<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>India Stop Ekspor Beras, Apa Dampaknya ke Dunia?</title><description>India stop ekspor beberapa kategori beras.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/07/25/320/2851422/india-stop-ekspor-beras-apa-dampaknya-ke-dunia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/07/25/320/2851422/india-stop-ekspor-beras-apa-dampaknya-ke-dunia"/><item><title>India Stop Ekspor Beras, Apa Dampaknya ke Dunia?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/07/25/320/2851422/india-stop-ekspor-beras-apa-dampaknya-ke-dunia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/07/25/320/2851422/india-stop-ekspor-beras-apa-dampaknya-ke-dunia</guid><pubDate>Selasa 25 Juli 2023 03:39 WIB</pubDate><dc:creator>Nasya Emmanuela Lilipaly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/07/24/320/2851422/india-stop-ekspor-beras-apa-dampaknya-ke-dunia-DC5iDJQIip.jpg" expression="full" type="image/jpeg">India stop ekspor beras (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/07/24/320/2851422/india-stop-ekspor-beras-apa-dampaknya-ke-dunia-DC5iDJQIip.jpg</image><title>India stop ekspor beras (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNy8xOC8xLzE2ODE5OS81L3g4bW01Ynk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - India stop ekspor beberapa kategori beras. Larangan ini dikarenakan kenaikan harga domestik dan kekhawatirannya akan terjadinya kekurangan hasil panen yang selanjutnya, hal tersebut dinilai dapat mendorong harga biji-bijian global saat rawan pangan menjadi hall yang cukup serius.
Dilansir VOA di Jakarta, India negara yang merupakan pengekspor beras terbesar di dunia, menyumbang 40% perdagangan beras ke global, yang di ekspor ke 140 negara.

BACA JUGA:
Bansos Beras 10 Kg Cair Lagi hingga Desember! Anggaran Rp8 Triliun


Saat larangan tersebut diumumkan, pemerintah India mengatakan kalau harga beras mereka itu telah naik 11,5%. Bahkan di satu bulan terakhir kenaikan yang terjadi itu bisa mencapai 30%.
Dalam pernyataannya, Kementerian Urusan Konsumen India mengatakan telah mengubah kebijakan ekspor guna memastikan ketersediaan beras putih non-basmati yang memadai di pasar India, dan untuk menahan kenaikan harga di pasar domestik.
India mengumumkan kalau langkah pelarangan itu hanya tiga hari setelah Rusia menangguhkan &amp;ldquo;Bllack Sea Grain Initiatives&amp;rdquo; yang mengizinkan pengiriman (ekspor) Ukraina lewat Laut Hitam secara aman, memicu peringatan bahwa kedua kebijakan itu berpotensi menyebabkan lonjakan harga.

BACA JUGA:
Sri Mulyani Tambah Anggaran Bansos Beras Rp8 Triliun, Disalurkan Oktober-Desember


Salah satu editor pertanian di surat kabar Indian Express, Harish Damodaran, mengatakan pada VOA mengatakan dampak larangan beras di India pasti akan terasa pada harga global. Ini hanya beberapa hari setelah Rusia memutuskan tidak memperpanjang kesepakatan soal biji-bijian.
&quot;Saat terjadi guncangan harga gandum, larangan ekspor beras India dapat menciptakan guncangan lebih lanjut di pasar pangan global,&quot; katanya.
Para analis memperkirakan India tidak mungkin melonggarkan pembatasan itu, setelah bergulat dengan inflasi pangan.
&amp;ldquo;Kenaikan harga pangan merupakan masalah sensitif bagi pemerintah  India, yang sedang bersiap melangsungkan serangkaian pemilu di sejumlah  negara yang merupakan bagian penting pada akhir tahun ini&amp;rdquo; disusul  pemilu nasional pada April 2024.
Harga beras dan gandum menjadi sorotan utama di negara. Di mana  sereal merupakan bagian utama dari makanan masyarakat berpenghasilan  rendah. India telah memperketat ekspor pertaniannya sejak tahun lalu.  Kebijakan yang melarang ekspor gandum lebih dari satu tahun lalu hingga  kini masih berlaku.
Para analisis juga mengatakan meskipun india menjadi negara  pengekspor beras terbesar kedua. Tetapi, ada kekhawatiran bahwa musim  hujan yang tidak menentu akan merusak tanaman padi yang ditanam Juni  lalu dan sedianya dapat dipanen September nanti.
Hujan lebat di bagian utara India dalam beberapa minggu terakhir  telah memicju banjir dahsyat di daerah-daerah utama penanaman padi.  Sementara curah hujan yang rendah di bagian selatan telah menghalangi  petani menanam padi.
&amp;ldquo;Kami mengalami hujan lebat dan banjir di Punjab dan Haryana, dua  negara bagian yang memasok surplus beras ke negara bagian lain,&amp;rdquo; ujar  analis pertanian Devinder Sharma pada VOA.
&quot;Sementara tragedi di selatan India adalah mereka tidak memiliki  irigasi dan karenanya terdampak parah akibat kurangnya curah hujan. Jadi  semua bisa kacau balau jika panen September nanti gagal&amp;hellip; Oleh karena  itu pemerintah benar-benar hati-hati. Mereka tidak mau mengambil risiko  apapun,&quot; tambahnya.
Pembatasan ekspor beras mengecualikan satu varietas yang sebagian  besarnya di ekspor ke Bangladesh dan beberapa negara lain di Afrika.  Menurut para analis merupakan langkah diplomatik untuk memastikan tetap  terjalinnya hubungan baik negara-negara itu dengan India.
Baca Selengkapnya: India Larang Ekspor Beras, Ini Dampaknya bagi Dunia</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNy8xOC8xLzE2ODE5OS81L3g4bW01Ynk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - India stop ekspor beberapa kategori beras. Larangan ini dikarenakan kenaikan harga domestik dan kekhawatirannya akan terjadinya kekurangan hasil panen yang selanjutnya, hal tersebut dinilai dapat mendorong harga biji-bijian global saat rawan pangan menjadi hall yang cukup serius.
Dilansir VOA di Jakarta, India negara yang merupakan pengekspor beras terbesar di dunia, menyumbang 40% perdagangan beras ke global, yang di ekspor ke 140 negara.

BACA JUGA:
Bansos Beras 10 Kg Cair Lagi hingga Desember! Anggaran Rp8 Triliun


Saat larangan tersebut diumumkan, pemerintah India mengatakan kalau harga beras mereka itu telah naik 11,5%. Bahkan di satu bulan terakhir kenaikan yang terjadi itu bisa mencapai 30%.
Dalam pernyataannya, Kementerian Urusan Konsumen India mengatakan telah mengubah kebijakan ekspor guna memastikan ketersediaan beras putih non-basmati yang memadai di pasar India, dan untuk menahan kenaikan harga di pasar domestik.
India mengumumkan kalau langkah pelarangan itu hanya tiga hari setelah Rusia menangguhkan &amp;ldquo;Bllack Sea Grain Initiatives&amp;rdquo; yang mengizinkan pengiriman (ekspor) Ukraina lewat Laut Hitam secara aman, memicu peringatan bahwa kedua kebijakan itu berpotensi menyebabkan lonjakan harga.

BACA JUGA:
Sri Mulyani Tambah Anggaran Bansos Beras Rp8 Triliun, Disalurkan Oktober-Desember


Salah satu editor pertanian di surat kabar Indian Express, Harish Damodaran, mengatakan pada VOA mengatakan dampak larangan beras di India pasti akan terasa pada harga global. Ini hanya beberapa hari setelah Rusia memutuskan tidak memperpanjang kesepakatan soal biji-bijian.
&quot;Saat terjadi guncangan harga gandum, larangan ekspor beras India dapat menciptakan guncangan lebih lanjut di pasar pangan global,&quot; katanya.
Para analis memperkirakan India tidak mungkin melonggarkan pembatasan itu, setelah bergulat dengan inflasi pangan.
&amp;ldquo;Kenaikan harga pangan merupakan masalah sensitif bagi pemerintah  India, yang sedang bersiap melangsungkan serangkaian pemilu di sejumlah  negara yang merupakan bagian penting pada akhir tahun ini&amp;rdquo; disusul  pemilu nasional pada April 2024.
Harga beras dan gandum menjadi sorotan utama di negara. Di mana  sereal merupakan bagian utama dari makanan masyarakat berpenghasilan  rendah. India telah memperketat ekspor pertaniannya sejak tahun lalu.  Kebijakan yang melarang ekspor gandum lebih dari satu tahun lalu hingga  kini masih berlaku.
Para analisis juga mengatakan meskipun india menjadi negara  pengekspor beras terbesar kedua. Tetapi, ada kekhawatiran bahwa musim  hujan yang tidak menentu akan merusak tanaman padi yang ditanam Juni  lalu dan sedianya dapat dipanen September nanti.
Hujan lebat di bagian utara India dalam beberapa minggu terakhir  telah memicju banjir dahsyat di daerah-daerah utama penanaman padi.  Sementara curah hujan yang rendah di bagian selatan telah menghalangi  petani menanam padi.
&amp;ldquo;Kami mengalami hujan lebat dan banjir di Punjab dan Haryana, dua  negara bagian yang memasok surplus beras ke negara bagian lain,&amp;rdquo; ujar  analis pertanian Devinder Sharma pada VOA.
&quot;Sementara tragedi di selatan India adalah mereka tidak memiliki  irigasi dan karenanya terdampak parah akibat kurangnya curah hujan. Jadi  semua bisa kacau balau jika panen September nanti gagal&amp;hellip; Oleh karena  itu pemerintah benar-benar hati-hati. Mereka tidak mau mengambil risiko  apapun,&quot; tambahnya.
Pembatasan ekspor beras mengecualikan satu varietas yang sebagian  besarnya di ekspor ke Bangladesh dan beberapa negara lain di Afrika.  Menurut para analis merupakan langkah diplomatik untuk memastikan tetap  terjalinnya hubungan baik negara-negara itu dengan India.
Baca Selengkapnya: India Larang Ekspor Beras, Ini Dampaknya bagi Dunia</content:encoded></item></channel></rss>
