<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Turis Asing ke Bali Kena Tarif Retribusi Rp150 Ribu, Luhut: Saya Kira Bagus</title><description>Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meminta pungutan retribusi terhadap wisatawan mancanegara.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/07/25/320/2852059/turis-asing-ke-bali-kena-tarif-retribusi-rp150-ribu-luhut-saya-kira-bagus</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/07/25/320/2852059/turis-asing-ke-bali-kena-tarif-retribusi-rp150-ribu-luhut-saya-kira-bagus"/><item><title>Turis Asing ke Bali Kena Tarif Retribusi Rp150 Ribu, Luhut: Saya Kira Bagus</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/07/25/320/2852059/turis-asing-ke-bali-kena-tarif-retribusi-rp150-ribu-luhut-saya-kira-bagus</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/07/25/320/2852059/turis-asing-ke-bali-kena-tarif-retribusi-rp150-ribu-luhut-saya-kira-bagus</guid><pubDate>Selasa 25 Juli 2023 18:16 WIB</pubDate><dc:creator>Nasya Emmanuela Lilipaly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/07/25/320/2852059/turis-asing-ke-bali-kena-tarif-retribusi-rp150-ribu-luhut-saya-kira-bagus-2lOh2AKTh9.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/07/25/320/2852059/turis-asing-ke-bali-kena-tarif-retribusi-rp150-ribu-luhut-saya-kira-bagus-2lOh2AKTh9.JPG</image><title>Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: Antara)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNy8xOC8xLzE2ODE5Mi81L3g4bWx6Nzc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan memberi saran agar pendapatan yang masuk dari pungutan retribusi terhadap wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk ke Bali digunakan untuk mengelola sampah.



Untuk kebijakan pungutan retribusi bagi wisatawan mancanegara sendiri saat ini rancangan peraturan daerah (raperda) telah disetujui DPRD Bali dan menunggu disahkan Kementerian Dalam Negeri.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Evaluasi Insentif Kendaraan Listrik, Menko Luhut Bakal Nyontek Thailand dan Vietnam


Raperda mengenai pungutan retribusi bagi setiap wisatawan mancanegara yang datang ke Bali sendiri rencananya akan digunakan untuk perlindungan kebudayaan dan lingkungan alam Bali, dengan nominal Rp150 ribu/orang atau USD10 dolar.

&amp;ldquo;Saya kira kalau itu (pungutan retribusi) bagus untuk Bali kenapa tidak dipakai untuk memelihara sampahnya,&amp;rdquo; kata dia usai menghadiri penandatangan MoU program HEAL di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-kura Bali, Denpasar, Selasa (25/7/2023).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

RI Stop Ekspor Gas, Luhut: Tunggu Rapat dengan Presiden

Menurutnya, mengelola sampah di Bali termasuk penting agar tidak justru menjadi polemik di tengah masyarakat akibat bau sampah yang tak terkendali.



&amp;ldquo;Sampah harus dibersihkan, nah kalau ada baunya saya tadi bicara sama Wali Kota Denpasar diperbaiki lah, tapi jangan gunakan itu menjadi isu politik tidak bagus itu perbaiki saja kurangi baunya,&amp;rdquo; jelasnya.




Polemik mengenai sampah ini sendiri muncul belakangan akibat bau busuk yang timbul dari Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kesiman Kertalangu.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Luhut Temui Elon Musk Awal Agustus, Finalisasi Investasi Tesla


Kondisi yang sampai membuat warga harus memasang baliho protes itu terjadi lantaran masuknya sampah lama sehingga menghasilkan bau busuk yang keluar dari cerobong asap.







Luhut pun menyinggung justru dengan tidak diproses seperti di TPST Kertalangu akan memperparah bau busuk dari sampah tersebut.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNy8xOC8xLzE2ODE5Mi81L3g4bWx6Nzc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan memberi saran agar pendapatan yang masuk dari pungutan retribusi terhadap wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk ke Bali digunakan untuk mengelola sampah.



Untuk kebijakan pungutan retribusi bagi wisatawan mancanegara sendiri saat ini rancangan peraturan daerah (raperda) telah disetujui DPRD Bali dan menunggu disahkan Kementerian Dalam Negeri.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Evaluasi Insentif Kendaraan Listrik, Menko Luhut Bakal Nyontek Thailand dan Vietnam


Raperda mengenai pungutan retribusi bagi setiap wisatawan mancanegara yang datang ke Bali sendiri rencananya akan digunakan untuk perlindungan kebudayaan dan lingkungan alam Bali, dengan nominal Rp150 ribu/orang atau USD10 dolar.

&amp;ldquo;Saya kira kalau itu (pungutan retribusi) bagus untuk Bali kenapa tidak dipakai untuk memelihara sampahnya,&amp;rdquo; kata dia usai menghadiri penandatangan MoU program HEAL di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-kura Bali, Denpasar, Selasa (25/7/2023).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

RI Stop Ekspor Gas, Luhut: Tunggu Rapat dengan Presiden

Menurutnya, mengelola sampah di Bali termasuk penting agar tidak justru menjadi polemik di tengah masyarakat akibat bau sampah yang tak terkendali.



&amp;ldquo;Sampah harus dibersihkan, nah kalau ada baunya saya tadi bicara sama Wali Kota Denpasar diperbaiki lah, tapi jangan gunakan itu menjadi isu politik tidak bagus itu perbaiki saja kurangi baunya,&amp;rdquo; jelasnya.




Polemik mengenai sampah ini sendiri muncul belakangan akibat bau busuk yang timbul dari Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kesiman Kertalangu.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Luhut Temui Elon Musk Awal Agustus, Finalisasi Investasi Tesla


Kondisi yang sampai membuat warga harus memasang baliho protes itu terjadi lantaran masuknya sampah lama sehingga menghasilkan bau busuk yang keluar dari cerobong asap.







Luhut pun menyinggung justru dengan tidak diproses seperti di TPST Kertalangu akan memperparah bau busuk dari sampah tersebut.</content:encoded></item></channel></rss>
