<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ngeri! Ini Dampak Buruk Perubahan Iklim, Air Bersih Berkurang hingga Ganggu Siklus Pertanian</title><description>Dampak buruk perubahan iklim mulai dari air bersih berkurang hingga perubahan siklus pertanian.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/21/320/2868401/ngeri-ini-dampak-buruk-perubahan-iklim-air-bersih-berkurang-hingga-ganggu-siklus-pertanian</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/08/21/320/2868401/ngeri-ini-dampak-buruk-perubahan-iklim-air-bersih-berkurang-hingga-ganggu-siklus-pertanian"/><item><title>Ngeri! Ini Dampak Buruk Perubahan Iklim, Air Bersih Berkurang hingga Ganggu Siklus Pertanian</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/21/320/2868401/ngeri-ini-dampak-buruk-perubahan-iklim-air-bersih-berkurang-hingga-ganggu-siklus-pertanian</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/08/21/320/2868401/ngeri-ini-dampak-buruk-perubahan-iklim-air-bersih-berkurang-hingga-ganggu-siklus-pertanian</guid><pubDate>Senin 21 Agustus 2023 18:06 WIB</pubDate><dc:creator> Ikhsan Permana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/21/320/2868401/ngeri-ini-dampak-buruk-perubahan-iklim-air-bersih-berkurang-hingga-ganggu-siklus-pertanian-IyXOcXQOkI.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dampak buruk perubahan iklim (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/21/320/2868401/ngeri-ini-dampak-buruk-perubahan-iklim-air-bersih-berkurang-hingga-ganggu-siklus-pertanian-IyXOcXQOkI.jpg</image><title>Dampak buruk perubahan iklim (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8xMi80LzE2OTEyNS81L3g4bjV6eDM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Dampak buruk perubahan iklim mulai dari air bersih berkurang hingga perubahan siklus pertanian. Bappenas mengungkapkan perubahan iklim juga bisa menurunkan produksi petani karena siklus tanam pertanian berubah dan sulit dibaca.

BACA JUGA:
Kerugian Ekonomi RI Akibat Perubahan Iklim Capai Rp544 Triliun


Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa mengatakan sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan akan mengalami penurunan tingkat curah hujan sekitar satu hingga empat persen hingga tahun 2034 jika dibandingkan pada kondisi 1995 hingga 2010.
&quot;Ini mengakibatkan pasokan air bersih semakin berkurang dan berpotensi pada timbulnya konflik alokasi air terutama untuk pertumbuhan antara pertanian industri dan energi,&quot; ujar Suharso dalam acara Dialog Nasional Antisipasi Dampak Perubahan untuk Pembangunan Indonesia Emas 2045, di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Senin (21/8/2023).

BACA JUGA:
Polusi Udara di Jakarta, Pemerintah Diminta Fokus Tangani Perubahan Iklim


Sementara dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian menyebabkan semakin singkatnya periode ulang variasi iklim salah satunya siklus variasi El Ni&amp;ntilde;o&amp;ndash;Southern Oscillation (pergeseran periodik sistem atmosfer samudra di Pasifik tropis yang berdampak pada cuaca di seluruh dunia) yang mestinya terjadi setiap 3 sampai 7 tahun sekarang menjadi lebih singkat 2 sampai 5 tahun.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memberikan  imbauan bahwa fenomena El Nino akan berlangsung cukup panjang pada  tahun ini hingga akhir Desember 2023. Karena itu, dampak dari fenomena  tersebut perlu dimitigasi agar tidak terjadi kelangkaan air, potensi  kebakaran hutan dan lahan, serta penurunan produktivitas pangan.
Perubahan iklim menyebabkan pula kesulitan dalam menentukan waktu  tanam mengingat terjadi pergeseran awal puncak dan akhir puncak musim  hujan.
&amp;ldquo;FAO (Food and Agriculture Organization) memproyeksikan potensi  penurunan produksi padi di Indonesia akibat fenomena El Nino sebesar  1,13-1,89 juta ton, sehingga akan menurunkan pendapatan petani 9-20  persen,&amp;rdquo; bebernya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8xMi80LzE2OTEyNS81L3g4bjV6eDM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Dampak buruk perubahan iklim mulai dari air bersih berkurang hingga perubahan siklus pertanian. Bappenas mengungkapkan perubahan iklim juga bisa menurunkan produksi petani karena siklus tanam pertanian berubah dan sulit dibaca.

BACA JUGA:
Kerugian Ekonomi RI Akibat Perubahan Iklim Capai Rp544 Triliun


Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa mengatakan sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan akan mengalami penurunan tingkat curah hujan sekitar satu hingga empat persen hingga tahun 2034 jika dibandingkan pada kondisi 1995 hingga 2010.
&quot;Ini mengakibatkan pasokan air bersih semakin berkurang dan berpotensi pada timbulnya konflik alokasi air terutama untuk pertumbuhan antara pertanian industri dan energi,&quot; ujar Suharso dalam acara Dialog Nasional Antisipasi Dampak Perubahan untuk Pembangunan Indonesia Emas 2045, di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Senin (21/8/2023).

BACA JUGA:
Polusi Udara di Jakarta, Pemerintah Diminta Fokus Tangani Perubahan Iklim


Sementara dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian menyebabkan semakin singkatnya periode ulang variasi iklim salah satunya siklus variasi El Ni&amp;ntilde;o&amp;ndash;Southern Oscillation (pergeseran periodik sistem atmosfer samudra di Pasifik tropis yang berdampak pada cuaca di seluruh dunia) yang mestinya terjadi setiap 3 sampai 7 tahun sekarang menjadi lebih singkat 2 sampai 5 tahun.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memberikan  imbauan bahwa fenomena El Nino akan berlangsung cukup panjang pada  tahun ini hingga akhir Desember 2023. Karena itu, dampak dari fenomena  tersebut perlu dimitigasi agar tidak terjadi kelangkaan air, potensi  kebakaran hutan dan lahan, serta penurunan produktivitas pangan.
Perubahan iklim menyebabkan pula kesulitan dalam menentukan waktu  tanam mengingat terjadi pergeseran awal puncak dan akhir puncak musim  hujan.
&amp;ldquo;FAO (Food and Agriculture Organization) memproyeksikan potensi  penurunan produksi padi di Indonesia akibat fenomena El Nino sebesar  1,13-1,89 juta ton, sehingga akan menurunkan pendapatan petani 9-20  persen,&amp;rdquo; bebernya.</content:encoded></item></channel></rss>
