<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penerimaan Bea dan Cukai Anjlok Baru Rp118,3 Triliun, Ini Biang Keroknya</title><description>Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati mengantongi penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp118,36 triliun di Mei 2023.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/06/26/320/2837253/penerimaan-bea-dan-cukai-anjlok-baru-rp118-3-triliun-ini-biang-keroknya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/06/26/320/2837253/penerimaan-bea-dan-cukai-anjlok-baru-rp118-3-triliun-ini-biang-keroknya"/><item><title>Penerimaan Bea dan Cukai Anjlok Baru Rp118,3 Triliun, Ini Biang Keroknya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/06/26/320/2837253/penerimaan-bea-dan-cukai-anjlok-baru-rp118-3-triliun-ini-biang-keroknya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/06/26/320/2837253/penerimaan-bea-dan-cukai-anjlok-baru-rp118-3-triliun-ini-biang-keroknya</guid><pubDate>Senin 26 Juni 2023 14:05 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/06/26/320/2837253/penerimaan-bea-dan-cukai-anjlok-baru-rp118-3-triliun-ini-biang-keroknya-8UJuPjKm1A.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi uang negara. (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/06/26/320/2837253/penerimaan-bea-dan-cukai-anjlok-baru-rp118-3-triliun-ini-biang-keroknya-8UJuPjKm1A.JPG</image><title>Ilustrasi uang negara. (Foto: Freepik)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati mengantongi penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp118,36 triliun di Mei 2023.

Angka ini turun 15,64% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (yoy), meski memenuhi 39,04% dari target APBN.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Sri Mulyani Tetap Yakin Ekonomi RI Tumbuh di Atas 5%

&quot;Penerimaan kepabeanan dan cukai melambat dipengaruhi turunnya penerimaan bea keluar (BK) dan cukai,&quot; kata Sri dalam Konferensi Pers APBN KITA di Jakarta, Senin (26/6/2023).

Hanya saja, penerimaan bea masuk (BM) masih mencatatkan kinerja positif. Penerimaan bea masuk tumbuh 7,87% yoy, sebesar Rp20,41 triliun dalam periode Januari-Mei 2023.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Pertumbuhan Ekonomi RI di Atas 5% Selama 6 Kuartal Terakhir, Sri Mulyani: Kita Negara Terkuat

Peningkatan bea masuk ini disebabkan oleh naiknya kurs USD 5,17% yoy, tarif efektif yang naik menjadi 1,46% meskipun utilitisasi FTA naik menjadi 34,95%.

&quot;Komoditas utama penyumbang BM ini tumbuh di antaranya kendaraan roda 4, suku cadang, besi dan baja dasar, serta mesin penambangan,&quot; ungkap Sri.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMi8yMi80LzE2MzE1My81L3g4ajVldDc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Kendati demikian, kinerja impor cenderung menurun secara kumulatif sebesar -3,78% yoy.



Sementara itu, penerimaan akumulatif BK turun hingga -67,52% yoy menjadi Rp5,15 triliun di periode Januari-Mei 2023.



&quot;Ini dipengaruhi harga CPO yang lebih rendah, turunnya volume ekspor mineral, dan turunnya tarif BK tembaga,&quot; tambah Sri.



Kinerja cukai juga menurun hingga 12,73%, akibat penurunan produksi utamanya dari golongan I. Penerimaan Cukai Hasil Tembakau (CHT) mencapai Rp89,95 triliun, menurun 12,45% yoy.



&quot;Ini disebabkan penurunan produksi pada Maret 2023 dipengaruhi lonjakan di basis produksi Maret 2022 akibat kenaikan PPN,&quot; lanjut Sri.



Selain itu, produksi bulan Mei tumbuh 78,83%, namun secara akumulatif turun -3,70% yoy.



&quot;Tarif rata-rata tertimbang naik 3,50%, lebih rendah dari kenaikan normatif 10%, disebabkan masih menurunny produksi SKM dan SPM golongan I (tarif tinggi),&quot; pungkas Sri.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati mengantongi penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp118,36 triliun di Mei 2023.

Angka ini turun 15,64% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (yoy), meski memenuhi 39,04% dari target APBN.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Sri Mulyani Tetap Yakin Ekonomi RI Tumbuh di Atas 5%

&quot;Penerimaan kepabeanan dan cukai melambat dipengaruhi turunnya penerimaan bea keluar (BK) dan cukai,&quot; kata Sri dalam Konferensi Pers APBN KITA di Jakarta, Senin (26/6/2023).

Hanya saja, penerimaan bea masuk (BM) masih mencatatkan kinerja positif. Penerimaan bea masuk tumbuh 7,87% yoy, sebesar Rp20,41 triliun dalam periode Januari-Mei 2023.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Pertumbuhan Ekonomi RI di Atas 5% Selama 6 Kuartal Terakhir, Sri Mulyani: Kita Negara Terkuat

Peningkatan bea masuk ini disebabkan oleh naiknya kurs USD 5,17% yoy, tarif efektif yang naik menjadi 1,46% meskipun utilitisasi FTA naik menjadi 34,95%.

&quot;Komoditas utama penyumbang BM ini tumbuh di antaranya kendaraan roda 4, suku cadang, besi dan baja dasar, serta mesin penambangan,&quot; ungkap Sri.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMi8yMi80LzE2MzE1My81L3g4ajVldDc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Kendati demikian, kinerja impor cenderung menurun secara kumulatif sebesar -3,78% yoy.



Sementara itu, penerimaan akumulatif BK turun hingga -67,52% yoy menjadi Rp5,15 triliun di periode Januari-Mei 2023.



&quot;Ini dipengaruhi harga CPO yang lebih rendah, turunnya volume ekspor mineral, dan turunnya tarif BK tembaga,&quot; tambah Sri.



Kinerja cukai juga menurun hingga 12,73%, akibat penurunan produksi utamanya dari golongan I. Penerimaan Cukai Hasil Tembakau (CHT) mencapai Rp89,95 triliun, menurun 12,45% yoy.



&quot;Ini disebabkan penurunan produksi pada Maret 2023 dipengaruhi lonjakan di basis produksi Maret 2022 akibat kenaikan PPN,&quot; lanjut Sri.



Selain itu, produksi bulan Mei tumbuh 78,83%, namun secara akumulatif turun -3,70% yoy.



&quot;Tarif rata-rata tertimbang naik 3,50%, lebih rendah dari kenaikan normatif 10%, disebabkan masih menurunny produksi SKM dan SPM golongan I (tarif tinggi),&quot; pungkas Sri.</content:encoded></item></channel></rss>
