<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BEI Beri Stempel E untuk Saham Indofarma (INAF), Kenapa?</title><description>Bursa Efek Indonesia (BEI) memberi stempel E untuk perusahaan BUMN Farmasi PT Indofarma Tbk (INAF).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/04/278/2857581/bei-beri-stempel-e-untuk-saham-indofarma-inaf-kenapa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/08/04/278/2857581/bei-beri-stempel-e-untuk-saham-indofarma-inaf-kenapa"/><item><title>BEI Beri Stempel E untuk Saham Indofarma (INAF), Kenapa?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/04/278/2857581/bei-beri-stempel-e-untuk-saham-indofarma-inaf-kenapa</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/08/04/278/2857581/bei-beri-stempel-e-untuk-saham-indofarma-inaf-kenapa</guid><pubDate>Jum'at 04 Agustus 2023 12:16 WIB</pubDate><dc:creator>Dinar Fitra Maghiszha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/04/278/2857581/bei-beri-stempel-e-untuk-saham-indofarma-inaf-kenapa-LWFG3w4vQd.jpg" expression="full" type="image/jpeg">BEI beri stempel E untuk saham INAF (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/04/278/2857581/bei-beri-stempel-e-untuk-saham-indofarma-inaf-kenapa-LWFG3w4vQd.jpg</image><title>BEI beri stempel E untuk saham INAF (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8wMi80LzE1OTk3OC81L3g4ajk5ZDk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Bursa Efek Indonesia (BEI) memberi stempel E untuk perusahaan BUMN Farmasi PT Indofarma Tbk (INAF). Saham INAF resmi masuk sebagai anggota papan pemantauan khusus Bursa Efek Indonesia (BEI).
BEI juga memberikan notasi khusus 'E' terhadap INAF sebagai penanda bagi investor sebelum mengambil keputusan investasi. Kebijakan ini resmi efektif pada Jumat, (4/8/2023).

BACA JUGA:
BEI Edukasi soal Saham ke 1.000 PNS


Laporan keuangan INAF pada semester I-2023 menunjukkan perseroan mengalami defisiensi modal atau ekuitas negatif. Kondisi ini terjadi saat jumlah utang/kewajiban (liabilitas) perseroan lebih besar atau melebihi asetnya.
Hingga 30 Juni 2023, jumlah liabilitas INAF mencapai Rp1,59 triliun, menanjak secara tahunan (yoy) dibandingkan periode sama tahun 2022 senilai Rp1,44 triliun. Sedangkan aset INAF pada paruh pertama mencapai Rp1,55 triliun.

BACA JUGA:
Calon Emiten BEI (GRIA) Tawarkan Harga Rp120/Saham


Artinya INAF merealisasikan defisiensi modal senilai Rp33,99 miliar, berbalik dari posisi ekuitas positif pada semester pertama tahun lalu. Performa di pos neraca ini juga memburuk jika dibandingkan posisi ekuitas pada kuartal I-2023 yang positif sebesar Rp24,55 miliar.
Apa sebabnya?
Penyebabnya adalah tumpukan defisit rugi. Diketahui, INAF menanggung  defisit rugi senilai Rp736,64 miliar pada semester I-2023, meningkat  dari posisi kuartal I-2023 senilai Rp678,09 miliar. Jika dibandingkan  secara tahunan (yoy), maka defisit INAF naik 19,52% yoy.
Laporan laba/rugi INAF pada paruh pertama tahu ini menunjukkan  realisasi rugi sebesar Rp120,34 miliar, naik 32,66% yoy. Kerugian  terjadi seiring penurunan penjualan bersih. Ini mendorong rugi per saham  dasar INAF semakin menciut secara tahunan menjadi minus Rp38,83 per  saham, dari Rp29,27 per saham.
Membengkaknya rugi dipicu penjualan yang anjlok 36,59% yoy menjadi  Rp363,96 miliar, dibandingkan semester satu tahun lalu di angka Rp574,05  miliar. Produk obat etikal (resep) di pasar domestik masih menjadi  tulang punggung pemasukan senilai Rp208,54 miliar, disusul fast moving  consume goods (FMCG) sebanyak Rp84,76 miliar.
Kontribusi alat kesehatan hingga jasa klinik memberi pemasukan  senilai Rp16,94 miliar, sementara vaksin sebesar Rp32,92 miliar, dan  over-the-counter Rp6,67 miliar.
Dari sisi pengeluaran, beban produksi ikut tergerus mengikuti  penurunan penjualan. Demikian juga ongkos penjualan yang mencapai  Rp52,38 miliar. Di sisi lain, gaji dan jaminan sosial (di pos  administratif) justru naik secara tahunan (yoy) menjadi Rp44,86 miliar,  dari Rp36,68 miliar.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8wMi80LzE1OTk3OC81L3g4ajk5ZDk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Bursa Efek Indonesia (BEI) memberi stempel E untuk perusahaan BUMN Farmasi PT Indofarma Tbk (INAF). Saham INAF resmi masuk sebagai anggota papan pemantauan khusus Bursa Efek Indonesia (BEI).
BEI juga memberikan notasi khusus 'E' terhadap INAF sebagai penanda bagi investor sebelum mengambil keputusan investasi. Kebijakan ini resmi efektif pada Jumat, (4/8/2023).

BACA JUGA:
BEI Edukasi soal Saham ke 1.000 PNS


Laporan keuangan INAF pada semester I-2023 menunjukkan perseroan mengalami defisiensi modal atau ekuitas negatif. Kondisi ini terjadi saat jumlah utang/kewajiban (liabilitas) perseroan lebih besar atau melebihi asetnya.
Hingga 30 Juni 2023, jumlah liabilitas INAF mencapai Rp1,59 triliun, menanjak secara tahunan (yoy) dibandingkan periode sama tahun 2022 senilai Rp1,44 triliun. Sedangkan aset INAF pada paruh pertama mencapai Rp1,55 triliun.

BACA JUGA:
Calon Emiten BEI (GRIA) Tawarkan Harga Rp120/Saham


Artinya INAF merealisasikan defisiensi modal senilai Rp33,99 miliar, berbalik dari posisi ekuitas positif pada semester pertama tahun lalu. Performa di pos neraca ini juga memburuk jika dibandingkan posisi ekuitas pada kuartal I-2023 yang positif sebesar Rp24,55 miliar.
Apa sebabnya?
Penyebabnya adalah tumpukan defisit rugi. Diketahui, INAF menanggung  defisit rugi senilai Rp736,64 miliar pada semester I-2023, meningkat  dari posisi kuartal I-2023 senilai Rp678,09 miliar. Jika dibandingkan  secara tahunan (yoy), maka defisit INAF naik 19,52% yoy.
Laporan laba/rugi INAF pada paruh pertama tahu ini menunjukkan  realisasi rugi sebesar Rp120,34 miliar, naik 32,66% yoy. Kerugian  terjadi seiring penurunan penjualan bersih. Ini mendorong rugi per saham  dasar INAF semakin menciut secara tahunan menjadi minus Rp38,83 per  saham, dari Rp29,27 per saham.
Membengkaknya rugi dipicu penjualan yang anjlok 36,59% yoy menjadi  Rp363,96 miliar, dibandingkan semester satu tahun lalu di angka Rp574,05  miliar. Produk obat etikal (resep) di pasar domestik masih menjadi  tulang punggung pemasukan senilai Rp208,54 miliar, disusul fast moving  consume goods (FMCG) sebanyak Rp84,76 miliar.
Kontribusi alat kesehatan hingga jasa klinik memberi pemasukan  senilai Rp16,94 miliar, sementara vaksin sebesar Rp32,92 miliar, dan  over-the-counter Rp6,67 miliar.
Dari sisi pengeluaran, beban produksi ikut tergerus mengikuti  penurunan penjualan. Demikian juga ongkos penjualan yang mencapai  Rp52,38 miliar. Di sisi lain, gaji dan jaminan sosial (di pos  administratif) justru naik secara tahunan (yoy) menjadi Rp44,86 miliar,  dari Rp36,68 miliar.</content:encoded></item></channel></rss>
