<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rumah Atap Merah Masih Utuh Saat Kebakaran Dahsyat di Hawaii, Ini Kisah Pemiliknya</title><description>Sebuah rumah dengan atap berwarna merah terlihat tidak hangus.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/22/470/2869093/rumah-atap-merah-masih-utuh-saat-kebakaran-dahsyat-di-hawaii-ini-kisah-pemiliknya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/08/22/470/2869093/rumah-atap-merah-masih-utuh-saat-kebakaran-dahsyat-di-hawaii-ini-kisah-pemiliknya"/><item><title>Rumah Atap Merah Masih Utuh Saat Kebakaran Dahsyat di Hawaii, Ini Kisah Pemiliknya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/22/470/2869093/rumah-atap-merah-masih-utuh-saat-kebakaran-dahsyat-di-hawaii-ini-kisah-pemiliknya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/08/22/470/2869093/rumah-atap-merah-masih-utuh-saat-kebakaran-dahsyat-di-hawaii-ini-kisah-pemiliknya</guid><pubDate>Selasa 22 Agustus 2023 18:17 WIB</pubDate><dc:creator>Kharisma Rizkika Rahmawati</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/22/470/2869093/rumah-atap-merah-masih-utuh-saat-kebakaran-dahsyat-di-hawaii-ini-kisah-pemiliknya-zGJo8EYeAV.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rumah atap merah tidak hangus di tengah kebakaran Hawaii (Foto: Newyorkpost)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/22/470/2869093/rumah-atap-merah-masih-utuh-saat-kebakaran-dahsyat-di-hawaii-ini-kisah-pemiliknya-zGJo8EYeAV.jpg</image><title>Rumah atap merah tidak hangus di tengah kebakaran Hawaii (Foto: Newyorkpost)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8xMi8xLzE2OTEzMi81L3g4bjYxZjI=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Sebuah rumah dengan atap berwarna merah terlihat tidak hangus. Melansir New York Post di Jakarta, Selasa (22/8/2023), tersebar foto-foto udara yang menakjubkan dari sebuah properti yang tidak mengalami kerusakan setelah terjadi kebakaran dahsyat di Hawaii. Hal ini menjadi viral minggu lalu, sekaligus memicu konspirasi gila bahwa kehancuran lokal itu merupakan serangan laser yang ditargetkan dari luar angkasa.
Adapun pemilik rumah beratap merah tersebut, Dora Atwater Millikin, mengungkapkan bahwa ia hanya melakukan beberapa perubahan rutin selama renovasi baru-baru ini dan tidak ada yang ditujukan untuk bertahan dari bencana seperti itu.

BACA JUGA:
Dokter, Dokter Gigi, dan Antropolog Berupaya Identifikasi Korban Kebakaran Hutan Hawaii


&quot;Ini adalah rumah yang 100% terbuat dari kayu, jadi kami tidak membuatnya tahan api atau semacamnya,&quot; ujar Dora Atwater Millikin kepada Los Angeles Times.
Dia juga mengatakan bahwa bersama suaminya, Dudley yang merupakan seorang pensiunan manajer portofolio, tidak memikirkan tentang kebakaran saat mereka merenovasi rumah yang sudah mereka tinggali selama tiga tahun itu.

BACA JUGA:
Korban Jiwa Kebakaran Hutan Hawaii Mencapai 114 Orang, Proses Identifikasi Berjalan 12 Jam Sehari


Diketahui, sebelumnya rumah tersebut milik mantan pemegang buku berusia 100 tahun.
&quot;Kami menyukai bangunan tua, jadi kami hanya ingin menghormati bangunan tersebut,&quot; kata Dora Atwater Millikin.
&quot;Dan kami tidak mengubah bangunan ini dengan cara apa pun kami hanya merestorasinya,&quot; imbuhnya.
Salah satu keputusan yang mungkin tanpa disadari telah membantunya  bertahan dari kebakaran paling mematikan di AS dalam satu abad lebih ini  adalah mengganti atap aspal dengan atap yang terbuat dari logam berat.
Dia diberi tahu bahwa selama kebakaran ada potongan-potongan kayu  sepanjang 6,12 inci yang terbakar dan hampir melayang di udara karena  angin dan sebagainya.
&quot;Kayu-kayu itu akan mengenai atap rumah orang, dan jika itu adalah  atap aspal, maka akan terbakar. Dan jika tidak, mereka akan jatuh dari  atap dan kemudian membakar dedaunan di sekitar rumah,&quot; pungkas Dora  Atwater Millikin kepada LA Times.
Saat itu, mereka juga secara tidak sadar meningkatkan peluang  properti untuk bertahan hidup, setelah melapisi tanah dengan batu hingga  garis tetesan atap dan juga menebang dedaunan yang menempel di dinding  luar.
Menurut penasihat kehutanan dari University of California Cooperative  Extension, Susie Koncher, meskipun hal ini dilakukan untuk mencegah  rayap, bukan untuk melindungi dari kebakaran, namun perubahan tersebut  hampir sesuai dengan panduan yang diberikan oleh para ahli untuk membuat  rumah kokoh dari kebakaran hutan.
&quot;Jika semak dan perdu, terutama yang mudah terbakar, berada tepat di  samping rumah dan bara api membakarnya, panasnya bisa memecahkan jendela  dan langsung masuk ke dalam rumah,&quot; jelas Susie Kocher.
Rumah beratap merah itu mungkin juga diuntungkan karena tidak terlalu  dekat dengan properti tetangga yang sering kali menjadi bahan bakar  utama dalam kebakaran. Kemudian, di tiga sisi rumah tersebut juga  berbatasan dengan lautan, jalan, dan tanah kosong.
Selain itu, Dora Atwater Millikin menjelaskan, sebagian besar rumah  di area itu memiliki alat penyiram, akan tetapi sistem tersebut tidak  berfungsi saat dibutuhkan karena listrik padam.
Namun, semua bahan yang mudah terbakar sebagian besar telah disingkirkan dari area di bawah dek, yang juga menghadap ke laut.
Sementara itu, Dora Atwater Millikin dan suaminya berencana untuk  segera kembali ke Maui dan membuka rumah mereka untuk para tetangga yang  kehilangan tempat tinggal.
&quot;Kami kehilangan tetangga dalam hal ini, dan tetangga kehilangan  segalanya,&quot; kata Dora Atwater Millikin kepada surat kabar California.
&quot;Begitu banyak orang yang kehilangan segalanya, dan kita perlu saling  menjaga dan membangun kembali. Semua orang perlu membantu membangun  kembali,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8xMi8xLzE2OTEzMi81L3g4bjYxZjI=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Sebuah rumah dengan atap berwarna merah terlihat tidak hangus. Melansir New York Post di Jakarta, Selasa (22/8/2023), tersebar foto-foto udara yang menakjubkan dari sebuah properti yang tidak mengalami kerusakan setelah terjadi kebakaran dahsyat di Hawaii. Hal ini menjadi viral minggu lalu, sekaligus memicu konspirasi gila bahwa kehancuran lokal itu merupakan serangan laser yang ditargetkan dari luar angkasa.
Adapun pemilik rumah beratap merah tersebut, Dora Atwater Millikin, mengungkapkan bahwa ia hanya melakukan beberapa perubahan rutin selama renovasi baru-baru ini dan tidak ada yang ditujukan untuk bertahan dari bencana seperti itu.

BACA JUGA:
Dokter, Dokter Gigi, dan Antropolog Berupaya Identifikasi Korban Kebakaran Hutan Hawaii


&quot;Ini adalah rumah yang 100% terbuat dari kayu, jadi kami tidak membuatnya tahan api atau semacamnya,&quot; ujar Dora Atwater Millikin kepada Los Angeles Times.
Dia juga mengatakan bahwa bersama suaminya, Dudley yang merupakan seorang pensiunan manajer portofolio, tidak memikirkan tentang kebakaran saat mereka merenovasi rumah yang sudah mereka tinggali selama tiga tahun itu.

BACA JUGA:
Korban Jiwa Kebakaran Hutan Hawaii Mencapai 114 Orang, Proses Identifikasi Berjalan 12 Jam Sehari


Diketahui, sebelumnya rumah tersebut milik mantan pemegang buku berusia 100 tahun.
&quot;Kami menyukai bangunan tua, jadi kami hanya ingin menghormati bangunan tersebut,&quot; kata Dora Atwater Millikin.
&quot;Dan kami tidak mengubah bangunan ini dengan cara apa pun kami hanya merestorasinya,&quot; imbuhnya.
Salah satu keputusan yang mungkin tanpa disadari telah membantunya  bertahan dari kebakaran paling mematikan di AS dalam satu abad lebih ini  adalah mengganti atap aspal dengan atap yang terbuat dari logam berat.
Dia diberi tahu bahwa selama kebakaran ada potongan-potongan kayu  sepanjang 6,12 inci yang terbakar dan hampir melayang di udara karena  angin dan sebagainya.
&quot;Kayu-kayu itu akan mengenai atap rumah orang, dan jika itu adalah  atap aspal, maka akan terbakar. Dan jika tidak, mereka akan jatuh dari  atap dan kemudian membakar dedaunan di sekitar rumah,&quot; pungkas Dora  Atwater Millikin kepada LA Times.
Saat itu, mereka juga secara tidak sadar meningkatkan peluang  properti untuk bertahan hidup, setelah melapisi tanah dengan batu hingga  garis tetesan atap dan juga menebang dedaunan yang menempel di dinding  luar.
Menurut penasihat kehutanan dari University of California Cooperative  Extension, Susie Koncher, meskipun hal ini dilakukan untuk mencegah  rayap, bukan untuk melindungi dari kebakaran, namun perubahan tersebut  hampir sesuai dengan panduan yang diberikan oleh para ahli untuk membuat  rumah kokoh dari kebakaran hutan.
&quot;Jika semak dan perdu, terutama yang mudah terbakar, berada tepat di  samping rumah dan bara api membakarnya, panasnya bisa memecahkan jendela  dan langsung masuk ke dalam rumah,&quot; jelas Susie Kocher.
Rumah beratap merah itu mungkin juga diuntungkan karena tidak terlalu  dekat dengan properti tetangga yang sering kali menjadi bahan bakar  utama dalam kebakaran. Kemudian, di tiga sisi rumah tersebut juga  berbatasan dengan lautan, jalan, dan tanah kosong.
Selain itu, Dora Atwater Millikin menjelaskan, sebagian besar rumah  di area itu memiliki alat penyiram, akan tetapi sistem tersebut tidak  berfungsi saat dibutuhkan karena listrik padam.
Namun, semua bahan yang mudah terbakar sebagian besar telah disingkirkan dari area di bawah dek, yang juga menghadap ke laut.
Sementara itu, Dora Atwater Millikin dan suaminya berencana untuk  segera kembali ke Maui dan membuka rumah mereka untuk para tetangga yang  kehilangan tempat tinggal.
&quot;Kami kehilangan tetangga dalam hal ini, dan tetangga kehilangan  segalanya,&quot; kata Dora Atwater Millikin kepada surat kabar California.
&quot;Begitu banyak orang yang kehilangan segalanya, dan kita perlu saling  menjaga dan membangun kembali. Semua orang perlu membantu membangun  kembali,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
