<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pembentukan Subholding Palm Co Bisa Perkuat Ketahanan Pangan RI</title><description>Rencana pembentukan Sub Holding Palm Co PTPN bisa meningkatkan kemampuan pemerintah mengelola ketahanan pangan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/06/23/320/2835831/pembentukan-subholding-palm-co-bisa-perkuat-ketahanan-pangan-ri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/06/23/320/2835831/pembentukan-subholding-palm-co-bisa-perkuat-ketahanan-pangan-ri"/><item><title>Pembentukan Subholding Palm Co Bisa Perkuat Ketahanan Pangan RI</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/06/23/320/2835831/pembentukan-subholding-palm-co-bisa-perkuat-ketahanan-pangan-ri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/06/23/320/2835831/pembentukan-subholding-palm-co-bisa-perkuat-ketahanan-pangan-ri</guid><pubDate>Jum'at 23 Juni 2023 12:41 WIB</pubDate><dc:creator>Safina Asha Jamna</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/06/23/320/2835831/pembentukan-subholding-palm-co-bisa-perkuat-ketahanan-pangan-ri-3ojDjdSen6.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pembentukan Palm Co (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/06/23/320/2835831/pembentukan-subholding-palm-co-bisa-perkuat-ketahanan-pangan-ri-3ojDjdSen6.jpg</image><title>Pembentukan Palm Co (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Rencana pembentukan Sub Holding Palm Co PTPN bisa meningkatkan kemampuan pemerintah mengelola ketahanan pangan. Terutama memenuhi kebutuhan minyak goreng di dalam negeri, serta memperkuat program hilirisasi dari sektor perkebunan.
Direktur Riset CORE Indonesia  Piter Abdullah mengatakan, sudah seharusnya Indonesia memiliki BUMN besar yang khusus mengelola minyak sawit. Dengan begitu, pemerintah bisa lebih leluasa dalam mengeluarkan kebijakan saat terjadi gejolak harga.

BACA JUGA:
Program Peremajaan Sawit Rakyat Akan Diterapkan Secara Nasional


Piter mengakui produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia relatif tinggi, sehingga masih menjadi penguasa ekspor minyak sawit mentah di dunia.
Namun, jelasnya, meski produksi tinggi, ancaman terjadinya kelangkaan minyak goreng dan produk turunannya di Indonesia bisa saja terjadi, seperti yang pernah terjadi sebelumnya dampak dari kenaikan harga CPO di luar negeri.

BACA JUGA:
Wapres: RI Fokus Kembangkan Sawit Sebagai Pengganti Bahan Bakar Fosil


&amp;ldquo;Walaupun produksi CPO Indonesia tinggi, pengalaman lalu Indonesia pernah mengalami kelangkaan minyak goreng. Ini terjadi karena harga CPO mahal di luar negeri, sehingga  lebih menguntungkan untuk di ekspor ke luar negeri. Akibatnya, CPO di dalam negeri langka,&amp;rdquo; ujarnya, kepada wartawan, Kamis (22/6/2023).
Namun, dia mengatakan Pemerintah sulit memaksa perusahaan swasta agar mengutamakan kebutuhan pasar dalam negeri, sedangkan selama ini, BUMN perkebunan tidak menguasai mayoritas produksi.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNi8wMS80LzE2Njc0MC81L3g4bGYwN2E=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Tidak hanya dari sisi perusahaan swasta, jelasnya, petani juga lebih  memilih menjual tandan buah segar-nya ke perusahaan swasta untuk diolah  menjadi CPO dan di ekspor karena lebih menguntungkan.
&amp;ldquo;BUMN tidak menguasai mayoritas. Ini yang kiranya menjadi pemicu  pemikiran bahwa Indonesia tidak bisa menyerahkan ini ke swasta. Jadi  saya sependapat, dengan pendirian Palm Co untuk mengimbangi peran swasta  di dalam supply chain CPO,&amp;rdquo; tambahnya.
Lebih jauh, dia mengatakan selama ini jalur penjualan sawit petani  mayoritas ke perusahaan swasta. Hal ini karena perusahaan swasta  memiliki rantai pasok dan pengolakan sawit jadi CPO dan produk  turunannya untuk kemudian diekspor.
Dengan adanya BUMN khusus sawit, yaitu Palm Co, dia menilai akan bisa  membantu meningkatkan kesejahteran petani karena ada jaminan harga.  Kemudian, posisi tawar petani juga meningkat karena ada beberapa  alternatif pembeli sawit.
&amp;ldquo;Bahkan lebih jauh lagi dalam upaya melalukan hilirasisai di sektor  sawit. Saya kira ini juga alasan didirikan Palm Co. Kemudian, ada  penyeimbang dari sisi supply chain sawit dan ini bisa menguntungkan  petani,&amp;rdquo; paparnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Rencana pembentukan Sub Holding Palm Co PTPN bisa meningkatkan kemampuan pemerintah mengelola ketahanan pangan. Terutama memenuhi kebutuhan minyak goreng di dalam negeri, serta memperkuat program hilirisasi dari sektor perkebunan.
Direktur Riset CORE Indonesia  Piter Abdullah mengatakan, sudah seharusnya Indonesia memiliki BUMN besar yang khusus mengelola minyak sawit. Dengan begitu, pemerintah bisa lebih leluasa dalam mengeluarkan kebijakan saat terjadi gejolak harga.

BACA JUGA:
Program Peremajaan Sawit Rakyat Akan Diterapkan Secara Nasional


Piter mengakui produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia relatif tinggi, sehingga masih menjadi penguasa ekspor minyak sawit mentah di dunia.
Namun, jelasnya, meski produksi tinggi, ancaman terjadinya kelangkaan minyak goreng dan produk turunannya di Indonesia bisa saja terjadi, seperti yang pernah terjadi sebelumnya dampak dari kenaikan harga CPO di luar negeri.

BACA JUGA:
Wapres: RI Fokus Kembangkan Sawit Sebagai Pengganti Bahan Bakar Fosil


&amp;ldquo;Walaupun produksi CPO Indonesia tinggi, pengalaman lalu Indonesia pernah mengalami kelangkaan minyak goreng. Ini terjadi karena harga CPO mahal di luar negeri, sehingga  lebih menguntungkan untuk di ekspor ke luar negeri. Akibatnya, CPO di dalam negeri langka,&amp;rdquo; ujarnya, kepada wartawan, Kamis (22/6/2023).
Namun, dia mengatakan Pemerintah sulit memaksa perusahaan swasta agar mengutamakan kebutuhan pasar dalam negeri, sedangkan selama ini, BUMN perkebunan tidak menguasai mayoritas produksi.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNi8wMS80LzE2Njc0MC81L3g4bGYwN2E=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Tidak hanya dari sisi perusahaan swasta, jelasnya, petani juga lebih  memilih menjual tandan buah segar-nya ke perusahaan swasta untuk diolah  menjadi CPO dan di ekspor karena lebih menguntungkan.
&amp;ldquo;BUMN tidak menguasai mayoritas. Ini yang kiranya menjadi pemicu  pemikiran bahwa Indonesia tidak bisa menyerahkan ini ke swasta. Jadi  saya sependapat, dengan pendirian Palm Co untuk mengimbangi peran swasta  di dalam supply chain CPO,&amp;rdquo; tambahnya.
Lebih jauh, dia mengatakan selama ini jalur penjualan sawit petani  mayoritas ke perusahaan swasta. Hal ini karena perusahaan swasta  memiliki rantai pasok dan pengolakan sawit jadi CPO dan produk  turunannya untuk kemudian diekspor.
Dengan adanya BUMN khusus sawit, yaitu Palm Co, dia menilai akan bisa  membantu meningkatkan kesejahteran petani karena ada jaminan harga.  Kemudian, posisi tawar petani juga meningkat karena ada beberapa  alternatif pembeli sawit.
&amp;ldquo;Bahkan lebih jauh lagi dalam upaya melalukan hilirasisai di sektor  sawit. Saya kira ini juga alasan didirikan Palm Co. Kemudian, ada  penyeimbang dari sisi supply chain sawit dan ini bisa menguntungkan  petani,&amp;rdquo; paparnya.</content:encoded></item></channel></rss>
