<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pengusaha Tekstil Menjerit Kalah Saing dengan Pakaian Impor, Kini Beralih Bisnis</title><description>Pengusaha tekstil menjerit kalah saing dengan impor pakaian bekas.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/05/31/320/2823295/pengusaha-tekstil-menjerit-kalah-saing-dengan-pakaian-impor-kini-beralih-bisnis</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/05/31/320/2823295/pengusaha-tekstil-menjerit-kalah-saing-dengan-pakaian-impor-kini-beralih-bisnis"/><item><title>Pengusaha Tekstil Menjerit Kalah Saing dengan Pakaian Impor, Kini Beralih Bisnis</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/05/31/320/2823295/pengusaha-tekstil-menjerit-kalah-saing-dengan-pakaian-impor-kini-beralih-bisnis</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/05/31/320/2823295/pengusaha-tekstil-menjerit-kalah-saing-dengan-pakaian-impor-kini-beralih-bisnis</guid><pubDate>Rabu 31 Mei 2023 17:31 WIB</pubDate><dc:creator>Advenia Elisabeth</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/31/320/2823295/pengusaha-tekstil-menjerit-kalah-saing-dengan-pakaian-impor-kini-beralih-bisnis-g2sqjoZs2z.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pengusaha tekstil banting setir (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/31/320/2823295/pengusaha-tekstil-menjerit-kalah-saing-dengan-pakaian-impor-kini-beralih-bisnis-g2sqjoZs2z.jpg</image><title>Pengusaha tekstil banting setir (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Pengusaha tekstil menjerit kalah saing dengan impor pakaian bekas. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Diana Dewi mengungkapkan, saat ini pengusaha tekstil sedang menjerit karena kalah saing dengan pakaian bekas impor yang marak dijual di pasaran.
Dia pun prihatin para konsumen lebih memilih pakaian bekas impor dibandingkan pakaian baru buatan dalam negeri. Imbasnya, tak sedikit para pengusaha tekstil yang keluar dari bisnis utamanya.

BACA JUGA:
Marak Importir Ilegal, Industri Tekstil RI Terancam


&quot;Pengusaha-pengusaha tekstil sudah menjerit semua. Mereka sekarang sudah banyak beralih menggantikan produk main bussiness-nya dia. Itu kan sangat prihatin ya,&quot; ujar Diana saat ditemui MNC Portal di The Sultan Hotel, Jakarta, Rabu (31/5/2023).
Lebih lanjut Diana menerangkan, sebenarnya pakaian impor bekas bisa dihilangkan dari pasaran. Namun, yang terjadi sekarang ini, barang-barang tersebut masih ada dan menjadi kebutuhan masyarakat terhadap barang murah dan trendi. Selain itu, edukasi ke masyarakat juga masih kurang, seperti dampak pada kesehatan kulit.

BACA JUGA:
Waduh! Ribuan Buruh Industri Tekstil Bakal Kena PHK, Ini Penyebabnya


&quot;Kenapa ada produk, karena ada kebutuhan. Ini yang mungkin di hilirnya perlu kita sosialisasi juga, jangan cuma kita bicara ini harganya murah tapi kita takut berdampak yang lain. Misal higienisnya kita pertimbangkan juga. Ini yang harus disosialisasikan kepada teman-teman. Karena ini membantu teman-teman yang distekstil,&quot; paparnya,
Di samping itu, Diana menambahkan, salah satu upaya yang bisa dilakukan oleh pengusaha tekstil agar bisa bersaing dengan produk bekas impor yang digandrungi anak-anak muda, yakni memperbaharui model-model pakaian yang trending. Setidaknya, itu bisa menjadi pilihan para konsumen sebelum membeli pakaian bekas impor.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8xOS8xLzE2NDQxMS81L3g4ajk3OTY=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

&quot;Karena selain dari harganya yang murah, pakaian impor punya passion  masih update sampai sekarang. Kayak gimana sih, modelnya bagus enggak  ada di mana-mana,&quot; pungkas Diana.
Sebelumnya, Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament (Apsyfi)  mengungkapkan, kondisi industri tekstil sudah diambang kemalangan.  Perusahaan berorientasi pasar domestik kini yang paling terancam.
Ketua Umum APSyFI Redma Wirawasta mengatakan, pada kuartal tiga dan  empat tahun 2022 yang lalu, perusahaan pasar ekspor yang terganggu.  Banyak negara yang menutup pintu ekspor karena kondisi ekonomi sedang  menurun. Namun, pada kuartal satu tahun 2023 ini, gantian perusahaan  tujuan pasar domestik yang terancam.
&quot;Di kuartal tiga dan empat tahun lalu kita masih bilang kondisi  industri tekstil serat dan benang ini adalah lampu kuning karena memang  pertumbuhannya sudah melambat tapi kalau sekarang bisa saya bilang sudah  lampu orange, artinya hampir lampu merah,&quot; ujar Redma saat berdialog di  acara Market Review IDX Channel, Rabu (24/5/2023).
Imbasnya, lanjut dia, pemutusan hubungan kerja (PHK) tak terbendung.  Perusahaan tekstil kelas menengah yang tak bisa menjaga cash flownya mau  tidak mau menutup pabrik, buntutnya para pengusaha harus memutus  hubungan kerja dengan pegawainya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Pengusaha tekstil menjerit kalah saing dengan impor pakaian bekas. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Diana Dewi mengungkapkan, saat ini pengusaha tekstil sedang menjerit karena kalah saing dengan pakaian bekas impor yang marak dijual di pasaran.
Dia pun prihatin para konsumen lebih memilih pakaian bekas impor dibandingkan pakaian baru buatan dalam negeri. Imbasnya, tak sedikit para pengusaha tekstil yang keluar dari bisnis utamanya.

BACA JUGA:
Marak Importir Ilegal, Industri Tekstil RI Terancam


&quot;Pengusaha-pengusaha tekstil sudah menjerit semua. Mereka sekarang sudah banyak beralih menggantikan produk main bussiness-nya dia. Itu kan sangat prihatin ya,&quot; ujar Diana saat ditemui MNC Portal di The Sultan Hotel, Jakarta, Rabu (31/5/2023).
Lebih lanjut Diana menerangkan, sebenarnya pakaian impor bekas bisa dihilangkan dari pasaran. Namun, yang terjadi sekarang ini, barang-barang tersebut masih ada dan menjadi kebutuhan masyarakat terhadap barang murah dan trendi. Selain itu, edukasi ke masyarakat juga masih kurang, seperti dampak pada kesehatan kulit.

BACA JUGA:
Waduh! Ribuan Buruh Industri Tekstil Bakal Kena PHK, Ini Penyebabnya


&quot;Kenapa ada produk, karena ada kebutuhan. Ini yang mungkin di hilirnya perlu kita sosialisasi juga, jangan cuma kita bicara ini harganya murah tapi kita takut berdampak yang lain. Misal higienisnya kita pertimbangkan juga. Ini yang harus disosialisasikan kepada teman-teman. Karena ini membantu teman-teman yang distekstil,&quot; paparnya,
Di samping itu, Diana menambahkan, salah satu upaya yang bisa dilakukan oleh pengusaha tekstil agar bisa bersaing dengan produk bekas impor yang digandrungi anak-anak muda, yakni memperbaharui model-model pakaian yang trending. Setidaknya, itu bisa menjadi pilihan para konsumen sebelum membeli pakaian bekas impor.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8xOS8xLzE2NDQxMS81L3g4ajk3OTY=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

&quot;Karena selain dari harganya yang murah, pakaian impor punya passion  masih update sampai sekarang. Kayak gimana sih, modelnya bagus enggak  ada di mana-mana,&quot; pungkas Diana.
Sebelumnya, Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament (Apsyfi)  mengungkapkan, kondisi industri tekstil sudah diambang kemalangan.  Perusahaan berorientasi pasar domestik kini yang paling terancam.
Ketua Umum APSyFI Redma Wirawasta mengatakan, pada kuartal tiga dan  empat tahun 2022 yang lalu, perusahaan pasar ekspor yang terganggu.  Banyak negara yang menutup pintu ekspor karena kondisi ekonomi sedang  menurun. Namun, pada kuartal satu tahun 2023 ini, gantian perusahaan  tujuan pasar domestik yang terancam.
&quot;Di kuartal tiga dan empat tahun lalu kita masih bilang kondisi  industri tekstil serat dan benang ini adalah lampu kuning karena memang  pertumbuhannya sudah melambat tapi kalau sekarang bisa saya bilang sudah  lampu orange, artinya hampir lampu merah,&quot; ujar Redma saat berdialog di  acara Market Review IDX Channel, Rabu (24/5/2023).
Imbasnya, lanjut dia, pemutusan hubungan kerja (PHK) tak terbendung.  Perusahaan tekstil kelas menengah yang tak bisa menjaga cash flownya mau  tidak mau menutup pabrik, buntutnya para pengusaha harus memutus  hubungan kerja dengan pegawainya.</content:encoded></item></channel></rss>
