<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Merger Garuda-Citilink dan Citilink, RI Kekurangan 200 Pesawat</title><description>Menteri BUMN Erick Thohir menyebut Indonesia masih kekurangan sekitar 200 pesawat.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/22/320/2868791/merger-garuda-citilink-dan-citilink-ri-kekurangan-200-pesawat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/08/22/320/2868791/merger-garuda-citilink-dan-citilink-ri-kekurangan-200-pesawat"/><item><title>Merger Garuda-Citilink dan Citilink, RI Kekurangan 200 Pesawat</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/22/320/2868791/merger-garuda-citilink-dan-citilink-ri-kekurangan-200-pesawat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/08/22/320/2868791/merger-garuda-citilink-dan-citilink-ri-kekurangan-200-pesawat</guid><pubDate>Selasa 22 Agustus 2023 12:55 WIB</pubDate><dc:creator>Suparjo Ramalan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/22/320/2868791/merger-garuda-citilink-dan-citilink-ri-kekurangan-200-pesawat-AyJc2iYEVn.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Erick Thohir bakal merger Garuda Indonesia, Citilink dan Pelita Air (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/22/320/2868791/merger-garuda-citilink-dan-citilink-ri-kekurangan-200-pesawat-AyJc2iYEVn.JPG</image><title>Erick Thohir bakal merger Garuda Indonesia, Citilink dan Pelita Air (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8yMC80LzE2OTQ1My81L3g4bmNrY2M=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Menteri BUMN Erick Thohir menyebut Indonesia masih kekurangan sekitar 200 pesawat. Perhitungan itu diperoleh dari perbandingan antara Amerika Serikat dan Indonesia.
Di Amerika Serikat, lanjut Erick, terdapat 7.200 pesawat yang melayani rute domestik. Di mana terdapat 300 juta populasi yang rata-rata pendapatan per kapita (GDP) mencapai USD40.000.

BACA JUGA:
Erick Thohir Bakal Merger Garuda Indonesia, Citilink dan Pelita Air


Sementara di Indonesia terdapat 280 juta penduduk yang memiliki GDP USD 4.700. Itu berarti Indonesia membutuhkan 729 pesawat. Padahal sekarang, Indonesia baru memiliki 550 pesawat.
&quot;Jadi perkara logistik kita belum sesuai,&quot; ujar Erick di Tokyo, Jepang, Selasa (22/8/2023).

BACA JUGA:
Sri Mulyani Bakal Suntik PMN Triliunan ke BUMN, Berikut Daftarnya


Untuk mengurangi ketertinggalan jumlah pesawat tersebut, Erick membuka opsi adanya penggabungan (merger) tiga maskapai penerbangan pelat merah. Ketiganya adalah PT Garuda Indonesia Tbk, Citilink Indonesia, dan Pelita Air Service.
Aksi korporasi itu sekaligus menekan biaya logistik di sektor penerbangan. Sebelumnya, langkah efisiensi sudah dilakukan di internal BUMN Pelindo dengan cara menggabungkan empat perusahaan Pelindo menjadi satu holding.
&quot;BUMN terus menekan logistic cost. Pelindo dari empat (perusahaan)  menjadi satu. Sebelumnya, logistic cost mencapai 23 persen, sekarang  jadi 11 persen. Kita juga upayakan Pelita Air, Citilink, dan Garuda  merger untuk menekan cost,&quot; kata dia.
Adapun merger Pelindo secara resmi telah terlaksana, dengan  ditandatanganinya Akta Penggabungan empat BUMN Layanan Jasa Pelabuhan.
Keempatnya terdiri dari PT Pelabuhan Indonesia I, Perusahaan  Perseroan (Persero) PT Pelabuhan Indonesia III, dan Perusahaan Perseroan  (Persero) PT Pelabuhan Indonesia IV. Mereka melebur kedalam Perusahaan  Perseroan (Persero) PT Pelabuhan Indonesia II yang menjadi surviving  entity.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8yMC80LzE2OTQ1My81L3g4bmNrY2M=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Menteri BUMN Erick Thohir menyebut Indonesia masih kekurangan sekitar 200 pesawat. Perhitungan itu diperoleh dari perbandingan antara Amerika Serikat dan Indonesia.
Di Amerika Serikat, lanjut Erick, terdapat 7.200 pesawat yang melayani rute domestik. Di mana terdapat 300 juta populasi yang rata-rata pendapatan per kapita (GDP) mencapai USD40.000.

BACA JUGA:
Erick Thohir Bakal Merger Garuda Indonesia, Citilink dan Pelita Air


Sementara di Indonesia terdapat 280 juta penduduk yang memiliki GDP USD 4.700. Itu berarti Indonesia membutuhkan 729 pesawat. Padahal sekarang, Indonesia baru memiliki 550 pesawat.
&quot;Jadi perkara logistik kita belum sesuai,&quot; ujar Erick di Tokyo, Jepang, Selasa (22/8/2023).

BACA JUGA:
Sri Mulyani Bakal Suntik PMN Triliunan ke BUMN, Berikut Daftarnya


Untuk mengurangi ketertinggalan jumlah pesawat tersebut, Erick membuka opsi adanya penggabungan (merger) tiga maskapai penerbangan pelat merah. Ketiganya adalah PT Garuda Indonesia Tbk, Citilink Indonesia, dan Pelita Air Service.
Aksi korporasi itu sekaligus menekan biaya logistik di sektor penerbangan. Sebelumnya, langkah efisiensi sudah dilakukan di internal BUMN Pelindo dengan cara menggabungkan empat perusahaan Pelindo menjadi satu holding.
&quot;BUMN terus menekan logistic cost. Pelindo dari empat (perusahaan)  menjadi satu. Sebelumnya, logistic cost mencapai 23 persen, sekarang  jadi 11 persen. Kita juga upayakan Pelita Air, Citilink, dan Garuda  merger untuk menekan cost,&quot; kata dia.
Adapun merger Pelindo secara resmi telah terlaksana, dengan  ditandatanganinya Akta Penggabungan empat BUMN Layanan Jasa Pelabuhan.
Keempatnya terdiri dari PT Pelabuhan Indonesia I, Perusahaan  Perseroan (Persero) PT Pelabuhan Indonesia III, dan Perusahaan Perseroan  (Persero) PT Pelabuhan Indonesia IV. Mereka melebur kedalam Perusahaan  Perseroan (Persero) PT Pelabuhan Indonesia II yang menjadi surviving  entity.</content:encoded></item></channel></rss>
