<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Investor Masih Kesulitan Negosiasi Masalah Lahan di IKN, Kenapa Ya?</title><description>Investor masih kesulitan negosiasi masalah lahan di IKN Nusantara.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/21/470/2868389/investor-masih-kesulitan-negosiasi-masalah-lahan-di-ikn-kenapa-ya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/08/21/470/2868389/investor-masih-kesulitan-negosiasi-masalah-lahan-di-ikn-kenapa-ya"/><item><title>Investor Masih Kesulitan Negosiasi Masalah Lahan di IKN, Kenapa Ya?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/21/470/2868389/investor-masih-kesulitan-negosiasi-masalah-lahan-di-ikn-kenapa-ya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/08/21/470/2868389/investor-masih-kesulitan-negosiasi-masalah-lahan-di-ikn-kenapa-ya</guid><pubDate>Senin 21 Agustus 2023 17:50 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/21/470/2868389/investor-masih-kesulitan-negosiasi-masalah-lahan-di-ikn-kenapa-ya-YGqVMLnpeZ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Investor masih kesulitan negosiasi lahan di IKN Nusantara (Foto: PUPR)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/21/470/2868389/investor-masih-kesulitan-negosiasi-masalah-lahan-di-ikn-kenapa-ya-YGqVMLnpeZ.jpg</image><title>Investor masih kesulitan negosiasi lahan di IKN Nusantara (Foto: PUPR)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNy8xOC8xLzE2ODE5MC81L3g4bWxuaGc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Investor masih kesulitan negosiasi masalah lahan di IKN Nusantara. Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Bambang Susantono mengakui diskusi dengan calon investor di IKN cukup alot terutama masalah ketersediaan lahan.

BACA JUGA:
Revisi UU IKN, Badan Otorita Bisa Cari Modal Lewat Pinjaman dan Surat Utang


Hal disebabkan karena saat ini lahan yang dikuasai oleh badan Otorita masih terbatas, sehingga baru bisa menawarkan lahan-lahan yang sudah benar-benar siap untuk dibangun. Bambang menjelaskan saat ini pihaknya tengah menangani setidaknya 40 LOI (Letter of Intent) atau surat minat investasi ke IKN dari para pelaku usaha untuk menanamkan modalnya.
&quot;Sekarang sedang berproses atau kita tangani 40 (LOI), termasuk dari beberapa konsorsium, itu tidak cuma satu, ada beberapa konsorsium yang bermitra, sekarang dalam tahap mencari kesepakatan, lokasi cocok atau tidak, luasnya cocok atau tidak,&quot; ujar Bambang di Gedung DPR, Senin (21/8/2023).

BACA JUGA:
Proyek Tol IKN Segmen Jembatan Pulau Balang-Sp. Riko Senilai Rp3,6 Triliun Dilelang


Bambang memberikan contoh misalnya investasi yang akan dilakukan oleh pengusaha Sukanto Tanoto dan pengusaha properti Sugianto Kusuma alias Aguan, di IKN yang saat ini tengah mencari lahan yang cocok sebelum melakukan investasi.
&quot;Semuanya masih dalam proses, kesesuaian dalam alokasi lahan,  misalnya mereka minta 300 Hektare kita punya cuma 150, mau atau tidak,  ataupun 300 hektare mereka maunya dekat daerah hijau, atau minta  depannya ada telaga, itu bisa atau tidak,&quot; kata kata Bambang.
Bambang mengaku saat ini saat ini memang sudah banyak LOI yang  diterima OIKN. Namun hingga saat ini memang para investor tersebut  memang masih alot membicarakan lokasi yang akan dibangun.
&quot;Kita lihat tadi masalah kesesuaian, ada yang minta 300 hektare cuma  kondisinya naik turun, kemudian ada yang banyak embung, dan lainnya, nah  hal-hal tersebut yang masih di negokan, mau tidak mereka,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNy8xOC8xLzE2ODE5MC81L3g4bWxuaGc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Investor masih kesulitan negosiasi masalah lahan di IKN Nusantara. Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Bambang Susantono mengakui diskusi dengan calon investor di IKN cukup alot terutama masalah ketersediaan lahan.

BACA JUGA:
Revisi UU IKN, Badan Otorita Bisa Cari Modal Lewat Pinjaman dan Surat Utang


Hal disebabkan karena saat ini lahan yang dikuasai oleh badan Otorita masih terbatas, sehingga baru bisa menawarkan lahan-lahan yang sudah benar-benar siap untuk dibangun. Bambang menjelaskan saat ini pihaknya tengah menangani setidaknya 40 LOI (Letter of Intent) atau surat minat investasi ke IKN dari para pelaku usaha untuk menanamkan modalnya.
&quot;Sekarang sedang berproses atau kita tangani 40 (LOI), termasuk dari beberapa konsorsium, itu tidak cuma satu, ada beberapa konsorsium yang bermitra, sekarang dalam tahap mencari kesepakatan, lokasi cocok atau tidak, luasnya cocok atau tidak,&quot; ujar Bambang di Gedung DPR, Senin (21/8/2023).

BACA JUGA:
Proyek Tol IKN Segmen Jembatan Pulau Balang-Sp. Riko Senilai Rp3,6 Triliun Dilelang


Bambang memberikan contoh misalnya investasi yang akan dilakukan oleh pengusaha Sukanto Tanoto dan pengusaha properti Sugianto Kusuma alias Aguan, di IKN yang saat ini tengah mencari lahan yang cocok sebelum melakukan investasi.
&quot;Semuanya masih dalam proses, kesesuaian dalam alokasi lahan,  misalnya mereka minta 300 Hektare kita punya cuma 150, mau atau tidak,  ataupun 300 hektare mereka maunya dekat daerah hijau, atau minta  depannya ada telaga, itu bisa atau tidak,&quot; kata kata Bambang.
Bambang mengaku saat ini saat ini memang sudah banyak LOI yang  diterima OIKN. Namun hingga saat ini memang para investor tersebut  memang masih alot membicarakan lokasi yang akan dibangun.
&quot;Kita lihat tadi masalah kesesuaian, ada yang minta 300 hektare cuma  kondisinya naik turun, kemudian ada yang banyak embung, dan lainnya, nah  hal-hal tersebut yang masih di negokan, mau tidak mereka,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
