<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rencana Merger Citilink-Pelita Air, Dirut Garuda Indonesia Bilang Gini</title><description>Kementerian BUMN berencana menggabungkan (merger) PT Garuda Indonesia Tbk, Citilink Indonesia, dan Pelita Air Service (PAS).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/22/320/2868853/rencana-merger-citilink-pelita-air-dirut-garuda-indonesia-bilang-gini</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/08/22/320/2868853/rencana-merger-citilink-pelita-air-dirut-garuda-indonesia-bilang-gini"/><item><title>Rencana Merger Citilink-Pelita Air, Dirut Garuda Indonesia Bilang Gini</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/22/320/2868853/rencana-merger-citilink-pelita-air-dirut-garuda-indonesia-bilang-gini</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/08/22/320/2868853/rencana-merger-citilink-pelita-air-dirut-garuda-indonesia-bilang-gini</guid><pubDate>Selasa 22 Agustus 2023 14:13 WIB</pubDate><dc:creator>Suparjo Ramalan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/22/320/2868853/rencana-merger-citilink-pelita-air-dirut-garuda-indonesia-bilang-gini-8WJlFC5I95.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dirut Garuda Indonesia buka suara soal rencana merger dengan Citilink dan Pelita Air. (Foto: Garuda Indonesia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/22/320/2868853/rencana-merger-citilink-pelita-air-dirut-garuda-indonesia-bilang-gini-8WJlFC5I95.jpg</image><title>Dirut Garuda Indonesia buka suara soal rencana merger dengan Citilink dan Pelita Air. (Foto: Garuda Indonesia)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNy8wMi80LzE2NzcyNC81L3g4bTc4MWE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Kementerian BUMN berencana menggabungkan (merger) PT Garuda Indonesia Tbk, Citilink Indonesia, dan Pelita Air Service (PAS). Aksi korporasi ini masih dalam tahap pembahasan.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengatakan, belum ada keputusan final atas rencana merger ketiga maskapai penerbangan nasional tersebut. Lantaran, masih dalam fase kajian.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Garuda Indonesia Rugi Rp1,14 Triliun di Semester I-2023

&quot;Masih diskusi nih, belum conclude. Sabar ya, pasti nanti diinform,&quot; ujar Irfan saat dihubungi MNC Portal, Selasa (22/8/2023).

Opsi penggabungan ketiga maskapai pelat merah ini diungkapkan Menteri BUMN Erick Thohir saat mengunjungi Tokyo, Jepang, pada akhir pekan kemarin.

Dia mengatakan merger menjadi salah satu skema yang diusulkan dengan tujuan efisiensi, termasuk menekan biaya logistik, di internal BUMN klaster penerbagan.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Erick Thohir Bakal Merger Garuda Indonesia, Citilink dan Pelita Air

Alasan lainnya adalah mengejar ketertinggalan jumlah pesawat di dalam negeri. Erick menyebut Indonesia membutuhkan 729 pesawat lantaran jumlah penduduknya mencapai 280 juta jiwa.

Saat ini, total armada yang beroperasi di Tanah Air baru menyentuh 550 pesawat. Artinya, Indonesia masih membutuhkan 200 pesawat baru agar bisa mengakomodir kebutuhan penerbangan nasional.

Senada, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mencatat, hubungan Garuda Indonesia dan Citilink sama seperti saat ini. Artinya, saham Citilink tetap didominasi oleh Garuda. Tercatat, emiten bersandi saham GIAA itu memiliki total saham sebesar 97,80 persen. Sisanya 2,20% dipegang PT Aero Wisata.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Dirut Garuda Indonesia Pamer Pangkas Utang 50%, Sisa Rp75 Triliun



Terkait bergabungnya Pelita Air, lanjut Arya, pihaknya masih melihat potensi bisnis terbaik perusahaan agar bisa disinergikan.



&quot;Maksudnya itu hubungan Garuda dan Citilink sama aja seperti sekarang, sementara untuk Pelita akan dilihat peluang-peluang bisnisnya yang terbaiknya,&quot; tutur Arya kepada wartawan.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNy8wMi80LzE2NzcyNC81L3g4bTc4MWE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Kementerian BUMN berencana menggabungkan (merger) PT Garuda Indonesia Tbk, Citilink Indonesia, dan Pelita Air Service (PAS). Aksi korporasi ini masih dalam tahap pembahasan.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengatakan, belum ada keputusan final atas rencana merger ketiga maskapai penerbangan nasional tersebut. Lantaran, masih dalam fase kajian.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Garuda Indonesia Rugi Rp1,14 Triliun di Semester I-2023

&quot;Masih diskusi nih, belum conclude. Sabar ya, pasti nanti diinform,&quot; ujar Irfan saat dihubungi MNC Portal, Selasa (22/8/2023).

Opsi penggabungan ketiga maskapai pelat merah ini diungkapkan Menteri BUMN Erick Thohir saat mengunjungi Tokyo, Jepang, pada akhir pekan kemarin.

Dia mengatakan merger menjadi salah satu skema yang diusulkan dengan tujuan efisiensi, termasuk menekan biaya logistik, di internal BUMN klaster penerbagan.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Erick Thohir Bakal Merger Garuda Indonesia, Citilink dan Pelita Air

Alasan lainnya adalah mengejar ketertinggalan jumlah pesawat di dalam negeri. Erick menyebut Indonesia membutuhkan 729 pesawat lantaran jumlah penduduknya mencapai 280 juta jiwa.

Saat ini, total armada yang beroperasi di Tanah Air baru menyentuh 550 pesawat. Artinya, Indonesia masih membutuhkan 200 pesawat baru agar bisa mengakomodir kebutuhan penerbangan nasional.

Senada, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mencatat, hubungan Garuda Indonesia dan Citilink sama seperti saat ini. Artinya, saham Citilink tetap didominasi oleh Garuda. Tercatat, emiten bersandi saham GIAA itu memiliki total saham sebesar 97,80 persen. Sisanya 2,20% dipegang PT Aero Wisata.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Dirut Garuda Indonesia Pamer Pangkas Utang 50%, Sisa Rp75 Triliun



Terkait bergabungnya Pelita Air, lanjut Arya, pihaknya masih melihat potensi bisnis terbaik perusahaan agar bisa disinergikan.



&quot;Maksudnya itu hubungan Garuda dan Citilink sama aja seperti sekarang, sementara untuk Pelita akan dilihat peluang-peluang bisnisnya yang terbaiknya,&quot; tutur Arya kepada wartawan.</content:encoded></item></channel></rss>
