<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ini Sederet Tantangan Capai Target Penurunan Kemiskinan Ekstrem 0%</title><description>Sederet tantangan pemerintah untuk mencapai target penurunan kemiskinan ekstrem 0%.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/05/31/320/2823206/ini-sederet-tantangan-capai-target-penurunan-kemiskinan-ekstrem-0</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/05/31/320/2823206/ini-sederet-tantangan-capai-target-penurunan-kemiskinan-ekstrem-0"/><item><title>Ini Sederet Tantangan Capai Target Penurunan Kemiskinan Ekstrem 0%</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/05/31/320/2823206/ini-sederet-tantangan-capai-target-penurunan-kemiskinan-ekstrem-0</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/05/31/320/2823206/ini-sederet-tantangan-capai-target-penurunan-kemiskinan-ekstrem-0</guid><pubDate>Rabu 31 Mei 2023 15:54 WIB</pubDate><dc:creator>Dovana Hasiana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/31/320/2823206/ini-sederet-tantangan-capai-target-penurunan-kemiskinan-ekstrem-0-0B92YsRRRp.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Target kemiskinan ekstrem 0% (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/31/320/2823206/ini-sederet-tantangan-capai-target-penurunan-kemiskinan-ekstrem-0-0B92YsRRRp.jpg</image><title>Target kemiskinan ekstrem 0% (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;mdash; Sederet tantangan pemerintah untuk mencapai target penurunan kemiskinan ekstrem 0%. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Akhmad Akbar Susamto mengatakan terdapat tantangan yang dihadapi oleh pemerintah dalam mencapai target penurunan kemiskinan ekstrem hingga 0%.
Apalagi, Akhmad menambahkan, tingkat kemiskinan ekstrem di bulan Mei 2022 masih mencapai 2,04% atau setara dengan 5,56 juta orang. Menurutnya, pemerintah harus benar-benar serius untuk bisa mencapai target tersebut.

BACA JUGA:
Langkah Sri Mulyani Capai Target Kemiskinan Ekstrem 0% di 2024


&amp;ldquo;Target pemerintah ini adalah menurunkan tingkat kemiskinan ekstrem. Ini adalah masyarakat yang belanja per harinya kurang dari USD 1,9 dolar (setara Rp. 28,4 ribu), tentu perlu strategi khusus untuk mencapai target tersebut,&amp;rdquo; ujar Ekonom CORE, Akhmad Akbar Susamto dalam program Market Review IDX Channel, Rabu (31/5/2023).
Menurutnya, pemerintah harus benar - benar memastikan bahwa 5,56 juta orang tersebut memiliki pendapatan lebih dari USD 1,9 dolar atau setara Rp. 28,4 ribu (asumsi kurs Rp. 14.995). Sehingga masyarakat bisa keluar dari kemiskinan ekstrem tersebut.

BACA JUGA:
Atasi Kemiskinan Ekstrem di Banjarnegara, Ganjar: Bantuan Jangan Dikorupsi!


Selain itu, strategi dengan pendekatan khusus diperlukan untuk menangani kemiskinan ekstrem. Misalnya, memberikan langsung anggaran perlindungan sosial kepada kelompok tersebut. Pasalnya, Akhmad menilai, itu merupakan langkah pertama yang harus dilakukan agar masyarakat bisa keluar dari kemiskinan ekstrem tersebut.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMi8xMS80LzE2MjQ3Ni81L3g4ajVnczU=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
&amp;ldquo;Misalnya kita kasih bantuan, tapi kita suruh bantuan anggaran itu  untuk digunakan untuk buka warung, sementara kebutuhan mereka adalah  untuk makan. Menurut saya, justru mereka harus menggunakan itu untuk  konsumsi sehari-hari agar bisa pengeluaran seharinya bisa lebih dari USD  1,9,&amp;rdquo; bebernya.
Akhmad mengatakan, berdasarkan data yang ada, kemiskinan ekstrem  terjadi pada daerah pedalaman atau pedesaan yang tidak tersentuh oleh  pembangunan. Sehingga mereka hanya merasakan dampak yang kecil dari  pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif pada beberapa waktu terakhir.
&amp;ldquo;Memang perlu strategi khusus untuk masyarakat di pedalaman. Salah  satunya adalah memastikan bahwa produk yang mereka hasilkan melalui  pertanian atau peternakan memiliki nilai ekonomi. Selama ini, masyarakat  pegunungan yang menghasilkan singkong hanya akan menjual singkongnya  dengan harga yang sangat murah,&amp;rdquo; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;mdash; Sederet tantangan pemerintah untuk mencapai target penurunan kemiskinan ekstrem 0%. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Akhmad Akbar Susamto mengatakan terdapat tantangan yang dihadapi oleh pemerintah dalam mencapai target penurunan kemiskinan ekstrem hingga 0%.
Apalagi, Akhmad menambahkan, tingkat kemiskinan ekstrem di bulan Mei 2022 masih mencapai 2,04% atau setara dengan 5,56 juta orang. Menurutnya, pemerintah harus benar-benar serius untuk bisa mencapai target tersebut.

BACA JUGA:
Langkah Sri Mulyani Capai Target Kemiskinan Ekstrem 0% di 2024


&amp;ldquo;Target pemerintah ini adalah menurunkan tingkat kemiskinan ekstrem. Ini adalah masyarakat yang belanja per harinya kurang dari USD 1,9 dolar (setara Rp. 28,4 ribu), tentu perlu strategi khusus untuk mencapai target tersebut,&amp;rdquo; ujar Ekonom CORE, Akhmad Akbar Susamto dalam program Market Review IDX Channel, Rabu (31/5/2023).
Menurutnya, pemerintah harus benar - benar memastikan bahwa 5,56 juta orang tersebut memiliki pendapatan lebih dari USD 1,9 dolar atau setara Rp. 28,4 ribu (asumsi kurs Rp. 14.995). Sehingga masyarakat bisa keluar dari kemiskinan ekstrem tersebut.

BACA JUGA:
Atasi Kemiskinan Ekstrem di Banjarnegara, Ganjar: Bantuan Jangan Dikorupsi!


Selain itu, strategi dengan pendekatan khusus diperlukan untuk menangani kemiskinan ekstrem. Misalnya, memberikan langsung anggaran perlindungan sosial kepada kelompok tersebut. Pasalnya, Akhmad menilai, itu merupakan langkah pertama yang harus dilakukan agar masyarakat bisa keluar dari kemiskinan ekstrem tersebut.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMi8xMS80LzE2MjQ3Ni81L3g4ajVnczU=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
&amp;ldquo;Misalnya kita kasih bantuan, tapi kita suruh bantuan anggaran itu  untuk digunakan untuk buka warung, sementara kebutuhan mereka adalah  untuk makan. Menurut saya, justru mereka harus menggunakan itu untuk  konsumsi sehari-hari agar bisa pengeluaran seharinya bisa lebih dari USD  1,9,&amp;rdquo; bebernya.
Akhmad mengatakan, berdasarkan data yang ada, kemiskinan ekstrem  terjadi pada daerah pedalaman atau pedesaan yang tidak tersentuh oleh  pembangunan. Sehingga mereka hanya merasakan dampak yang kecil dari  pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif pada beberapa waktu terakhir.
&amp;ldquo;Memang perlu strategi khusus untuk masyarakat di pedalaman. Salah  satunya adalah memastikan bahwa produk yang mereka hasilkan melalui  pertanian atau peternakan memiliki nilai ekonomi. Selama ini, masyarakat  pegunungan yang menghasilkan singkong hanya akan menjual singkongnya  dengan harga yang sangat murah,&amp;rdquo; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
