<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Segini Kontribusi PLTU pada Pencemaran Udara di Jakarta</title><description>Siti Nurbaya menegaskan pencemaran udara yang terjadi di Jakarta bukan hanya disebabkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/14/320/2864131/segini-kontribusi-pltu-pada-pencemaran-udara-di-jakarta</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/08/14/320/2864131/segini-kontribusi-pltu-pada-pencemaran-udara-di-jakarta"/><item><title>Segini Kontribusi PLTU pada Pencemaran Udara di Jakarta</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/14/320/2864131/segini-kontribusi-pltu-pada-pencemaran-udara-di-jakarta</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/08/14/320/2864131/segini-kontribusi-pltu-pada-pencemaran-udara-di-jakarta</guid><pubDate>Senin 14 Agustus 2023 15:55 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/14/320/2864131/segini-kontribusi-pltu-pada-pencemaran-udara-di-jakarta-vgaYvBCBpj.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kontribusi PLTU pada Pencemaran Udara. (Foto: Okezone.com/PLN)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/14/320/2864131/segini-kontribusi-pltu-pada-pencemaran-udara-di-jakarta-vgaYvBCBpj.jpg</image><title>Kontribusi PLTU pada Pencemaran Udara. (Foto: Okezone.com/PLN)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8xNC8xLzE2OTIwMy81L3g4bjZ4eHo=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menegaskan pencemaran udara yang terjadi di Jakarta bukan hanya disebabkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). PLTU hanya penyumbang kecil dari buruknya kualitas udara tidak sehat di Ibu Kota.
Menurutnya, asap yang ke luar dari cerobong PLTU yang berada di bagian pulau Jawa tidak mengarah ke Jakarta karena terdapat perbedaan arah mata angin.

BACA JUGA:
Kualitas Udara Tidak Sehat, Setiap Kendaraan Bakal Diuji Emisi

&quot;Studinya PLN dengan KLHK bahwa dugaan polusi udara karena PLTU Suralaya itu kurang tepat. Sebab hasil analisis uapnya itu pencemarannya dia bergeraknya tidak ke arah jakarta tapi bergerak ke arah Selat Sunda,&quot; ujar Siti dalam konferensi pers Peningkatan Kualitas Udara Kawasan Jabodetabek, Senin (14/8/2023).
Namun demikian, dirinya mengakui bahwa saat ini terdapat pembangkit listrik individual berskala kecil yang berkontribusi dalam pencemaran polusi udara. Tapi sekali lagi, tidak berkontribusi dalam sumbangan pencemaran udara.

BACA JUGA:
Udara di Jakarta Buruk, Sistem 4 in 1 Mobil Bakal Diterapkan

&quot;Jadi bisa dikatakan bahwa bukan karena PLTU begitu ya. Apalagi dilihat dari hasil studi. Penggunaan batu bara yang berpengaruh ke Jakarta sih tidak sampai 1%,&quot; lanjutnya.
Lebih lanjut, dirinya menjelaskan setidak ada ada beberapa faktor yang membentuk persoalan kualitas udara di Jakarta. Seperti kemarau panjang, konsentrasi polutan, aktivitas industri manufaktur, hingga emisi dari transportasi.Beberapa upaya yang perlu dilakukan menurut Menteri Siti seperti pengimplementasian atau penegasan terhadap regulasi Euro 5 dan 6 untuk mesin kendaraan pabrikan terutama di wilayah Jabodetabek, pembukaan ruang terbuka hijau, hingga penerapan work from home.
&quot;Pada jangka menengah mengurangi kendaraan fosil. kita sudah punya MRT, LRT, kereta cepat dan juga agenda elektrifikasi,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8xNC8xLzE2OTIwMy81L3g4bjZ4eHo=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menegaskan pencemaran udara yang terjadi di Jakarta bukan hanya disebabkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). PLTU hanya penyumbang kecil dari buruknya kualitas udara tidak sehat di Ibu Kota.
Menurutnya, asap yang ke luar dari cerobong PLTU yang berada di bagian pulau Jawa tidak mengarah ke Jakarta karena terdapat perbedaan arah mata angin.

BACA JUGA:
Kualitas Udara Tidak Sehat, Setiap Kendaraan Bakal Diuji Emisi

&quot;Studinya PLN dengan KLHK bahwa dugaan polusi udara karena PLTU Suralaya itu kurang tepat. Sebab hasil analisis uapnya itu pencemarannya dia bergeraknya tidak ke arah jakarta tapi bergerak ke arah Selat Sunda,&quot; ujar Siti dalam konferensi pers Peningkatan Kualitas Udara Kawasan Jabodetabek, Senin (14/8/2023).
Namun demikian, dirinya mengakui bahwa saat ini terdapat pembangkit listrik individual berskala kecil yang berkontribusi dalam pencemaran polusi udara. Tapi sekali lagi, tidak berkontribusi dalam sumbangan pencemaran udara.

BACA JUGA:
Udara di Jakarta Buruk, Sistem 4 in 1 Mobil Bakal Diterapkan

&quot;Jadi bisa dikatakan bahwa bukan karena PLTU begitu ya. Apalagi dilihat dari hasil studi. Penggunaan batu bara yang berpengaruh ke Jakarta sih tidak sampai 1%,&quot; lanjutnya.
Lebih lanjut, dirinya menjelaskan setidak ada ada beberapa faktor yang membentuk persoalan kualitas udara di Jakarta. Seperti kemarau panjang, konsentrasi polutan, aktivitas industri manufaktur, hingga emisi dari transportasi.Beberapa upaya yang perlu dilakukan menurut Menteri Siti seperti pengimplementasian atau penegasan terhadap regulasi Euro 5 dan 6 untuk mesin kendaraan pabrikan terutama di wilayah Jabodetabek, pembukaan ruang terbuka hijau, hingga penerapan work from home.
&quot;Pada jangka menengah mengurangi kendaraan fosil. kita sudah punya MRT, LRT, kereta cepat dan juga agenda elektrifikasi,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
