<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penyebab Target Investasi Hulu Migas Tak Tercapai di Semester I-2023</title><description>IPA mengungkapkan alasan tidak tercapainya target investasi hulu migas pada semester I-2023</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/07/20/320/2849372/penyebab-target-investasi-hulu-migas-tak-tercapai-di-semester-i-2023</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/07/20/320/2849372/penyebab-target-investasi-hulu-migas-tak-tercapai-di-semester-i-2023"/><item><title>Penyebab Target Investasi Hulu Migas Tak Tercapai di Semester I-2023</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/07/20/320/2849372/penyebab-target-investasi-hulu-migas-tak-tercapai-di-semester-i-2023</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/07/20/320/2849372/penyebab-target-investasi-hulu-migas-tak-tercapai-di-semester-i-2023</guid><pubDate>Kamis 20 Juli 2023 15:06 WIB</pubDate><dc:creator>Atikah Umiyani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/07/20/320/2849372/penyebab-target-investasi-hulu-migas-tak-tercapai-di-semester-i-2023-qfxQzcFh0p.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Penyebab Target Investasi Hulu Migas Indonesia Tidak Tercapai. (Foto: Okezone.com/SKK Migas)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/07/20/320/2849372/penyebab-target-investasi-hulu-migas-tak-tercapai-di-semester-i-2023-qfxQzcFh0p.jpg</image><title>Penyebab Target Investasi Hulu Migas Indonesia Tidak Tercapai. (Foto: Okezone.com/SKK Migas)</title></images><description>JAKARTA - Vice President Indonesian Petroleum Association (IPA) Ronald Gunawan mengungkapkan alasan tidak tercapainya target investasi hulu migas pada semester I-2023. Di mana realisasinya sebesar USD7,4 miliar.
Menurutnya, salah satu penyebab target investasi hulu migas tidak tercapai karena permasalahan rig atau alat pengeboran.
&quot;Jadi yang dibilang sama SKK Migas itu betul, 1.000% betul tapi ini sebetulnya impact dari Covid kemarin. Covid kemarin itu 2020 ya itu kan kegiatan menurun drastis, akibatnya banyak rig-rig darat maupun laut yang istilahnya cold stack. Jadi mereka masukin bawa balik karena (rig) sudah tidak dipakai, waktu itu kan oil price crash itu banyak perusahaan stop drilling kan, jadi rig itu tidak terpakai. Jadi rig itu yang punya rig bawa masuk ke dia punya yard, bawa ke situ aja,&quot; tuturnya, ketika ditemui di Jakarta, Kamis (20/7/2023).

BACA JUGA:
3 Proyek Migas RI Siap Produksi pada 2025-2027

Padahal, lanjutnya, ketika rig dimasukkan ke dalam cold stage diperlukan perawatan atau maintenance karena biasanya tidak berfungsi  dalam jangan waktu yang signifikan.
&quot;Akibatnya saat 2022, 2021, 2022 mulai starting investmen, driling itu kan rig perlu waktu. Perlu di order lagi materialnya, dan tidak semuanya kita mau datang 1 bulan, kadang-kadang 3 sampai 4 bulan. Nah akibatnya supply and demand (jadi) problem, disitu yang kita hadapi. Tapi itu bukan hanya kita aja yang hadapi, negara lain juga hal yang sama. jadi itu faktor-faktor alam itu,&quot; paparnya.

BACA JUGA:
Industri Hulu Migas Bidik Pendapatan Rp560 Triliun di 2023

Lebih lanjut Ronald menuturkan, harga sewa rig untuk kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi yang jauh atau berjarak dari daratan atau offshore mengalami kenaikan yang cukup tinggi pasca pandemi covid-19. Tidak bisa dipungkiri hal itu karena barang yang terbatas namun permintaannya cukup tinggi.&quot;Kalau kita cari sekarang itu susah karena rignya terbatas dan di middle east di Arab Saudi, UEA itu kan mereka lagi butuh banyak rig. Jadi rig marketnya tinggi, otomatis supply nya harganya tinggi,&quot; tuturnya.
Dikatakan Ronald, tidak hanya untuk offshore, rig untuk kegiatan eksplorasi di daratan hingga daerah garis pantai untuk kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi atau onshore juga mengalami kenaikan harga.
&quot;Rig darat juga sama, (namun) kenaikannya belum setinggi rig laut biasanya dia punya supply demand masih oke, jadi kita sekarang agak apa istilahnya ada gap tapi naik tapi tidak separah di offshore,&quot; tukasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Vice President Indonesian Petroleum Association (IPA) Ronald Gunawan mengungkapkan alasan tidak tercapainya target investasi hulu migas pada semester I-2023. Di mana realisasinya sebesar USD7,4 miliar.
Menurutnya, salah satu penyebab target investasi hulu migas tidak tercapai karena permasalahan rig atau alat pengeboran.
&quot;Jadi yang dibilang sama SKK Migas itu betul, 1.000% betul tapi ini sebetulnya impact dari Covid kemarin. Covid kemarin itu 2020 ya itu kan kegiatan menurun drastis, akibatnya banyak rig-rig darat maupun laut yang istilahnya cold stack. Jadi mereka masukin bawa balik karena (rig) sudah tidak dipakai, waktu itu kan oil price crash itu banyak perusahaan stop drilling kan, jadi rig itu tidak terpakai. Jadi rig itu yang punya rig bawa masuk ke dia punya yard, bawa ke situ aja,&quot; tuturnya, ketika ditemui di Jakarta, Kamis (20/7/2023).

BACA JUGA:
3 Proyek Migas RI Siap Produksi pada 2025-2027

Padahal, lanjutnya, ketika rig dimasukkan ke dalam cold stage diperlukan perawatan atau maintenance karena biasanya tidak berfungsi  dalam jangan waktu yang signifikan.
&quot;Akibatnya saat 2022, 2021, 2022 mulai starting investmen, driling itu kan rig perlu waktu. Perlu di order lagi materialnya, dan tidak semuanya kita mau datang 1 bulan, kadang-kadang 3 sampai 4 bulan. Nah akibatnya supply and demand (jadi) problem, disitu yang kita hadapi. Tapi itu bukan hanya kita aja yang hadapi, negara lain juga hal yang sama. jadi itu faktor-faktor alam itu,&quot; paparnya.

BACA JUGA:
Industri Hulu Migas Bidik Pendapatan Rp560 Triliun di 2023

Lebih lanjut Ronald menuturkan, harga sewa rig untuk kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi yang jauh atau berjarak dari daratan atau offshore mengalami kenaikan yang cukup tinggi pasca pandemi covid-19. Tidak bisa dipungkiri hal itu karena barang yang terbatas namun permintaannya cukup tinggi.&quot;Kalau kita cari sekarang itu susah karena rignya terbatas dan di middle east di Arab Saudi, UEA itu kan mereka lagi butuh banyak rig. Jadi rig marketnya tinggi, otomatis supply nya harganya tinggi,&quot; tuturnya.
Dikatakan Ronald, tidak hanya untuk offshore, rig untuk kegiatan eksplorasi di daratan hingga daerah garis pantai untuk kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi atau onshore juga mengalami kenaikan harga.
&quot;Rig darat juga sama, (namun) kenaikannya belum setinggi rig laut biasanya dia punya supply demand masih oke, jadi kita sekarang agak apa istilahnya ada gap tapi naik tapi tidak separah di offshore,&quot; tukasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
