<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Kepala Bappenas Pendapatan RI Pernah Lampaui China, Kini Kalah Jauh</title><description>Mengukur Indonesia masuk ke dalam negara maju perlu dilakukan perbandingan dengan negara lain.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/06/06/320/2826263/cerita-kepala-bappenas-pendapatan-ri-pernah-lampaui-china-kini-kalah-jauh</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/06/06/320/2826263/cerita-kepala-bappenas-pendapatan-ri-pernah-lampaui-china-kini-kalah-jauh"/><item><title>Cerita Kepala Bappenas Pendapatan RI Pernah Lampaui China, Kini Kalah Jauh</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/06/06/320/2826263/cerita-kepala-bappenas-pendapatan-ri-pernah-lampaui-china-kini-kalah-jauh</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/06/06/320/2826263/cerita-kepala-bappenas-pendapatan-ri-pernah-lampaui-china-kini-kalah-jauh</guid><pubDate>Selasa 06 Juni 2023 19:11 WIB</pubDate><dc:creator> Ikhsan Permana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/06/06/320/2826263/cerita-kepala-bappenas-pendapatan-ri-pernah-lampaui-china-kini-kalah-jauh-kEjIbWbCqi.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi ekonomi RI. (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/06/06/320/2826263/cerita-kepala-bappenas-pendapatan-ri-pernah-lampaui-china-kini-kalah-jauh-kEjIbWbCqi.JPG</image><title>Ilustrasi ekonomi RI. (Foto: Freepik)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Suharso Monoarfa mengatakan bahwa untuk mengukur Indonesia masuk ke dalam negara maju perlu dilakukan perbandingan dengan negara lain menggunakan parameter yang dipakai secara internasional.

Salah satu parameter tersebut adalah pendapatan nasional bruto (Gross National Income/GNI) per kapita. Menurutnya, dari sisi GNI, Indonesia sebentar lagi bakal disusul oleh Vietnam.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Kepala Bappenas Lapor ke Jokowi Pembangunan IKN Sudah 26%

&quot;Indonesia sekarang sudah sebentar lagi kalau dari sisi GNI perkapita itu akan disundul sama Vietnam tinggal sedikit lagi,&quot; kata Suharso dalam acara Rektor Berbicara untu Indonesia Emas 2045 yang dipantau secara daring, Selasa (6/6/2023).

Suharso bercerita bahwa Indonesia bahkan pernah melampaui China soal pendapatan per kapita sekitar tahun 80-an.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Jokowi Tagih Rp1.493 Triliun ke Negara Maju Danai Transisi Energi

&quot;Dulu tahun 80-an kita lebih hebat dari Cina, kita yang lepas dulu dari lower income kemudian masuk di middle income tahun 81, 82-an, tapi kemudian tahun 97 kita turun China melejit,&quot; ujarnya.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8wMi80LzE2MzYxMC81L3g4ajVkaWg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Oleh karena itu menurutnya pemerintah terus berupaya meningkatkan pendapatan per kapita dan diharapkan bisa naik hingga 3-5 kali dari USD4.140 menjadi USD 26.000 hingga USD 30.000.



&quot;Kita ini ingin menjadi bangsa yang hebat, kalau diukur dengan GNI, berdasarkan angka-angka itu kita berharap Indonesia naik sampai 3-4 kali atau bahkan 4-5 kali, dan pada saat itu mungkin kita bisa USD26.000 atau USD30.000 per kapita,&quot; jelasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Suharso Monoarfa mengatakan bahwa untuk mengukur Indonesia masuk ke dalam negara maju perlu dilakukan perbandingan dengan negara lain menggunakan parameter yang dipakai secara internasional.

Salah satu parameter tersebut adalah pendapatan nasional bruto (Gross National Income/GNI) per kapita. Menurutnya, dari sisi GNI, Indonesia sebentar lagi bakal disusul oleh Vietnam.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Kepala Bappenas Lapor ke Jokowi Pembangunan IKN Sudah 26%

&quot;Indonesia sekarang sudah sebentar lagi kalau dari sisi GNI perkapita itu akan disundul sama Vietnam tinggal sedikit lagi,&quot; kata Suharso dalam acara Rektor Berbicara untu Indonesia Emas 2045 yang dipantau secara daring, Selasa (6/6/2023).

Suharso bercerita bahwa Indonesia bahkan pernah melampaui China soal pendapatan per kapita sekitar tahun 80-an.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Jokowi Tagih Rp1.493 Triliun ke Negara Maju Danai Transisi Energi

&quot;Dulu tahun 80-an kita lebih hebat dari Cina, kita yang lepas dulu dari lower income kemudian masuk di middle income tahun 81, 82-an, tapi kemudian tahun 97 kita turun China melejit,&quot; ujarnya.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8wMi80LzE2MzYxMC81L3g4ajVkaWg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Oleh karena itu menurutnya pemerintah terus berupaya meningkatkan pendapatan per kapita dan diharapkan bisa naik hingga 3-5 kali dari USD4.140 menjadi USD 26.000 hingga USD 30.000.



&quot;Kita ini ingin menjadi bangsa yang hebat, kalau diukur dengan GNI, berdasarkan angka-angka itu kita berharap Indonesia naik sampai 3-4 kali atau bahkan 4-5 kali, dan pada saat itu mungkin kita bisa USD26.000 atau USD30.000 per kapita,&quot; jelasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
