<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bentuk PalmCo, Ini Manfaat RI sebagai Produsen Sawit Terbesar Dunia</title><description>Rencana pembentukan PalmCo bisa mendorong pertumbuhan ekonomi sebagai  Agent of Development yang memperkuat industri sawit nasional.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/23/320/2869525/bentuk-palmco-ini-manfaat-ri-sebagai-produsen-sawit-terbesar-dunia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/08/23/320/2869525/bentuk-palmco-ini-manfaat-ri-sebagai-produsen-sawit-terbesar-dunia"/><item><title>Bentuk PalmCo, Ini Manfaat RI sebagai Produsen Sawit Terbesar Dunia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/23/320/2869525/bentuk-palmco-ini-manfaat-ri-sebagai-produsen-sawit-terbesar-dunia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/08/23/320/2869525/bentuk-palmco-ini-manfaat-ri-sebagai-produsen-sawit-terbesar-dunia</guid><pubDate>Rabu 23 Agustus 2023 12:59 WIB</pubDate><dc:creator>Nasya Emmanuela Lilipaly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/23/320/2869525/bentuk-palmco-ini-manfaat-ri-sebagai-produsen-sawit-terbesar-dunia-oBUGTzJwkB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pembentukan Palm Co dorong pertumbuhan ekonomi (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/23/320/2869525/bentuk-palmco-ini-manfaat-ri-sebagai-produsen-sawit-terbesar-dunia-oBUGTzJwkB.jpg</image><title>Pembentukan Palm Co dorong pertumbuhan ekonomi (Foto: Reuters)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8wMy8xLzE2ODcwMS81L3g4bXo3MHA=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Rencana pembentukan PalmCo bisa mendorong pertumbuhan ekonomi sebagai Agent of Development yang memperkuat industri sawit nasional. Menteri Pertanian periode 2000-2004 Bungaran Saragih mengatakan tidak hanya menggerakkan pertumbuhan ekonomi, tetapi rencana pembentukan PalmCo juga memiliki potensi untuk membantu menciptakan pemerataan hasil perekonomian yang berkelanjutan.
Menurutnya, kondisi itu hanya akan dapat dicapai jika PalmCo yang menurut rencana nantinya merupakan Sub Holding PTPN Group di bisnis kelapa sawit dipertegas posisinya sebagai Agent of Development atau lembaga yang mengerahkan dana untuk pembangunan ekonomi rakyat.

BACA JUGA:
4 Anak Usaha PTPN III Digabung Jadi Sub Holding Palm Co


&quot;Satu-satunya justifikasi PalmCo dalam perekonomian adalah jika perannya dipertegas sebagai Agent of Development. Sehingga, Pemerintah dapat ikut mengendalikan strategi bisnis perusahaan untuk kepentingan rakyat,&quot; tegas Ketua Dewan Pembina Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Bungaran kepada wartawan di Jakarta, Rabu (23/8/2023).
Dia menjelaskan, Indonesia membutuhkan Agent of Development di bidang kelapa sawit karena negara ini bukan lagi hanya sebagai produsen terbesar, tetapi juga konsumen produk sawit terbesar di dunia.

BACA JUGA:
Erick Thohir Bocorkan Rencana IPO PHE, Palm Co dan Sugar Co


&amp;ldquo;Kita bukan hanya perusahaan sawit terbesar di dunia, tetapi juga konsumen sawit terbesar di dunia, seperti minyak goreng, biodiesel dan lain-lain itu. Tentu untuk ini masih diperlukan kebijakan pemerintah untuk mengaturnya,&amp;rdquo; ujar Bungaran.
Dia mengatakan kurang tegasnya peran PTPN selama ini sebagai agent of development untuk sawit, menjadikan Pemerintah kewalahan jika terjadi lonjakan harga sawit di luar negeri, seperti yang terjadi tahun lalu di awal Perang Ukraina-Rusia.
&quot;Bukan seperti sekarang ini, kalau ada gejolak harga di luar negeri, kewalahan Pemerintah mengamankan persediaan di dalam negeri. Kewalahan gitu. Kalau ada PalmCo kan tinggal diperintahkan saja, sediakan anggarannya,&quot; tambahnya.
Lebih jauh, dia mengatakan tuntutan terhadap PalmCo saat ini, tidak  hanya harus mampu menjadi Agent of Development untuk on-farm, tetapi  juga sampai ke downstream. Hal ini sejalan dengan program hilirisasi  yang tengah dijalankan Pemerintah.
&quot;Jadi PalmCo sebagai agent of development membantu petani dan  membantu konsumen di dalam negeri. Bahkan, lebih spesifik lagi, PalmCo  bisa ditugaskan membuat minyak goreng merah, misalnya, supaya tidak  terjadi avitaminosis (kondisi kronis yang terjadi ketika tubuh  kekurangan satu atau beberapa vitamin esensial dalam darah-red),&quot; ujar  Prof. Bungaran.
Dari sisi produsen, terangnya, PalmCo masih dibutuhkan untuk  mendampingi petani rakyat yang menguasai lebih dari 40 persen lahan  sawit nasional atau lebih dari 6 juta hektare. Jauh lebih luas dari pada  lahan sawit PalmCo yang akan dibentuk.
&quot;Jadi Indonesia memang masih membutuhkan Agent of Development di  bidang sawit. Untuk memastikan peningkatan kualitas lahan sawit plasma,  juga untuk memastikan kebutuhan minyak goreng atau nanti ke depan  biodiesel masyarakat tersedia,&quot; jelasnya.
Dia meyakini potensi PalmCo menjadi Agent of Development sawit besar.  Contohnya, PTPN  pernah ditugaskan mengembangkan petani plasma dengan  bantuan kredit dari  luar negeri. Perusahaan swasta yang muncul  belakangan juga belajar dari PTPN.
Dengan demikian, lanjutnya, penilaian kinerja PalmCo tidak hanya  berdasarkan keuntungan, tetapi yang utama adalah berdasarkan dampak  perusahaan terhadap perekonomian masyarakat dan juga perekonomian  nasional.
Lebih jauh, dia mengemukakan Indonesia, tidak bisa serta merta meniru  strategi bisnis BUMN sawit Malaysia dan Singapura karena kedua negara  itu tidak memiliki petani plasma dan konsumen berpenghasilan rendah  sebanyak di Indonesia.
&quot;Jadi Indonesia harus cari jalan sendiri. Jadi Agent of Development  baru ada justifikasinya. Kalau petani rakyat yang jumlahnya lebih dari 6  juta bisa bersatu membentuk koperasi atau bentuk lain juga sangat bisa  mendukung kinerja PalmCo lebih besar lagi,&quot; ujarnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8wMy8xLzE2ODcwMS81L3g4bXo3MHA=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Rencana pembentukan PalmCo bisa mendorong pertumbuhan ekonomi sebagai Agent of Development yang memperkuat industri sawit nasional. Menteri Pertanian periode 2000-2004 Bungaran Saragih mengatakan tidak hanya menggerakkan pertumbuhan ekonomi, tetapi rencana pembentukan PalmCo juga memiliki potensi untuk membantu menciptakan pemerataan hasil perekonomian yang berkelanjutan.
Menurutnya, kondisi itu hanya akan dapat dicapai jika PalmCo yang menurut rencana nantinya merupakan Sub Holding PTPN Group di bisnis kelapa sawit dipertegas posisinya sebagai Agent of Development atau lembaga yang mengerahkan dana untuk pembangunan ekonomi rakyat.

BACA JUGA:
4 Anak Usaha PTPN III Digabung Jadi Sub Holding Palm Co


&quot;Satu-satunya justifikasi PalmCo dalam perekonomian adalah jika perannya dipertegas sebagai Agent of Development. Sehingga, Pemerintah dapat ikut mengendalikan strategi bisnis perusahaan untuk kepentingan rakyat,&quot; tegas Ketua Dewan Pembina Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Bungaran kepada wartawan di Jakarta, Rabu (23/8/2023).
Dia menjelaskan, Indonesia membutuhkan Agent of Development di bidang kelapa sawit karena negara ini bukan lagi hanya sebagai produsen terbesar, tetapi juga konsumen produk sawit terbesar di dunia.

BACA JUGA:
Erick Thohir Bocorkan Rencana IPO PHE, Palm Co dan Sugar Co


&amp;ldquo;Kita bukan hanya perusahaan sawit terbesar di dunia, tetapi juga konsumen sawit terbesar di dunia, seperti minyak goreng, biodiesel dan lain-lain itu. Tentu untuk ini masih diperlukan kebijakan pemerintah untuk mengaturnya,&amp;rdquo; ujar Bungaran.
Dia mengatakan kurang tegasnya peran PTPN selama ini sebagai agent of development untuk sawit, menjadikan Pemerintah kewalahan jika terjadi lonjakan harga sawit di luar negeri, seperti yang terjadi tahun lalu di awal Perang Ukraina-Rusia.
&quot;Bukan seperti sekarang ini, kalau ada gejolak harga di luar negeri, kewalahan Pemerintah mengamankan persediaan di dalam negeri. Kewalahan gitu. Kalau ada PalmCo kan tinggal diperintahkan saja, sediakan anggarannya,&quot; tambahnya.
Lebih jauh, dia mengatakan tuntutan terhadap PalmCo saat ini, tidak  hanya harus mampu menjadi Agent of Development untuk on-farm, tetapi  juga sampai ke downstream. Hal ini sejalan dengan program hilirisasi  yang tengah dijalankan Pemerintah.
&quot;Jadi PalmCo sebagai agent of development membantu petani dan  membantu konsumen di dalam negeri. Bahkan, lebih spesifik lagi, PalmCo  bisa ditugaskan membuat minyak goreng merah, misalnya, supaya tidak  terjadi avitaminosis (kondisi kronis yang terjadi ketika tubuh  kekurangan satu atau beberapa vitamin esensial dalam darah-red),&quot; ujar  Prof. Bungaran.
Dari sisi produsen, terangnya, PalmCo masih dibutuhkan untuk  mendampingi petani rakyat yang menguasai lebih dari 40 persen lahan  sawit nasional atau lebih dari 6 juta hektare. Jauh lebih luas dari pada  lahan sawit PalmCo yang akan dibentuk.
&quot;Jadi Indonesia memang masih membutuhkan Agent of Development di  bidang sawit. Untuk memastikan peningkatan kualitas lahan sawit plasma,  juga untuk memastikan kebutuhan minyak goreng atau nanti ke depan  biodiesel masyarakat tersedia,&quot; jelasnya.
Dia meyakini potensi PalmCo menjadi Agent of Development sawit besar.  Contohnya, PTPN  pernah ditugaskan mengembangkan petani plasma dengan  bantuan kredit dari  luar negeri. Perusahaan swasta yang muncul  belakangan juga belajar dari PTPN.
Dengan demikian, lanjutnya, penilaian kinerja PalmCo tidak hanya  berdasarkan keuntungan, tetapi yang utama adalah berdasarkan dampak  perusahaan terhadap perekonomian masyarakat dan juga perekonomian  nasional.
Lebih jauh, dia mengemukakan Indonesia, tidak bisa serta merta meniru  strategi bisnis BUMN sawit Malaysia dan Singapura karena kedua negara  itu tidak memiliki petani plasma dan konsumen berpenghasilan rendah  sebanyak di Indonesia.
&quot;Jadi Indonesia harus cari jalan sendiri. Jadi Agent of Development  baru ada justifikasinya. Kalau petani rakyat yang jumlahnya lebih dari 6  juta bisa bersatu membentuk koperasi atau bentuk lain juga sangat bisa  mendukung kinerja PalmCo lebih besar lagi,&quot; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
