<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ada Subholding PalmCo, Harga Minyak Goreng Dijamin Stabil?</title><description>Subholding PalmCo menjadi jawaban atas permasalahan industri sawit nasional saat ini.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/07/27/320/2853229/ada-subholding-palmco-harga-minyak-goreng-dijamin-stabil</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/07/27/320/2853229/ada-subholding-palmco-harga-minyak-goreng-dijamin-stabil"/><item><title>Ada Subholding PalmCo, Harga Minyak Goreng Dijamin Stabil?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/07/27/320/2853229/ada-subholding-palmco-harga-minyak-goreng-dijamin-stabil</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/07/27/320/2853229/ada-subholding-palmco-harga-minyak-goreng-dijamin-stabil</guid><pubDate>Kamis 27 Juli 2023 17:54 WIB</pubDate><dc:creator>Kharisma Rizkika Rahmawati</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/07/27/320/2853229/ada-subholding-palmco-harga-minyak-goreng-dijamin-stabil-r4qEh0VIvp.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Subholding palmco (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/07/27/320/2853229/ada-subholding-palmco-harga-minyak-goreng-dijamin-stabil-r4qEh0VIvp.jpg</image><title>Subholding palmco (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNi8wMS80LzE2Njc0MC81L3g4bGYwN2E=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Subholding PalmCo menjadi jawaban atas permasalahan industri sawit nasional saat ini, sehingga akan berdampak positif bagi masa depan sawit nasional. PTPN Group berencana memisahkan bisnis sawit ke dalam rencana pendirian sub holding PalmCo.
Direktur Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) Yusuf Wibisono mengatakan, dalam menjalankan perannya menopang perbaikan industri sawit Indonesia, rencana pembentukan PalmCo akan memberikan dampak positif bagi masa depan industri sawit nasional.

BACA JUGA:
BEI Belum Terima Dokumen IPO PalmCo


Pertama, staf pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia itu mengatakan PalmCo akan menjadi agent of development, dengan tugas utama menjaga pasokan dan harga minyak goreng domestik.
Dia mengatakan instabilitas harga minyak goreng domestik selama ini disebabkan oleh kurangnya pasokan dibandingkan dengan kebutuhan konsumsi.

BACA JUGA:
Subholding PalmCo Dibentuk, Produksi Kelapa Sawit Langsung Naik?


&quot;Selama ini stabilisasi harga minyak goreng melalui mekanisme DMO (domestik market obligation) sering kali menemui kegagalan. Dengan pasar yang terintegrasi dengan pasar global dan harga komoditas dunia yang cenderung meningkat, godaan untuk ekspor CPO dan minyak goreng adalah sangat besar,&quot; kata dia di Jakarta, Kamis (27/7/2023).
Dia menyebutkan merebut pasar global merupakan langkah strategis bagi produsen CPO dalam jangka panjang untuk jaminan pemasaran sekaligus keuntungan yang tinggi dengan menjual CPO ke luar negeri.
Hal itu, kata dia, lebih menguntungkan daripada menjualnya sebagai minyak goreng di dalam negeri terkait biaya produksi dan logistik yang cukup tinggi serta kebijakan stabilisasi harga minyak goreng yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat.
Dengan begitu, pembentukan PalmCo, kata dia, dapat menurunkan masalah  oligopoli di industri sawit dan minyak goreng nasional. Karakteristik  industri minyak goreng yang sangat bergantung pada pasokan CPO sebagai  input utamanya, membuat integrasi vertikal menjadi bentuk usaha yang  efisien.
Ketiga, ia mengatakan Palm Co akan memimpin transformasi industri  biodiesel dengan tidak hanya mengandalkan CPO sebagai tulang  punggungnya, namun juga melakukan pengembangan biodiesel berbasis minyak  jelantah.
&quot;Sejak 2015, konglomerasi sawit tidak lagi hanya menguasai perkebunan  sawit di hulu dan industri minyak goreng di hilir, namun kini juga  semakin melebar ke industri biodiesel. Kebijakan biodiesel lahir dari  upaya menahan kejatuhan harga CPO akibat produksi yang berlebihan  seiring ekspansi lahan perkebunan sawit yang masif sejak 2000-an,&quot;  jelasnya.
Untuk menyerap kelebihan pasokan CPO ini maka diciptakanlah  permintaan domestik yang signifikan, yaitu melalui program biodiesel  berbasis CPO sebagai campuran 20 persen solar (B20), yang kemudian  menjadi B30 dan ke depan direncanakan B40.
&quot;Namun karena terdapat selisih harga antara biaya produksi biodiesel  yang tinggi dan harga jual solar yang lebih rendah, maka diberikan  insentif biodiesel yang dananya diambil dari pungutan ekspor CPO,&quot;  tuturnya.
Di sisi lain, pungutan ekspor CPO menekan harga TBS di tingkat  petani, karena eksportir dan pabrik CPO memindahkan beban pungutan  ekspor ke harga beli TBS yang lebih rendah.
Selain itu, besarnya kebutuhan biodiesel berbasis CPO ini telah  mendorong lebih jauh ekspansi lahan sawit sehingga memberi ancaman besar  bagi deforestasi. Untuk itu, ia berharap dengan strategi yang tepat,  maka Palm Co di masa mendatang dapat turut ambil bagian dalam  pengembangan biodiesel namun dengan cara yang ramah.
Keempat, PalmCo diharapkan mampu membantu memangkas masalah tata  niaga sawit. Sebagai perusahaan baru, sub-holding PalmCo ini diharapkan  tidak berperilaku sebagaimana korporasi sawit besar lainnya yang  cenderung memiliki banyak masalah. Mengingat di Indonesia saat ini,  rantai pasok industri kelapa sawit nasional didominasi segelintir  kelompok usaha besar.
Selain merusak lingkungan karena membuka lahan dalam skala besar,  sejumlah permasalahan utama industri sawit nasional berkaitan dengan  perizinan perkebunan kelapa sawit yang tidak akuntabel, pengendalian  pungutan ekspor komoditas sawit yang tidak efektif dan pemungutan pajak  di sektor kelapa sawit yang tidak optimal.
&quot;Kemudian yang ke lima, PalmCo tidak bertabrakan dengan agenda  ketahanan pangan. Pembentukan sub holding Palm Co ini diharapkan tidak  bertabrakan dengan agenda pemerintah lainnya, seperti rencana percepatan  swasembada gula nasional dan penyediaan bioetanol sebagai bahan bakar  nabati (biofuel),&quot; urainya.
Dia mencontohkan salah satu Sub holding Sugar Co yang sukses  merevitalisasi industri gula nasional dan meningkatkan produksi gula  nasional. Kemudian, terakhir ia menjelaskan sebagai perusahaan yang  sudah memiliki lahan luas, Palm Co dalam operasionalnya diharapkan tidak  terlibat dalam deforestasi. Dari hasil merger sejumlah unit usaha sawit  PTPN Group, PalmCo akan memiliki lahan seluas 500.000 ha.
Ditambah konversi lahan karet, tebu dan lain yang selama ini dinilai  idle seluas 200.000 ha, PalmCo ke depan akan menguasai total lahan  mencapai 700.000 ha. Namun, konversi lahan diharapkan berkoordinasi  dengan target produksi gula dan karet nasional.
Lahan Palmco ini jauh di atas perusahaan sawit swasta besar nasional  dan di regional. Sehingga, diharapkan tidak membutuhkan ekspansi lahan  yang mengorbankan lahan hutan, seperti yang dilakukan perusahaan besar  selama ini.
&quot;Di sisi lain, lapangan pekerjaan yang diciptakan perkebunan besar  bagi masyarakat lokal adalah terbatas dan dengan kualitas pekerjaan yang  semakin menurun, seiring dominasi pekerja kontrak dengan upah murah,&quot;  demikian Yusuf.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNi8wMS80LzE2Njc0MC81L3g4bGYwN2E=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Subholding PalmCo menjadi jawaban atas permasalahan industri sawit nasional saat ini, sehingga akan berdampak positif bagi masa depan sawit nasional. PTPN Group berencana memisahkan bisnis sawit ke dalam rencana pendirian sub holding PalmCo.
Direktur Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) Yusuf Wibisono mengatakan, dalam menjalankan perannya menopang perbaikan industri sawit Indonesia, rencana pembentukan PalmCo akan memberikan dampak positif bagi masa depan industri sawit nasional.

BACA JUGA:
BEI Belum Terima Dokumen IPO PalmCo


Pertama, staf pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia itu mengatakan PalmCo akan menjadi agent of development, dengan tugas utama menjaga pasokan dan harga minyak goreng domestik.
Dia mengatakan instabilitas harga minyak goreng domestik selama ini disebabkan oleh kurangnya pasokan dibandingkan dengan kebutuhan konsumsi.

BACA JUGA:
Subholding PalmCo Dibentuk, Produksi Kelapa Sawit Langsung Naik?


&quot;Selama ini stabilisasi harga minyak goreng melalui mekanisme DMO (domestik market obligation) sering kali menemui kegagalan. Dengan pasar yang terintegrasi dengan pasar global dan harga komoditas dunia yang cenderung meningkat, godaan untuk ekspor CPO dan minyak goreng adalah sangat besar,&quot; kata dia di Jakarta, Kamis (27/7/2023).
Dia menyebutkan merebut pasar global merupakan langkah strategis bagi produsen CPO dalam jangka panjang untuk jaminan pemasaran sekaligus keuntungan yang tinggi dengan menjual CPO ke luar negeri.
Hal itu, kata dia, lebih menguntungkan daripada menjualnya sebagai minyak goreng di dalam negeri terkait biaya produksi dan logistik yang cukup tinggi serta kebijakan stabilisasi harga minyak goreng yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat.
Dengan begitu, pembentukan PalmCo, kata dia, dapat menurunkan masalah  oligopoli di industri sawit dan minyak goreng nasional. Karakteristik  industri minyak goreng yang sangat bergantung pada pasokan CPO sebagai  input utamanya, membuat integrasi vertikal menjadi bentuk usaha yang  efisien.
Ketiga, ia mengatakan Palm Co akan memimpin transformasi industri  biodiesel dengan tidak hanya mengandalkan CPO sebagai tulang  punggungnya, namun juga melakukan pengembangan biodiesel berbasis minyak  jelantah.
&quot;Sejak 2015, konglomerasi sawit tidak lagi hanya menguasai perkebunan  sawit di hulu dan industri minyak goreng di hilir, namun kini juga  semakin melebar ke industri biodiesel. Kebijakan biodiesel lahir dari  upaya menahan kejatuhan harga CPO akibat produksi yang berlebihan  seiring ekspansi lahan perkebunan sawit yang masif sejak 2000-an,&quot;  jelasnya.
Untuk menyerap kelebihan pasokan CPO ini maka diciptakanlah  permintaan domestik yang signifikan, yaitu melalui program biodiesel  berbasis CPO sebagai campuran 20 persen solar (B20), yang kemudian  menjadi B30 dan ke depan direncanakan B40.
&quot;Namun karena terdapat selisih harga antara biaya produksi biodiesel  yang tinggi dan harga jual solar yang lebih rendah, maka diberikan  insentif biodiesel yang dananya diambil dari pungutan ekspor CPO,&quot;  tuturnya.
Di sisi lain, pungutan ekspor CPO menekan harga TBS di tingkat  petani, karena eksportir dan pabrik CPO memindahkan beban pungutan  ekspor ke harga beli TBS yang lebih rendah.
Selain itu, besarnya kebutuhan biodiesel berbasis CPO ini telah  mendorong lebih jauh ekspansi lahan sawit sehingga memberi ancaman besar  bagi deforestasi. Untuk itu, ia berharap dengan strategi yang tepat,  maka Palm Co di masa mendatang dapat turut ambil bagian dalam  pengembangan biodiesel namun dengan cara yang ramah.
Keempat, PalmCo diharapkan mampu membantu memangkas masalah tata  niaga sawit. Sebagai perusahaan baru, sub-holding PalmCo ini diharapkan  tidak berperilaku sebagaimana korporasi sawit besar lainnya yang  cenderung memiliki banyak masalah. Mengingat di Indonesia saat ini,  rantai pasok industri kelapa sawit nasional didominasi segelintir  kelompok usaha besar.
Selain merusak lingkungan karena membuka lahan dalam skala besar,  sejumlah permasalahan utama industri sawit nasional berkaitan dengan  perizinan perkebunan kelapa sawit yang tidak akuntabel, pengendalian  pungutan ekspor komoditas sawit yang tidak efektif dan pemungutan pajak  di sektor kelapa sawit yang tidak optimal.
&quot;Kemudian yang ke lima, PalmCo tidak bertabrakan dengan agenda  ketahanan pangan. Pembentukan sub holding Palm Co ini diharapkan tidak  bertabrakan dengan agenda pemerintah lainnya, seperti rencana percepatan  swasembada gula nasional dan penyediaan bioetanol sebagai bahan bakar  nabati (biofuel),&quot; urainya.
Dia mencontohkan salah satu Sub holding Sugar Co yang sukses  merevitalisasi industri gula nasional dan meningkatkan produksi gula  nasional. Kemudian, terakhir ia menjelaskan sebagai perusahaan yang  sudah memiliki lahan luas, Palm Co dalam operasionalnya diharapkan tidak  terlibat dalam deforestasi. Dari hasil merger sejumlah unit usaha sawit  PTPN Group, PalmCo akan memiliki lahan seluas 500.000 ha.
Ditambah konversi lahan karet, tebu dan lain yang selama ini dinilai  idle seluas 200.000 ha, PalmCo ke depan akan menguasai total lahan  mencapai 700.000 ha. Namun, konversi lahan diharapkan berkoordinasi  dengan target produksi gula dan karet nasional.
Lahan Palmco ini jauh di atas perusahaan sawit swasta besar nasional  dan di regional. Sehingga, diharapkan tidak membutuhkan ekspansi lahan  yang mengorbankan lahan hutan, seperti yang dilakukan perusahaan besar  selama ini.
&quot;Di sisi lain, lapangan pekerjaan yang diciptakan perkebunan besar  bagi masyarakat lokal adalah terbatas dan dengan kualitas pekerjaan yang  semakin menurun, seiring dominasi pekerja kontrak dengan upah murah,&quot;  demikian Yusuf.</content:encoded></item></channel></rss>
