<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Polusi Udara di Jakarta, Pemerintah Diminta Fokus Tangani Perubahan Iklim</title><description>Kualitas udara yang makin memburuk dikeluhkan oleh masyarakat.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/20/320/2867690/polusi-udara-di-jakarta-pemerintah-diminta-fokus-tangani-perubahan-iklim</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/08/20/320/2867690/polusi-udara-di-jakarta-pemerintah-diminta-fokus-tangani-perubahan-iklim"/><item><title>Polusi Udara di Jakarta, Pemerintah Diminta Fokus Tangani Perubahan Iklim</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/20/320/2867690/polusi-udara-di-jakarta-pemerintah-diminta-fokus-tangani-perubahan-iklim</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/08/20/320/2867690/polusi-udara-di-jakarta-pemerintah-diminta-fokus-tangani-perubahan-iklim</guid><pubDate>Minggu 20 Agustus 2023 13:26 WIB</pubDate><dc:creator>Himayatul Azizah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/20/320/2867690/polusi-udara-di-jakarta-pemerintah-diminta-fokus-tangani-perubahan-iklim-gxrv4T3PeT.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Solusi memburuknya polusi udara (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/20/320/2867690/polusi-udara-di-jakarta-pemerintah-diminta-fokus-tangani-perubahan-iklim-gxrv4T3PeT.jpg</image><title>Solusi memburuknya polusi udara (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8yMC8xLzE2OTQ1OC81L3g4bmNtY3g=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Kualitas udara yang makin memburuk dikeluhkan oleh masyarakat. Pakar Kebijakan Publik Bambang Haryo menilai polusi udara di Jakarta dengan indeks kualitas udara (AQI) mencapai diatas 170, dinilai sangat parah sehingga udara di Ibu Kota Jakarta sangat tidak layak saat ini.

BACA JUGA:
ASN WFH untuk Kurangi Polusi, Masyarakat: Karyawan Swasta Harusnya Juga


Namun dia menilai buruknya kualitas udara bukan hanya karena polusi kendaraan saja. Menurutnya ada andil dari asap kebakaran hutan terhadap memburuknya polusi udara.
&quot;Harusnya kita mengamati di bulan Agustus saat ini pada musim kemarau panjang, ada jutaan hektar hutan di Kalimantan, Sumatera bahkan di Jawa Barat yang mengalami kekeringan dan akhirnya terbakar akibat gesekan ranting dan lain lain, dan kebakaran itu terlihat ada titik nyala api berskala kecil, menengah dan hebat,&quot; kata dia, Minggu (20/8/2023).

BACA JUGA:
Warga Jakarta Tetap Padati CFD Meski Ketakutan dengan Polusi Udara 


Bambang mengatakan, data ini bisa dilihat di BMKG. Nyala titik api kebakaran disaat ini sudah mencapai lebih dari 4.000 titik di Indonesia dan yang paling terparah adalah wilayah Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Wilayah Sumatera Selatan serta Lampung.
Dia menilai akibat arah angin yang saat ini berhembus dari barat ke timur agak ke selatan, maka asap-asap dari Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera memenuhi wilayah Jabotabek dan kota-kota pesisir utara Pulau Jawa.
&quot;Harusnya kita bisa mengamati dan menganalisa walaupun saat hari  libur pekerja, kantor, pabrik, sekolah dan angkutan truk pun istirahat  di wilayah Jakarta tetapi udara di Jakarta tetap tertutup kabut asap,  kalau misalnya kebakaran hutan tsb tidak segera ditanggulangi dengan  baik,&quot; ujarnya.
Menurutnya sangat disayangkan banyak pihak yang berkomentar tidak  berdasarkan kajian dan analisa yang benar dan akurat, bahkan cenderung  menyalahkan polusi kendaraan bermotor baik pribadi maupun publik sebagai  penyebab polusi udara sehingga muncul wacana kebijakan 4 in 1, juga uji  emisi gas buang akan lebih diperketat, dan bahkan muncul wacana  mendorong ekosistem kendaraan listrik.
&quot;Jadi STOP mencari kambing hitam dari kendaraan bermotor baik privat  maupun publik dan truk pengangkut logistik serta pabrik yang ada di  Jakarta. Dan diharapkan segera lindungi warga di seluruh Indonesia dari  asap kebakaran hutan,&quot; pungkas dia.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8yMC8xLzE2OTQ1OC81L3g4bmNtY3g=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Kualitas udara yang makin memburuk dikeluhkan oleh masyarakat. Pakar Kebijakan Publik Bambang Haryo menilai polusi udara di Jakarta dengan indeks kualitas udara (AQI) mencapai diatas 170, dinilai sangat parah sehingga udara di Ibu Kota Jakarta sangat tidak layak saat ini.

BACA JUGA:
ASN WFH untuk Kurangi Polusi, Masyarakat: Karyawan Swasta Harusnya Juga


Namun dia menilai buruknya kualitas udara bukan hanya karena polusi kendaraan saja. Menurutnya ada andil dari asap kebakaran hutan terhadap memburuknya polusi udara.
&quot;Harusnya kita mengamati di bulan Agustus saat ini pada musim kemarau panjang, ada jutaan hektar hutan di Kalimantan, Sumatera bahkan di Jawa Barat yang mengalami kekeringan dan akhirnya terbakar akibat gesekan ranting dan lain lain, dan kebakaran itu terlihat ada titik nyala api berskala kecil, menengah dan hebat,&quot; kata dia, Minggu (20/8/2023).

BACA JUGA:
Warga Jakarta Tetap Padati CFD Meski Ketakutan dengan Polusi Udara 


Bambang mengatakan, data ini bisa dilihat di BMKG. Nyala titik api kebakaran disaat ini sudah mencapai lebih dari 4.000 titik di Indonesia dan yang paling terparah adalah wilayah Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Wilayah Sumatera Selatan serta Lampung.
Dia menilai akibat arah angin yang saat ini berhembus dari barat ke timur agak ke selatan, maka asap-asap dari Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera memenuhi wilayah Jabotabek dan kota-kota pesisir utara Pulau Jawa.
&quot;Harusnya kita bisa mengamati dan menganalisa walaupun saat hari  libur pekerja, kantor, pabrik, sekolah dan angkutan truk pun istirahat  di wilayah Jakarta tetapi udara di Jakarta tetap tertutup kabut asap,  kalau misalnya kebakaran hutan tsb tidak segera ditanggulangi dengan  baik,&quot; ujarnya.
Menurutnya sangat disayangkan banyak pihak yang berkomentar tidak  berdasarkan kajian dan analisa yang benar dan akurat, bahkan cenderung  menyalahkan polusi kendaraan bermotor baik pribadi maupun publik sebagai  penyebab polusi udara sehingga muncul wacana kebijakan 4 in 1, juga uji  emisi gas buang akan lebih diperketat, dan bahkan muncul wacana  mendorong ekosistem kendaraan listrik.
&quot;Jadi STOP mencari kambing hitam dari kendaraan bermotor baik privat  maupun publik dan truk pengangkut logistik serta pabrik yang ada di  Jakarta. Dan diharapkan segera lindungi warga di seluruh Indonesia dari  asap kebakaran hutan,&quot; pungkas dia.</content:encoded></item></channel></rss>
