<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sri Mulyani Tegaskan Stabilitas Sistem Keuangan RI Terjaga, Ini Buktinya</title><description>Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan Stabilitas Sistem  Keuangan (SSK) pada triwulan II-2023 terjaga pada kondisi resilien.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/01/320/2855662/sri-mulyani-tegaskan-stabilitas-sistem-keuangan-ri-terjaga-ini-buktinya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/08/01/320/2855662/sri-mulyani-tegaskan-stabilitas-sistem-keuangan-ri-terjaga-ini-buktinya"/><item><title>Sri Mulyani Tegaskan Stabilitas Sistem Keuangan RI Terjaga, Ini Buktinya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/01/320/2855662/sri-mulyani-tegaskan-stabilitas-sistem-keuangan-ri-terjaga-ini-buktinya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/08/01/320/2855662/sri-mulyani-tegaskan-stabilitas-sistem-keuangan-ri-terjaga-ini-buktinya</guid><pubDate>Selasa 01 Agustus 2023 17:31 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/01/320/2855662/sri-mulyani-tegaskan-stabilitas-sistem-keuangan-ri-terjaga-ini-buktinya-VyMyERrEuF.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Stabilitas ekonomi RI terjaga (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/01/320/2855662/sri-mulyani-tegaskan-stabilitas-sistem-keuangan-ri-terjaga-ini-buktinya-VyMyERrEuF.jpg</image><title>Stabilitas ekonomi RI terjaga (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNC8xMS80LzE2NTE0OC81L3g4ano2NWI=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) pada triwulan II-2023 terjaga pada kondisi resilien. Menurutnya,  Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) berkomitmen untuk terus melanjutkan perkuatan koordinasi dan sekaligus meningkatkan kewaspadaan perkembangan risiko global ke depan.
&quot;Termasuk mewaspadai potensi rambatan dampak global terhadap perekonomian dan khususnya sektor keuangan domestik,&quot; ungkap Sri selaku KSSK menyebutkan dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala KSSK Triwulan-II 2023 di Jakarta, Selasa (1/8/2023).

BACA JUGA:
Ini Reaksi Stafsus Sri Mulyani Respons Pidato AHY soal Utang, Cek Datanya


Dia mewaspadai ketidakpastian ekonomi global masih tetap tinggi. Memang, lanjut dia, IMF merevisi proyeksi pertumbuhan global menjadi lebih baik di 3% yoy untuk 2023 dibandingkan 2,8% di 2022.
&quot;Ini adalah yang dikeluarkan April lalu. Pertumbuhan ekonomi negara maju, seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa diperkirakan agak sedikit lebih baik dari proyeksi sebelumnya,&quot; ucap Sri.

BACA JUGA:
Sri Mulyani Sebut Banyak Negara Akan Resesi


Sementara itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi China tetap sama, namun risiko tertahannya konsumsi dan investasi khususnya di sektor properti dari China akan menghambat dan perlu diwaspadai.
&quot;Tekanan inflasi dari negara-negara maju masih relatif tinggi meski ada tren penurunan. Ini dipengaruhi perekonomian yang masih tetap kuat dan pasar tenaga kerja yang relatif ketat,&quot; sambung Sri.
Hal ini mendorong kenaikan suku bunga moneter negara maju, dan Fed  Funs Rate  sudah menaikkan 25 bps baru-baru ini. Perkembangan ini  membuat aliran modal ke negara berkembang lebih selektif  berpotensi  meningkatkan tekanan termasuk nilai tukar di negara berkembang, termasuk  ke Indonesia.
&quot;Oleh karena itu diperlukan penguatan respons kebijakan untuk kita dapat memitigasi risiko rambatan global,&quot; pungkas Sri.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNC8xMS80LzE2NTE0OC81L3g4ano2NWI=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) pada triwulan II-2023 terjaga pada kondisi resilien. Menurutnya,  Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) berkomitmen untuk terus melanjutkan perkuatan koordinasi dan sekaligus meningkatkan kewaspadaan perkembangan risiko global ke depan.
&quot;Termasuk mewaspadai potensi rambatan dampak global terhadap perekonomian dan khususnya sektor keuangan domestik,&quot; ungkap Sri selaku KSSK menyebutkan dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala KSSK Triwulan-II 2023 di Jakarta, Selasa (1/8/2023).

BACA JUGA:
Ini Reaksi Stafsus Sri Mulyani Respons Pidato AHY soal Utang, Cek Datanya


Dia mewaspadai ketidakpastian ekonomi global masih tetap tinggi. Memang, lanjut dia, IMF merevisi proyeksi pertumbuhan global menjadi lebih baik di 3% yoy untuk 2023 dibandingkan 2,8% di 2022.
&quot;Ini adalah yang dikeluarkan April lalu. Pertumbuhan ekonomi negara maju, seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa diperkirakan agak sedikit lebih baik dari proyeksi sebelumnya,&quot; ucap Sri.

BACA JUGA:
Sri Mulyani Sebut Banyak Negara Akan Resesi


Sementara itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi China tetap sama, namun risiko tertahannya konsumsi dan investasi khususnya di sektor properti dari China akan menghambat dan perlu diwaspadai.
&quot;Tekanan inflasi dari negara-negara maju masih relatif tinggi meski ada tren penurunan. Ini dipengaruhi perekonomian yang masih tetap kuat dan pasar tenaga kerja yang relatif ketat,&quot; sambung Sri.
Hal ini mendorong kenaikan suku bunga moneter negara maju, dan Fed  Funs Rate  sudah menaikkan 25 bps baru-baru ini. Perkembangan ini  membuat aliran modal ke negara berkembang lebih selektif  berpotensi  meningkatkan tekanan termasuk nilai tukar di negara berkembang, termasuk  ke Indonesia.
&quot;Oleh karena itu diperlukan penguatan respons kebijakan untuk kita dapat memitigasi risiko rambatan global,&quot; pungkas Sri.</content:encoded></item></channel></rss>
