<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penerbitan Surat Utang di BEI Tembus Rp44,9 Triliun hingga 23 Juni 2023</title><description>Penerbitan surat utang atau obligasi di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tembus Rp44,9 triliun hingga 23 Juni 2023.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/06/26/278/2837181/penerbitan-surat-utang-di-bei-tembus-rp44-9-triliun-hingga-23-juni-2023</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/06/26/278/2837181/penerbitan-surat-utang-di-bei-tembus-rp44-9-triliun-hingga-23-juni-2023"/><item><title>Penerbitan Surat Utang di BEI Tembus Rp44,9 Triliun hingga 23 Juni 2023</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/06/26/278/2837181/penerbitan-surat-utang-di-bei-tembus-rp44-9-triliun-hingga-23-juni-2023</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/06/26/278/2837181/penerbitan-surat-utang-di-bei-tembus-rp44-9-triliun-hingga-23-juni-2023</guid><pubDate>Senin 26 Juni 2023 12:33 WIB</pubDate><dc:creator>Dinar Fitra Maghiszha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/06/26/278/2837181/penerbitan-surat-utang-di-bei-tembus-rp44-9-triliun-hingga-23-juni-2023-aRyh6q0NaW.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Penerbitan obligasi di BEI (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/06/26/278/2837181/penerbitan-surat-utang-di-bei-tembus-rp44-9-triliun-hingga-23-juni-2023-aRyh6q0NaW.jpg</image><title>Penerbitan obligasi di BEI (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Penerbitan surat utang atau obligasi di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tembus Rp44,9 triliun hingga 23 Juni 2023.

BACA JUGA:
RI Kantongi Rp15 Triliun dari Lelang Surat Utang Negara


Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan terdapat 31 penerbit efek bersifat utang (EBUS) dengan total mencapai 40 emisi.
Adapun sampai saat ini, masih terdapat 27 penerbit dan 32 emisi yang masuk pipeline alias antrean penerbitan EBUS. Mayoritas datang dari sektor keuangan.

BACA JUGA:
Usai Terbitkan Surat Utang, PGEO Bakal Rights Issue?


&quot;19 perusahaan dari sektor financials,&quot; kata Nyoman, dikutip Senin (26/6/2023).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8wMi80LzE1OTk3OC81L3g4ajk5ZDk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Sektor industri menyusul dengan diwakili olehh 6 perusahaan, kemudian  sektor energi sebanyak 3 perusahaan yang siap mencatatkan obligasi.
Selanjutnya 2 sektor datang dari infrastruktur, 1 perusahaan  masing-masing dari sektor teknologi, transportasi-logistik, dan 1  lainnya belum ditentukan.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Penerbitan surat utang atau obligasi di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tembus Rp44,9 triliun hingga 23 Juni 2023.

BACA JUGA:
RI Kantongi Rp15 Triliun dari Lelang Surat Utang Negara


Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan terdapat 31 penerbit efek bersifat utang (EBUS) dengan total mencapai 40 emisi.
Adapun sampai saat ini, masih terdapat 27 penerbit dan 32 emisi yang masuk pipeline alias antrean penerbitan EBUS. Mayoritas datang dari sektor keuangan.

BACA JUGA:
Usai Terbitkan Surat Utang, PGEO Bakal Rights Issue?


&quot;19 perusahaan dari sektor financials,&quot; kata Nyoman, dikutip Senin (26/6/2023).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8wMi80LzE1OTk3OC81L3g4ajk5ZDk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Sektor industri menyusul dengan diwakili olehh 6 perusahaan, kemudian  sektor energi sebanyak 3 perusahaan yang siap mencatatkan obligasi.
Selanjutnya 2 sektor datang dari infrastruktur, 1 perusahaan  masing-masing dari sektor teknologi, transportasi-logistik, dan 1  lainnya belum ditentukan.</content:encoded></item></channel></rss>
