<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bank Sentral China Pangkas Suku Bunga Acuan, Ini Alasannya</title><description>Bank Sentral China memangkas suku bunga acuan pinjaman satu tahun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/21/320/2868309/bank-sentral-china-pangkas-suku-bunga-acuan-ini-alasannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/08/21/320/2868309/bank-sentral-china-pangkas-suku-bunga-acuan-ini-alasannya"/><item><title>Bank Sentral China Pangkas Suku Bunga Acuan, Ini Alasannya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/21/320/2868309/bank-sentral-china-pangkas-suku-bunga-acuan-ini-alasannya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/08/21/320/2868309/bank-sentral-china-pangkas-suku-bunga-acuan-ini-alasannya</guid><pubDate>Senin 21 Agustus 2023 15:58 WIB</pubDate><dc:creator>Himayatul Azizah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/21/320/2868309/bank-sentral-china-pangkas-suku-bunga-acuan-ini-alasannya-fjPnNr5G7N.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bank sentral China turunkan suku bunga (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/21/320/2868309/bank-sentral-china-pangkas-suku-bunga-acuan-ini-alasannya-fjPnNr5G7N.jpg</image><title>Bank sentral China turunkan suku bunga (Foto: Reuters)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8xNS8xLzE2OTI2OC81L3g4bjgwYzc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Bank Sentral China memangkas suku bunga acuan pinjaman satu tahun. Ini merupakan upaya Bank Sentral China untuk meningkatkan permintaan kredit.
Namun keputusan ini mengejutkan pasar dengan mempertahankan suku bunga lima tahun tidak berubah di tengah kekhawatiran yang lebih luas tentang mata uang yang melemah dengan cepat.

BACA JUGA:
Myanmar Tak Datang ke Pertemuan Menkeu dan Gubernur Bank Sentral di Jakarta, Ini Alasannya


Pemulihan di ekonomi terbesar kedua di dunia itu telah kehilangan tenaga karena kemerosotan properti yang memburuk, belanja konsumen yang lemah dan jatuhnya pertumbuhan kredit, menambah kasus bagi otoritas untuk merilis lebih banyak stimulus kebijakan.
Namun, tekanan turun pada yuan berarti Beijing memiliki ruang terbatas untuk pelonggaran moneter yang lebih dalam, kata para analis, karena semakin melebarnya perbedaan imbal hasil China dengan ekonomi utama lainnya dapat memicu aksi jual yuan dan pelarian modal.

BACA JUGA:
Pertemuan Menkeu dan Gubernur Bank Sentral ASEAN Bakal Digelar, Ini Bahasannya


Suku bunga dasar pinjaman (loan prime rate/LPR) satu tahun diturunkan 10 basis poin menjadi 3,45 persen dari sebelumnya 3,55 persen, sedangkan LPR lima tahun dibiarkan di 4,20 persen.
Dalam jajak pendapat Reuters dari 35 pengamat pasar, semua peserta memperkirakan pemotongan kedua suku bunga. Pemotongan 10 basis poin dalam suku bunga satu tahun lebih kecil dari pemotongan 15 basis poin yang diharapkan oleh sebagian besar responden jajak pendapat.
&quot;Mungkin China membatasi ukuran dan ruang lingkup penurunan suku bunga karena mereka khawatir dengan tekanan turun pada yuan,&quot; kata Masayuki Kichikawa, kepala strategi makro di Sumitomo Mitsui DS Asset Management dilansir dari Antara, Senin (21/8/2023).
&quot;Otoritas China peduli dengan stabilitas pasar mata uang.&quot;
Sebagian besar pinjaman baru dan terutang di China didasarkan pada  LPR satu tahun, sedangkan suku bunga lima tahun mempengaruhi penentuan  suku bunga hipotek (KPR). China memotong kedua LPR pada Juni untuk  meningkatkan perekonomian.
Yuan di dalam negeri melemah pada awal perdagangan menjadi 7,3078 per  dolar, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di 7,2855, sementara  indeks Komposit Shanghai dan indeks saham unggulan CSI 300 juga turun.
Yuan telah kehilangan hampir 6,0 persen terhadap dolar sepanjang  tahun ini menjadi salah satu mata uang Asia dengan kinerja terburuk.
Pengurangan LPR satu tahun terjadi setelah bank sentral China,  People's Bank of China (PBoC) secara tak terduga menurunkan suku bunga  kebijakan jangka menengahnya minggu lalu.
Suku bunga fasilitas pinjaman jangka menengah (MLF) berfungsi sebagai  panduan untuk LPR dan dibaca secara luas oleh pasar sebagai pendahulu  untuk perubahan suku bunga acuan pinjaman di masa depan.
Bank sentral China juga telah berjanji untuk menjaga likuiditas cukup  dan kebijakannya &quot;tepat dan kuat&quot; untuk mendukung pemulihan ekonomi, di  tengah meningkatnya tantangan, menurut laporan implementasi kebijakan  moneter kuartal kedua.
Tetapi tenor lima tahun yang stabil membuat banyak pedagang dan  analis lengah, dengan beberapa memperkirakan sektor properti yang  bermasalah dan meningkatnya risiko gagal bayar di beberapa pengembang  akan menyebabkan pemotongan yang lebih dalam pada suku bunga acuan.
&quot;Kami menafsirkan status quo LPR lima tahun adalah sinyal bahwa  bank-bank China enggan memangkas suku bunga dengan mengorbankan margin  perbedaan suku bunga,&quot; kata Ken Cheung, kepala strategi valas Asia di  Mizuho Bank.
&quot;Ini menandai masalah efektivitas panduan kebijakan PBoC yang masuk  ke pasar, dan otoritas China mungkin kekurangan alat yang efektif untuk  merangsang sektor properti dan ekonomi melalui pelonggaran moneter.&quot;
Cheung menambahkan bahwa hasil suku bunga tak terduga akan &quot;negatif terhadap prospek pertumbuhan China dan nilai tukar yuan&quot;.
Bank sentral mengatakan akan mengoptimalkan kebijakan kredit untuk  sektor properti, sambil mengkoordinasikan dukungan keuangan untuk  menyelesaikan masalah utang pemerintah daerah, katanya dalam sebuah  pernyataan pada Minggu (20/8/2023).</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8xNS8xLzE2OTI2OC81L3g4bjgwYzc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Bank Sentral China memangkas suku bunga acuan pinjaman satu tahun. Ini merupakan upaya Bank Sentral China untuk meningkatkan permintaan kredit.
Namun keputusan ini mengejutkan pasar dengan mempertahankan suku bunga lima tahun tidak berubah di tengah kekhawatiran yang lebih luas tentang mata uang yang melemah dengan cepat.

BACA JUGA:
Myanmar Tak Datang ke Pertemuan Menkeu dan Gubernur Bank Sentral di Jakarta, Ini Alasannya


Pemulihan di ekonomi terbesar kedua di dunia itu telah kehilangan tenaga karena kemerosotan properti yang memburuk, belanja konsumen yang lemah dan jatuhnya pertumbuhan kredit, menambah kasus bagi otoritas untuk merilis lebih banyak stimulus kebijakan.
Namun, tekanan turun pada yuan berarti Beijing memiliki ruang terbatas untuk pelonggaran moneter yang lebih dalam, kata para analis, karena semakin melebarnya perbedaan imbal hasil China dengan ekonomi utama lainnya dapat memicu aksi jual yuan dan pelarian modal.

BACA JUGA:
Pertemuan Menkeu dan Gubernur Bank Sentral ASEAN Bakal Digelar, Ini Bahasannya


Suku bunga dasar pinjaman (loan prime rate/LPR) satu tahun diturunkan 10 basis poin menjadi 3,45 persen dari sebelumnya 3,55 persen, sedangkan LPR lima tahun dibiarkan di 4,20 persen.
Dalam jajak pendapat Reuters dari 35 pengamat pasar, semua peserta memperkirakan pemotongan kedua suku bunga. Pemotongan 10 basis poin dalam suku bunga satu tahun lebih kecil dari pemotongan 15 basis poin yang diharapkan oleh sebagian besar responden jajak pendapat.
&quot;Mungkin China membatasi ukuran dan ruang lingkup penurunan suku bunga karena mereka khawatir dengan tekanan turun pada yuan,&quot; kata Masayuki Kichikawa, kepala strategi makro di Sumitomo Mitsui DS Asset Management dilansir dari Antara, Senin (21/8/2023).
&quot;Otoritas China peduli dengan stabilitas pasar mata uang.&quot;
Sebagian besar pinjaman baru dan terutang di China didasarkan pada  LPR satu tahun, sedangkan suku bunga lima tahun mempengaruhi penentuan  suku bunga hipotek (KPR). China memotong kedua LPR pada Juni untuk  meningkatkan perekonomian.
Yuan di dalam negeri melemah pada awal perdagangan menjadi 7,3078 per  dolar, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di 7,2855, sementara  indeks Komposit Shanghai dan indeks saham unggulan CSI 300 juga turun.
Yuan telah kehilangan hampir 6,0 persen terhadap dolar sepanjang  tahun ini menjadi salah satu mata uang Asia dengan kinerja terburuk.
Pengurangan LPR satu tahun terjadi setelah bank sentral China,  People's Bank of China (PBoC) secara tak terduga menurunkan suku bunga  kebijakan jangka menengahnya minggu lalu.
Suku bunga fasilitas pinjaman jangka menengah (MLF) berfungsi sebagai  panduan untuk LPR dan dibaca secara luas oleh pasar sebagai pendahulu  untuk perubahan suku bunga acuan pinjaman di masa depan.
Bank sentral China juga telah berjanji untuk menjaga likuiditas cukup  dan kebijakannya &quot;tepat dan kuat&quot; untuk mendukung pemulihan ekonomi, di  tengah meningkatnya tantangan, menurut laporan implementasi kebijakan  moneter kuartal kedua.
Tetapi tenor lima tahun yang stabil membuat banyak pedagang dan  analis lengah, dengan beberapa memperkirakan sektor properti yang  bermasalah dan meningkatnya risiko gagal bayar di beberapa pengembang  akan menyebabkan pemotongan yang lebih dalam pada suku bunga acuan.
&quot;Kami menafsirkan status quo LPR lima tahun adalah sinyal bahwa  bank-bank China enggan memangkas suku bunga dengan mengorbankan margin  perbedaan suku bunga,&quot; kata Ken Cheung, kepala strategi valas Asia di  Mizuho Bank.
&quot;Ini menandai masalah efektivitas panduan kebijakan PBoC yang masuk  ke pasar, dan otoritas China mungkin kekurangan alat yang efektif untuk  merangsang sektor properti dan ekonomi melalui pelonggaran moneter.&quot;
Cheung menambahkan bahwa hasil suku bunga tak terduga akan &quot;negatif terhadap prospek pertumbuhan China dan nilai tukar yuan&quot;.
Bank sentral mengatakan akan mengoptimalkan kebijakan kredit untuk  sektor properti, sambil mengkoordinasikan dukungan keuangan untuk  menyelesaikan masalah utang pemerintah daerah, katanya dalam sebuah  pernyataan pada Minggu (20/8/2023).</content:encoded></item></channel></rss>
