<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Habiskan Rp1.112 Triliun, Jepang Gagal Bikin Warganya Mau Hamil?</title><description>Jepang sudah menghabiskan biaya sebesar 10 triliun yen atau setara Rp1.112 triliun untuk meningkatkan populasi penduduk.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/05/23/320/2817950/habiskan-rp1-112-triliun-jepang-gagal-bikin-warganya-mau-hamil</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/05/23/320/2817950/habiskan-rp1-112-triliun-jepang-gagal-bikin-warganya-mau-hamil"/><item><title>Habiskan Rp1.112 Triliun, Jepang Gagal Bikin Warganya Mau Hamil?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/05/23/320/2817950/habiskan-rp1-112-triliun-jepang-gagal-bikin-warganya-mau-hamil</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/05/23/320/2817950/habiskan-rp1-112-triliun-jepang-gagal-bikin-warganya-mau-hamil</guid><pubDate>Selasa 23 Mei 2023 07:41 WIB</pubDate><dc:creator>Safina Asha Jamna</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/22/320/2817950/habiskan-rp1-112-triliun-jepang-gagal-bikin-warganya-mau-hamil-8HGrpwgGwz.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Jepang. (Foto: MPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/22/320/2817950/habiskan-rp1-112-triliun-jepang-gagal-bikin-warganya-mau-hamil-8HGrpwgGwz.jpg</image><title>Jepang. (Foto: MPI)</title></images><description>JAKARTA - Jepang sudah menghabiskan biaya sebesar 10 triliun yen atau setara Rp1.112 triliun untuk meningkatkan populasi penduduk di negaranya yang mencatatkan rekor kelahiran rendah, yakni kurang dari 800.000 pada tahun lalu.

Namun, meski sudah mengeluarkan ribuan triliun Kementerian Keuangan Jepang mengungkapkan sebuah studi yang menyatakan bahwa kebijakan meningkatkan kelahiran di negaranya itu gagal.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Banyak Warga Jepang Kursus Tersenyum, Alasannya Kocak!&amp;nbsp; &amp;nbsp;

&amp;ldquo;Kami paham dari sejarah bahwa jenis kebijakan yang kami sebut sebagai rekayasa demografis, di mana mereka mencoba mendorong perempuan untuk memiliki lebih banyak bayi, tidak berhasil,&amp;rdquo; ujar Alanna Armitage dari Dana Populasi PBB.

Alanna menilai kalau perlu pemahaman mengenai faktor penentu yang mendasari mengapa perempuan enggan memiliki anak. Menurutnya, hal tersebut seringkali dikarenakan tidak bisa menggabungkan kehidupan kerja mereka dengan kehidupan berkeluarga mereka.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Jokowi Bersama Pimpinan Negara G7 Beri Penghormatan pada Korban Bom Hiroshima Jepang

Sementara itu, ada negara-negara yang berhasil dalam menjalankan kebijakan meningkatkan kesuburan populasi penduduknya, seperti Skandinavia.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNS8yMC8xLzE2NjMzOC81L3g4bDJ6OWg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
&amp;ldquo;Alasan utamanya adalah karena mereka memiliki sistem kesejahteraan yang baik dan biaya membesarkan anak lebih murah. Kesetaraan gender mereka juga jauh lebih berimbang dibanding negara-negara Asia,&quot; jelas Alanna.



Baca Selengkapnya: Jepang Habiskan Rp1.112 Triliun agar Warganya Mau Hamil, Hasilnya Mengejutkan
&amp;nbsp;



</description><content:encoded>JAKARTA - Jepang sudah menghabiskan biaya sebesar 10 triliun yen atau setara Rp1.112 triliun untuk meningkatkan populasi penduduk di negaranya yang mencatatkan rekor kelahiran rendah, yakni kurang dari 800.000 pada tahun lalu.

Namun, meski sudah mengeluarkan ribuan triliun Kementerian Keuangan Jepang mengungkapkan sebuah studi yang menyatakan bahwa kebijakan meningkatkan kelahiran di negaranya itu gagal.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Banyak Warga Jepang Kursus Tersenyum, Alasannya Kocak!&amp;nbsp; &amp;nbsp;

&amp;ldquo;Kami paham dari sejarah bahwa jenis kebijakan yang kami sebut sebagai rekayasa demografis, di mana mereka mencoba mendorong perempuan untuk memiliki lebih banyak bayi, tidak berhasil,&amp;rdquo; ujar Alanna Armitage dari Dana Populasi PBB.

Alanna menilai kalau perlu pemahaman mengenai faktor penentu yang mendasari mengapa perempuan enggan memiliki anak. Menurutnya, hal tersebut seringkali dikarenakan tidak bisa menggabungkan kehidupan kerja mereka dengan kehidupan berkeluarga mereka.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Jokowi Bersama Pimpinan Negara G7 Beri Penghormatan pada Korban Bom Hiroshima Jepang

Sementara itu, ada negara-negara yang berhasil dalam menjalankan kebijakan meningkatkan kesuburan populasi penduduknya, seperti Skandinavia.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNS8yMC8xLzE2NjMzOC81L3g4bDJ6OWg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
&amp;ldquo;Alasan utamanya adalah karena mereka memiliki sistem kesejahteraan yang baik dan biaya membesarkan anak lebih murah. Kesetaraan gender mereka juga jauh lebih berimbang dibanding negara-negara Asia,&quot; jelas Alanna.



Baca Selengkapnya: Jepang Habiskan Rp1.112 Triliun agar Warganya Mau Hamil, Hasilnya Mengejutkan
&amp;nbsp;



</content:encoded></item></channel></rss>
