<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pejuang Kemerdekaan, Ini Kisah Sultan Kaya Raya dari Riau Beri Sumbangan Rp1 Triliun untuk Indonesia</title><description>Sultan kaya raya asal Riau ini memberikan sumbangan untuk Indonesia sebesar Rp1 triliun dan kisahnya tertulis dalam sejarah.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/21/455/2868062/pejuang-kemerdekaan-ini-kisah-sultan-kaya-raya-dari-riau-beri-sumbangan-rp1-triliun-untuk-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/08/21/455/2868062/pejuang-kemerdekaan-ini-kisah-sultan-kaya-raya-dari-riau-beri-sumbangan-rp1-triliun-untuk-indonesia"/><item><title>Pejuang Kemerdekaan, Ini Kisah Sultan Kaya Raya dari Riau Beri Sumbangan Rp1 Triliun untuk Indonesia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/21/455/2868062/pejuang-kemerdekaan-ini-kisah-sultan-kaya-raya-dari-riau-beri-sumbangan-rp1-triliun-untuk-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/08/21/455/2868062/pejuang-kemerdekaan-ini-kisah-sultan-kaya-raya-dari-riau-beri-sumbangan-rp1-triliun-untuk-indonesia</guid><pubDate>Senin 21 Agustus 2023 11:09 WIB</pubDate><dc:creator>Kharisma Rizkika Rahmawati</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/21/455/2868062/pejuang-kemerdekaan-ini-kisah-sultan-kaya-raya-dari-riau-beri-sumbangan-rp1-triliun-untuk-indonesia-QGg8juNV9r.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sultan Syarif Kasim merupakan saudagar kaya raya asal Riau (Foto: Wikipedia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/21/455/2868062/pejuang-kemerdekaan-ini-kisah-sultan-kaya-raya-dari-riau-beri-sumbangan-rp1-triliun-untuk-indonesia-QGg8juNV9r.jpg</image><title>Sultan Syarif Kasim merupakan saudagar kaya raya asal Riau (Foto: Wikipedia)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Sultan kaya raya asal Riau ini memberikan sumbangan untuk Indonesia sebesar Rp1 triliun dan kisahnya tertulis dalam sejarah.
Kisah itu tertulis dalam buku Pelajaran Penting dari Sultan Syarif Kasim II. Dia merupakan pahlawan nasional asal Riau yang disebutkan pernah menyumbang 13 juta gulden atau setara dengan uang Rp1 triliun kepada Indonesia yang saat itu baru merdeka.

BACA JUGA:
Kisah Rasuna Said, Saudagar Kaya Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia


Sultan Syarif Kasim II lahir pada Desember 1893 di Siak Sri Indrapura, Riau. Dia dinobatkan sebagai sultan pada umur 21 tahun menggantikan ayahnya, Sultan Syarif Kasim.

Dikenal sebagai seorang pendukung perjuangan Kemerdekaan Indonesia, Sultan Syarif Kasim II juga berhasil menyulut api perjuangan raja-raja di Sumatera Timur untuk mendukung dan menggabungkan kekuatan dengan Republik Indonesia.

BACA JUGA:
Pakai Cara Unik, Abu Nawas Sadarkan Saudagar Kaya yang Hampir Riya Bangun Masjid Megah


Mengutip situs Dinas Sosial Provinsi Riau di Jakarta, Senin (21/8/2023), Sultan Syarif Kasim II menempuh pendidikan tentang hukum Islam dan berguru kepada Sayed Husein Al-Habsyi yang merupakan ulama besar yang turut serta dalam pergerakan nasional (pada tahun 1908 pergerakan nasional mulai berkembang di Batavia).
Selain belajar mengenai hukum Islam, dia juga menuntut ilmu hukum dan ketatanegaraan dari Prof. Snouck Hurgronye dari Institute Beck en Volten.
Penobatan Sultan Syarif Kasim II menimbulkan kekhawatiran bagi  Kolonial Belanda karena pewaris kerajaan yang berpendidikan dan  progresif, hingga akhirnya Hindia Belanda mulai mengecilkan arti dan  fungsi Dewan Kerajaan dan kemudian Dewan Kerajaan dihapus oleh  pemerintahan Hindia Belanda.
Saat itu, Hindia Belanda banyak ikut campur dalam susunan kerajaan  sampai akhirnya Kerajaan Siak terbagi menjadi 5 distrik yakni Distrik  Siak, Distrik Selatpanjang, Distrik Bagansiapi-api, Distrik Bukit Batu  dan Distrik Pekanbaru.
Karena hal itu, Sultan Syarif Kasim semakin menentang Belanda dan  mulai membangun kekuatan fisik. Dia membangun kekuatan militer yang  berawal dari barisan kehormatan pemuda-pemuda dan dilatih untuk  membangkitkan semangat perlawanan, mempertahankan diri, serta membela  nasib rakyat.
Tidak berhenti disitu, dia juga mendirikan Sekolah Agama Islam yang  diberi nama Madrasah Taufiqiyah Al-Hasyimiah pada 1917 dengan harta yang  dimilikinya. Sultan dan Permaisuri Tengku Agung pun mendirikan sekolah  untuk kaum wanita yang diberi nama Latifah School pada 1926.
Sekolah-sekolah itu tidak hanya sebagai tempat menimba pengetahuan  agama Islam, tapi juga untuk menanamkan semangat kebangsaan, harga diri  dan jiwa patriotisme.
Berganti zaman penjajahan Jepang, secara de yure Sultan tidak  memegang kekuasaan lagi ketika pemerintah Jepang meminta Siak untuk  mengirimkan tenaga Romusha. Namun, Sultan tetap bertanggung jawab  terhadap kerajaan dan rakyatnya sehingga menolak pengiriman tenaga  Romusha yang diminta oleh Jepang.
Pada tahun 1945, saat mendengar kabar proklamasi kemerdekaan  Indonesia, Sultan Syarif Kasim II segera mengibarkan bendera merah putih  di Istana Siak dengan semangat pergerakan nasional.
Saat itu juga, dia menyatakan akan mendukung perjuangan Republik  Indonesia sambil menyerahkan Mahkota Kerajaan serta menyumbangkan harta  kekayaannya sejumlah 13 juta gulden kepada Pemerintah Republik Indonesia  atau setara Rp1,47 triliun sesuai dengan komitmennya dalam  mengintegrasikan diri bagi Republik Indonesia.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Sultan kaya raya asal Riau ini memberikan sumbangan untuk Indonesia sebesar Rp1 triliun dan kisahnya tertulis dalam sejarah.
Kisah itu tertulis dalam buku Pelajaran Penting dari Sultan Syarif Kasim II. Dia merupakan pahlawan nasional asal Riau yang disebutkan pernah menyumbang 13 juta gulden atau setara dengan uang Rp1 triliun kepada Indonesia yang saat itu baru merdeka.

BACA JUGA:
Kisah Rasuna Said, Saudagar Kaya Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia


Sultan Syarif Kasim II lahir pada Desember 1893 di Siak Sri Indrapura, Riau. Dia dinobatkan sebagai sultan pada umur 21 tahun menggantikan ayahnya, Sultan Syarif Kasim.

Dikenal sebagai seorang pendukung perjuangan Kemerdekaan Indonesia, Sultan Syarif Kasim II juga berhasil menyulut api perjuangan raja-raja di Sumatera Timur untuk mendukung dan menggabungkan kekuatan dengan Republik Indonesia.

BACA JUGA:
Pakai Cara Unik, Abu Nawas Sadarkan Saudagar Kaya yang Hampir Riya Bangun Masjid Megah


Mengutip situs Dinas Sosial Provinsi Riau di Jakarta, Senin (21/8/2023), Sultan Syarif Kasim II menempuh pendidikan tentang hukum Islam dan berguru kepada Sayed Husein Al-Habsyi yang merupakan ulama besar yang turut serta dalam pergerakan nasional (pada tahun 1908 pergerakan nasional mulai berkembang di Batavia).
Selain belajar mengenai hukum Islam, dia juga menuntut ilmu hukum dan ketatanegaraan dari Prof. Snouck Hurgronye dari Institute Beck en Volten.
Penobatan Sultan Syarif Kasim II menimbulkan kekhawatiran bagi  Kolonial Belanda karena pewaris kerajaan yang berpendidikan dan  progresif, hingga akhirnya Hindia Belanda mulai mengecilkan arti dan  fungsi Dewan Kerajaan dan kemudian Dewan Kerajaan dihapus oleh  pemerintahan Hindia Belanda.
Saat itu, Hindia Belanda banyak ikut campur dalam susunan kerajaan  sampai akhirnya Kerajaan Siak terbagi menjadi 5 distrik yakni Distrik  Siak, Distrik Selatpanjang, Distrik Bagansiapi-api, Distrik Bukit Batu  dan Distrik Pekanbaru.
Karena hal itu, Sultan Syarif Kasim semakin menentang Belanda dan  mulai membangun kekuatan fisik. Dia membangun kekuatan militer yang  berawal dari barisan kehormatan pemuda-pemuda dan dilatih untuk  membangkitkan semangat perlawanan, mempertahankan diri, serta membela  nasib rakyat.
Tidak berhenti disitu, dia juga mendirikan Sekolah Agama Islam yang  diberi nama Madrasah Taufiqiyah Al-Hasyimiah pada 1917 dengan harta yang  dimilikinya. Sultan dan Permaisuri Tengku Agung pun mendirikan sekolah  untuk kaum wanita yang diberi nama Latifah School pada 1926.
Sekolah-sekolah itu tidak hanya sebagai tempat menimba pengetahuan  agama Islam, tapi juga untuk menanamkan semangat kebangsaan, harga diri  dan jiwa patriotisme.
Berganti zaman penjajahan Jepang, secara de yure Sultan tidak  memegang kekuasaan lagi ketika pemerintah Jepang meminta Siak untuk  mengirimkan tenaga Romusha. Namun, Sultan tetap bertanggung jawab  terhadap kerajaan dan rakyatnya sehingga menolak pengiriman tenaga  Romusha yang diminta oleh Jepang.
Pada tahun 1945, saat mendengar kabar proklamasi kemerdekaan  Indonesia, Sultan Syarif Kasim II segera mengibarkan bendera merah putih  di Istana Siak dengan semangat pergerakan nasional.
Saat itu juga, dia menyatakan akan mendukung perjuangan Republik  Indonesia sambil menyerahkan Mahkota Kerajaan serta menyumbangkan harta  kekayaannya sejumlah 13 juta gulden kepada Pemerintah Republik Indonesia  atau setara Rp1,47 triliun sesuai dengan komitmennya dalam  mengintegrasikan diri bagi Republik Indonesia.</content:encoded></item></channel></rss>
