<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ternyata Ini Biang Kerok yang Bikin LPG 3 Kg Langka</title><description>Ternyata ini biang kerok yang membuat LPG 3 kilogram (kg) subsidi langka di sejumlah daerah.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/07/27/320/2852966/ternyata-ini-biang-kerok-yang-bikin-lpg-3-kg-langka</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/07/27/320/2852966/ternyata-ini-biang-kerok-yang-bikin-lpg-3-kg-langka"/><item><title>Ternyata Ini Biang Kerok yang Bikin LPG 3 Kg Langka</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/07/27/320/2852966/ternyata-ini-biang-kerok-yang-bikin-lpg-3-kg-langka</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/07/27/320/2852966/ternyata-ini-biang-kerok-yang-bikin-lpg-3-kg-langka</guid><pubDate>Kamis 27 Juli 2023 11:36 WIB</pubDate><dc:creator> Ikhsan Permana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/07/27/320/2852966/ternyata-ini-biang-kerok-yang-bikin-lpg-3-kg-langka-bWxzTDLxgn.png" expression="full" type="image/jpeg">Ini Biang Kerok LPG 3 Kg Langka (Foto: Avi/MPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/07/27/320/2852966/ternyata-ini-biang-kerok-yang-bikin-lpg-3-kg-langka-bWxzTDLxgn.png</image><title>Ini Biang Kerok LPG 3 Kg Langka (Foto: Avi/MPI)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNi8wMS80LzE2NjcyNy81L3g4bGV5NWk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Ternyata ini biang kerok yang membuat LPG 3 kilogram (kg) subsidi langka di sejumlah daerah. Bahkan, kelangkaan LPG 3 kg sudah sampai di telinga Presiden Jokowi hingga Menteri BUMN Erick Thohir.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi mengungkapkan penyebab kelangkaan LPG 3 kg. Menurutnya ada 2 hal LPG 3 kg langka, bahkan kejadian ini terus berulang.

BACA JUGA:Dirut Pertamina: Ketersediaan LPG 3 Kg Terus Dipastikan Aman&amp;nbsp;


Penyebab pertama karena kuota LPG 3 kg yang terbatas. Penyebab kedua karena adanya migrasi konsumen dari awalnya merupakan pengguna LPG 5 kg dan LPG 12 kg non subsidi pindah ke LPG 3 kg subsidi.

&quot;Perpindahan ini akan meningkatkan permintaan dari gas LPG 3 kg yang disubsidi,&quot; kata Fahmy dalam siaran Market Review di IDX Channel, Kamis (27/7/2023).

BACA JUGA:Viral! Warga Antre Panjang demi Gas Elpiji 3 Kg&amp;nbsp;


Dijelaskan Fahmi, masyarakat pindah menggunakan LPG 3 kg karena adanya disparitas harga yang cukup tinggi antara LPG 3 kg subsidi dengan LPG 12 kg non subsidi.

&quot;Kalau 3 kg itu harga subsidi sekitar Rp6.300 per kg tapi kalau untuk 12 kg itu harganya Rp17.000 per kg, ini cukup tinggi sehingga ini menggoda konsumen untuk migrasi,&quot; katanya.

Apalagi sistem penjualan LPG 3 kg masih terbuka, sehingga siapapun bisa bebas membeli LPG 3 kg tanpa adanya larangan. &quot;Oleh karena itu harusnya itu menggunakan sistem distribusi tertutup. Jadi dalam sistem itu penjualan LPG 3 kg yang disubsidi tadi itu ditujukan memang kepada masyarakat yang tidak mampu,&quot; tuturnya.


BACA JUGA:Gas Elpiji 3 Kg Langka Sampai ke Jokowi, Dirut Pertamina Ditelepon Erick Thohir&amp;nbsp;



Dia menyarankan Pertamina agar menggunakan data dari Kementerian Sosial untuk menyalurkan LPG 3 kg sehingga menurutnya tidak akan salah sasaran.



&quot;Pertamina bisa menggunakan data yang dimiliki Kementerian Sosial yang terkait dengan kementerian yang kurang mampu dan data itu selama ini sudah terverifikasi dan digunakan dalam berbagai BLT,&quot; pungkasnya.

</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNi8wMS80LzE2NjcyNy81L3g4bGV5NWk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Ternyata ini biang kerok yang membuat LPG 3 kilogram (kg) subsidi langka di sejumlah daerah. Bahkan, kelangkaan LPG 3 kg sudah sampai di telinga Presiden Jokowi hingga Menteri BUMN Erick Thohir.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi mengungkapkan penyebab kelangkaan LPG 3 kg. Menurutnya ada 2 hal LPG 3 kg langka, bahkan kejadian ini terus berulang.

BACA JUGA:Dirut Pertamina: Ketersediaan LPG 3 Kg Terus Dipastikan Aman&amp;nbsp;


Penyebab pertama karena kuota LPG 3 kg yang terbatas. Penyebab kedua karena adanya migrasi konsumen dari awalnya merupakan pengguna LPG 5 kg dan LPG 12 kg non subsidi pindah ke LPG 3 kg subsidi.

&quot;Perpindahan ini akan meningkatkan permintaan dari gas LPG 3 kg yang disubsidi,&quot; kata Fahmy dalam siaran Market Review di IDX Channel, Kamis (27/7/2023).

BACA JUGA:Viral! Warga Antre Panjang demi Gas Elpiji 3 Kg&amp;nbsp;


Dijelaskan Fahmi, masyarakat pindah menggunakan LPG 3 kg karena adanya disparitas harga yang cukup tinggi antara LPG 3 kg subsidi dengan LPG 12 kg non subsidi.

&quot;Kalau 3 kg itu harga subsidi sekitar Rp6.300 per kg tapi kalau untuk 12 kg itu harganya Rp17.000 per kg, ini cukup tinggi sehingga ini menggoda konsumen untuk migrasi,&quot; katanya.

Apalagi sistem penjualan LPG 3 kg masih terbuka, sehingga siapapun bisa bebas membeli LPG 3 kg tanpa adanya larangan. &quot;Oleh karena itu harusnya itu menggunakan sistem distribusi tertutup. Jadi dalam sistem itu penjualan LPG 3 kg yang disubsidi tadi itu ditujukan memang kepada masyarakat yang tidak mampu,&quot; tuturnya.


BACA JUGA:Gas Elpiji 3 Kg Langka Sampai ke Jokowi, Dirut Pertamina Ditelepon Erick Thohir&amp;nbsp;



Dia menyarankan Pertamina agar menggunakan data dari Kementerian Sosial untuk menyalurkan LPG 3 kg sehingga menurutnya tidak akan salah sasaran.



&quot;Pertamina bisa menggunakan data yang dimiliki Kementerian Sosial yang terkait dengan kementerian yang kurang mampu dan data itu selama ini sudah terverifikasi dan digunakan dalam berbagai BLT,&quot; pungkasnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
