahulu bernegosiasi dengan pelaku usaha retail. Di samping itu, Adhi merasa pihaknya juga masih mempertimbangkan daya beli masyarakat pada masa pemulihan dari Pandemi Covid 19.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNy8xMS8wNC8xLzEwNDk1NC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Dengan demikian, pelaku industri mamin melakukan langkah alternatif  untuk memangkas biaya produksi. Di antaranya melakukan efisiensi atau  penghematan ongkos produksi untuk pengeluaran energi dan air untuk  meredam kenaikan harga bahan baku tersebut.
&amp;ldquo;Kalau dilihat, pengeluaran energi dan air cukup besar. Ini yang coba dipangkas untuk menekan biaya produksi,&amp;rdquo; imbuhnya.
Selain itu, perusahaan juga tengah mencari bahan baku alternatif  untuk memangkas biaya produksi. Namun, pihaknya juga berkomitmen untuk  tetap menjaga kualitas dari produknya.
Adhi berharap, tambahan pasokan gula dari Australia pada masa panen  di bulan Juni dan Juli yang akan mendatang dapat membantu untuk  menstabilkan harga. Sehingga biaya produksi bisa kembali normal dan  pihaknya tidak perlu meningkatkan harga produk di akhir tahun.</content:encoded></item></channel></rss>
