<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Subholding PalmCo Khusus Kelola Bisnis Sawit, Nasib Petani Gimana?</title><description>PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V, VI dan XIII akan bergabung ke dalam PTPN IV atau nantinya dikenal sebagai Sub Holding PalmCo</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/05/30/320/2822596/subholding-palmco-khusus-kelola-bisnis-sawit-nasib-petani-gimana</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/05/30/320/2822596/subholding-palmco-khusus-kelola-bisnis-sawit-nasib-petani-gimana"/><item><title>Subholding PalmCo Khusus Kelola Bisnis Sawit, Nasib Petani Gimana?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/05/30/320/2822596/subholding-palmco-khusus-kelola-bisnis-sawit-nasib-petani-gimana</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/05/30/320/2822596/subholding-palmco-khusus-kelola-bisnis-sawit-nasib-petani-gimana</guid><pubDate>Selasa 30 Mei 2023 17:11 WIB</pubDate><dc:creator>Hana Wahyuti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/30/320/2822596/subholding-palmco-khusus-kelola-bisnis-sawit-nasib-petani-gimana-u84Sxij3ld.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Industri kelapa sawit (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/30/320/2822596/subholding-palmco-khusus-kelola-bisnis-sawit-nasib-petani-gimana-u84Sxij3ld.jpg</image><title>Industri kelapa sawit (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V, VI dan XIII akan bergabung ke dalam PTPN IV atau nantinya dikenal sebagai Sub Holding PalmCo. Sedangkan, PTPN II, VII, VIII, IX, X, XI, XII, dan XIV akan bergabung ke dalam PTPN I atau nantinya dikenal sebagai Sub Holding SupportingCo. Penggabungan Sub Holding PalmCo diharapkan akan segera terlaksana pada 2023.
Sub Holding PalmCo menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas perkebunan. Serta kapasitas produksi komoditas olahan sawit, termasuk hasil panen tandan buah segar (TBS). Termasuk kapasitas produksi crude palm oil (CPO), minyak nabati dan minyak goreng.

BACA JUGA:
Pengusaha Sawit Minta Aturan DMO dan DPO Dihapus, Ini Alasannya


Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia Setiyono, mengatakan keberadaan PalmCo, sub-holding PTPN Group, akan membantu petani sawit di Indonesia.
Dengan kondisi saat ini, ketika sawit masih dikelola secara terpisah di masing-masing anak usaha PTPN, hubungan petani sawit dan perusahaan relatif baik.
&quot;Setelah dibentuk sub holding PalmCo yang khusus mengelola bisnis sawit, kami yakin kemitraan dengan petani akan lebih baik dan efisien,&quot; ujarnya dalam keterangannya, Selasa (30/5/2023).

BACA JUGA:
Sawit hingga Karet Dilarang Masuk Uni Eropa, Begini Reaksi Wamendag


Hal ini menurutnya, karena sebelumnya, satu anak usaha menggarap banyak komoditas, sehingga petani sawit bukan menjadi mitra bisnis utama, tetapi bersaing dengan komoditas karet, coklat hingga teh.
Selama ini, terangnya, anak usaha PTPN Group dibedakan berdasarkan daerah operasi, bukan berdasarkan komoditas. Dengan kehadiran PalmCo, maka petani sawit akan menjadi mitra utama perusahaan, sehingga perhatian kepada petani kepala sawit diyakini juga akan meningkat.
&quot;Nah, ketika mendengar akan ada PalmCo khusus perusahaan palem-palem-an, ya kami senang sekali. Kami yakin, PalmCo akan fokus dengan kepentingan petani sawit,&quot; jelas Setiyono.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8wMS80LzE2MzU0My81L3g4ajVkbno=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Dia mengatakan, sebagai perusahaan khusus sawit yang dikelola untuk  menjadi perusahaan yang lebih besar dari saat ini, PalmCo tentu akan  membutuhkan pasokan bahan baku yang lebih besar juga.
Bahan baku, jelasnya, akan dipasok dari kebun perusahaan dan petani plasma, serta petani swadaya di seluruh Indonesia.
Pada kesempatan itu, dia juga menawarkan kerja sama yang lebih  mengikat dengan PalmCo untuk memastikan ketersediaan bahan baku minyak  sawit.
Selain memastikan kesinambungan pasokan tandan buah segar (TBS) ke  pabrik-pabrik PalmCo, jelanya, Aspekpir juga dapat membantu petani  meningkatkan kualitas buah, seperti yang diharapkan oleh PalmCo.
&quot;Sebagai perusahaan besar, PalmCo pasti butuh kepastian bahan baku  dengan kualitas yang dibutuhkan. Kami bisa berperan di situ karena  berhubungan langsung dengan petani sawit di seluruh Indonesia,x paparnya  lagi.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian, jumlah petani sawit di  Perkebunan Rakyat (PR) pada 2019 diperkirakan mencapai 2,74 juta kepala  keluarga (KK). Angka ini meningkat rata-rata 2,5% hingga 3% per tahun.
Setiyono mengakui dengan banyaknya jumlah petani sawit dan tersebar  di seluruh Indonesia, memang kurang komunikasi dengan perusahaan sawit  masih sering terjadi. Untuk itulah Aspekpir hadir. Setiyono mengakui  pada prinsipnya, Aspekpir membawa kepentingan petani, terutama dari sisi  harga.
Namun, tambahnya lagi, keberhasilan PalmCo mengelola bisnis sawit  juga menjadi kepentingan petani karena jika perusahaan terus berkembang,  maka kebutuhan kelapa sawit juga akan semakin besar.
Dengan demikian, pasar kelapa sawit petani akan semakin besar dan  harga juga tentu akan meningkat dan pada akhirnya mensejahterakan petani  juga.
'Jadi kami sangat mendukung rencana PTPN Gorup memisahkan bisnis kelapa sawit menjadi perusahaan tersendiri PalmCo,&quot; ujarnya.
Sebelumnya, Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara, Mohammad  Abdul Ghani mengumumkan rencana penggabungan 13 perusahaan di bawah  Holding Perkebunan Nusantara, menjadi dua Sub Holding.
&quot;Langkah ini adalah bagian dari transformasi menyeluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Perkebunan,&quot; jelas Abdul Ghani.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V, VI dan XIII akan bergabung ke dalam PTPN IV atau nantinya dikenal sebagai Sub Holding PalmCo. Sedangkan, PTPN II, VII, VIII, IX, X, XI, XII, dan XIV akan bergabung ke dalam PTPN I atau nantinya dikenal sebagai Sub Holding SupportingCo. Penggabungan Sub Holding PalmCo diharapkan akan segera terlaksana pada 2023.
Sub Holding PalmCo menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas perkebunan. Serta kapasitas produksi komoditas olahan sawit, termasuk hasil panen tandan buah segar (TBS). Termasuk kapasitas produksi crude palm oil (CPO), minyak nabati dan minyak goreng.

BACA JUGA:
Pengusaha Sawit Minta Aturan DMO dan DPO Dihapus, Ini Alasannya


Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia Setiyono, mengatakan keberadaan PalmCo, sub-holding PTPN Group, akan membantu petani sawit di Indonesia.
Dengan kondisi saat ini, ketika sawit masih dikelola secara terpisah di masing-masing anak usaha PTPN, hubungan petani sawit dan perusahaan relatif baik.
&quot;Setelah dibentuk sub holding PalmCo yang khusus mengelola bisnis sawit, kami yakin kemitraan dengan petani akan lebih baik dan efisien,&quot; ujarnya dalam keterangannya, Selasa (30/5/2023).

BACA JUGA:
Sawit hingga Karet Dilarang Masuk Uni Eropa, Begini Reaksi Wamendag


Hal ini menurutnya, karena sebelumnya, satu anak usaha menggarap banyak komoditas, sehingga petani sawit bukan menjadi mitra bisnis utama, tetapi bersaing dengan komoditas karet, coklat hingga teh.
Selama ini, terangnya, anak usaha PTPN Group dibedakan berdasarkan daerah operasi, bukan berdasarkan komoditas. Dengan kehadiran PalmCo, maka petani sawit akan menjadi mitra utama perusahaan, sehingga perhatian kepada petani kepala sawit diyakini juga akan meningkat.
&quot;Nah, ketika mendengar akan ada PalmCo khusus perusahaan palem-palem-an, ya kami senang sekali. Kami yakin, PalmCo akan fokus dengan kepentingan petani sawit,&quot; jelas Setiyono.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8wMS80LzE2MzU0My81L3g4ajVkbno=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Dia mengatakan, sebagai perusahaan khusus sawit yang dikelola untuk  menjadi perusahaan yang lebih besar dari saat ini, PalmCo tentu akan  membutuhkan pasokan bahan baku yang lebih besar juga.
Bahan baku, jelasnya, akan dipasok dari kebun perusahaan dan petani plasma, serta petani swadaya di seluruh Indonesia.
Pada kesempatan itu, dia juga menawarkan kerja sama yang lebih  mengikat dengan PalmCo untuk memastikan ketersediaan bahan baku minyak  sawit.
Selain memastikan kesinambungan pasokan tandan buah segar (TBS) ke  pabrik-pabrik PalmCo, jelanya, Aspekpir juga dapat membantu petani  meningkatkan kualitas buah, seperti yang diharapkan oleh PalmCo.
&quot;Sebagai perusahaan besar, PalmCo pasti butuh kepastian bahan baku  dengan kualitas yang dibutuhkan. Kami bisa berperan di situ karena  berhubungan langsung dengan petani sawit di seluruh Indonesia,x paparnya  lagi.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian, jumlah petani sawit di  Perkebunan Rakyat (PR) pada 2019 diperkirakan mencapai 2,74 juta kepala  keluarga (KK). Angka ini meningkat rata-rata 2,5% hingga 3% per tahun.
Setiyono mengakui dengan banyaknya jumlah petani sawit dan tersebar  di seluruh Indonesia, memang kurang komunikasi dengan perusahaan sawit  masih sering terjadi. Untuk itulah Aspekpir hadir. Setiyono mengakui  pada prinsipnya, Aspekpir membawa kepentingan petani, terutama dari sisi  harga.
Namun, tambahnya lagi, keberhasilan PalmCo mengelola bisnis sawit  juga menjadi kepentingan petani karena jika perusahaan terus berkembang,  maka kebutuhan kelapa sawit juga akan semakin besar.
Dengan demikian, pasar kelapa sawit petani akan semakin besar dan  harga juga tentu akan meningkat dan pada akhirnya mensejahterakan petani  juga.
'Jadi kami sangat mendukung rencana PTPN Gorup memisahkan bisnis kelapa sawit menjadi perusahaan tersendiri PalmCo,&quot; ujarnya.
Sebelumnya, Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara, Mohammad  Abdul Ghani mengumumkan rencana penggabungan 13 perusahaan di bawah  Holding Perkebunan Nusantara, menjadi dua Sub Holding.
&quot;Langkah ini adalah bagian dari transformasi menyeluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Perkebunan,&quot; jelas Abdul Ghani.</content:encoded></item></channel></rss>
