<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Diterpa Gelombang PHK Massal, Begini Kondisi Startup di Indonesia</title><description>Industri startup diterpa gelombang PHK semenjak pandemi covid-19.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/07/03/320/2840369/diterpa-gelombang-phk-massal-begini-kondisi-startup-di-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/07/03/320/2840369/diterpa-gelombang-phk-massal-begini-kondisi-startup-di-indonesia"/><item><title>Diterpa Gelombang PHK Massal, Begini Kondisi Startup di Indonesia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/07/03/320/2840369/diterpa-gelombang-phk-massal-begini-kondisi-startup-di-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/07/03/320/2840369/diterpa-gelombang-phk-massal-begini-kondisi-startup-di-indonesia</guid><pubDate>Senin 03 Juli 2023 12:21 WIB</pubDate><dc:creator>Heri Purnomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/07/03/320/2840369/diterpa-gelombang-phk-massal-begini-kondisi-startup-di-indonesia-KlplM3OoYN.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Startup diterpa gelombang PHK (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/07/03/320/2840369/diterpa-gelombang-phk-massal-begini-kondisi-startup-di-indonesia-KlplM3OoYN.jpg</image><title>Startup diterpa gelombang PHK (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Industri startup diterpa gelombang PHK semenjak pandemi covid-19. Teranyar, Grab Holdings yang baru saja merumahkan 1.000 karyawan pada bulan lalu.
Ketua Umum Indonesian Digital Empowering Community (Idiec) M. Tesar Sandikapura mengatakan, kondisi startup di Indonesia setelah pandemi setidaknya ada 30 persen startup yang mengalami kebangkrutan. Akan tetapi 30 persen juga mulai bermunculan meski belum seperti sebelum pandemi.

BACA JUGA:
Yayasan Amal Milik George Soros Bakal PHK 40% Karyawan, Ini Alasannya

&quot;Secara singkat sebelum dan after pandemi sudah banyak berubah, ada yang mati dan ada yang tumbuh. Namun yang tumbuh ini belum seperti sebelum pandemi,&quot; katanya dalam Market Review IDXChannel, Senin (3/7/2023).
Meski terdapat startup baru yang tumbuh, Tesar mengatakan startup tersebut perlu melakukan perjuangan yang besar. Pasalnya kondisi setelah pandemi perilaku pasar banyak mengalami perubahan baik dari sisi investor maupun dari sisi pelakunya.

BACA JUGA:
Majalah National Geographic PHK Massal, Ada yang Kerja Selama 40 Tahun

Dia menjelaskan, saat ini banyak investor yang mulai menahan memberikan suntikan dananya kepada para pelaku usaha. Hal tersebut lantaran pengalaman investor dalam menginvestasikan dananya pada saat pandemi yang belum menuaikan hasil.
&quot;Jadi banyak belajar pasca pandemi dan setelahnya di mana dari investor sekarang mereka kembali berpikir lagi untuk menginvestasikan duitnya,&quot; katanya.


Lebih lanjut, Tesar menjelaskan bahwa dari pelaku usahanya juga saat  ini lebih selektif dalam memilih bisnis mana saja yang harus terus  berlanjut untuk diperjuangkan dan mana yang harus di hentikan.
&quot;Karena mereka tidak bisa lagi meminta dana, karena sekarang mereka  sudah kembali ke bisnis yang menang mengharuskan revenue lebih tinggi  daripada operasional. Jadi tidak bisa berikan diskon tinggi,&quot; katanya.
Tesar menjelaskan, bisnis model startup di Indonesia yang masih mampu bertahan ialah bisnis model e-commerce dan live selling.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Industri startup diterpa gelombang PHK semenjak pandemi covid-19. Teranyar, Grab Holdings yang baru saja merumahkan 1.000 karyawan pada bulan lalu.
Ketua Umum Indonesian Digital Empowering Community (Idiec) M. Tesar Sandikapura mengatakan, kondisi startup di Indonesia setelah pandemi setidaknya ada 30 persen startup yang mengalami kebangkrutan. Akan tetapi 30 persen juga mulai bermunculan meski belum seperti sebelum pandemi.

BACA JUGA:
Yayasan Amal Milik George Soros Bakal PHK 40% Karyawan, Ini Alasannya

&quot;Secara singkat sebelum dan after pandemi sudah banyak berubah, ada yang mati dan ada yang tumbuh. Namun yang tumbuh ini belum seperti sebelum pandemi,&quot; katanya dalam Market Review IDXChannel, Senin (3/7/2023).
Meski terdapat startup baru yang tumbuh, Tesar mengatakan startup tersebut perlu melakukan perjuangan yang besar. Pasalnya kondisi setelah pandemi perilaku pasar banyak mengalami perubahan baik dari sisi investor maupun dari sisi pelakunya.

BACA JUGA:
Majalah National Geographic PHK Massal, Ada yang Kerja Selama 40 Tahun

Dia menjelaskan, saat ini banyak investor yang mulai menahan memberikan suntikan dananya kepada para pelaku usaha. Hal tersebut lantaran pengalaman investor dalam menginvestasikan dananya pada saat pandemi yang belum menuaikan hasil.
&quot;Jadi banyak belajar pasca pandemi dan setelahnya di mana dari investor sekarang mereka kembali berpikir lagi untuk menginvestasikan duitnya,&quot; katanya.


Lebih lanjut, Tesar menjelaskan bahwa dari pelaku usahanya juga saat  ini lebih selektif dalam memilih bisnis mana saja yang harus terus  berlanjut untuk diperjuangkan dan mana yang harus di hentikan.
&quot;Karena mereka tidak bisa lagi meminta dana, karena sekarang mereka  sudah kembali ke bisnis yang menang mengharuskan revenue lebih tinggi  daripada operasional. Jadi tidak bisa berikan diskon tinggi,&quot; katanya.
Tesar menjelaskan, bisnis model startup di Indonesia yang masih mampu bertahan ialah bisnis model e-commerce dan live selling.</content:encoded></item></channel></rss>
