<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Merger 3 BUMN Maskapai Penerbangan, Pengamat: Kelasnya Berbeda</title><description>Menteri BUMN Erick Thohir berencana menggabungkan atau merger Garuda Indonesia, Pelita Air dan Citilink.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/23/320/2869740/merger-3-bumn-maskapai-penerbangan-pengamat-kelasnya-berbeda</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/08/23/320/2869740/merger-3-bumn-maskapai-penerbangan-pengamat-kelasnya-berbeda"/><item><title>Merger 3 BUMN Maskapai Penerbangan, Pengamat: Kelasnya Berbeda</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/23/320/2869740/merger-3-bumn-maskapai-penerbangan-pengamat-kelasnya-berbeda</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/08/23/320/2869740/merger-3-bumn-maskapai-penerbangan-pengamat-kelasnya-berbeda</guid><pubDate>Rabu 23 Agustus 2023 16:51 WIB</pubDate><dc:creator> Ikhsan Permana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/23/320/2869740/merger-3-bumn-maskapai-penerbangan-pengamat-kelasnya-berbeda-0Ll2d3pEJk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Erick Thohir bakal merger Garuda Indonesia, Citilink dan Pelita Air (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/23/320/2869740/merger-3-bumn-maskapai-penerbangan-pengamat-kelasnya-berbeda-0Ll2d3pEJk.jpg</image><title>Erick Thohir bakal merger Garuda Indonesia, Citilink dan Pelita Air (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8yMC80LzE2OTQ1My81L3g4bmNrY2M=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Menteri BUMN Erick Thohir berencana menggabungkan atau merger Garuda Indonesia, Pelita Air dan Citilink. Pengamat menilai rencana ini akan menimbulkan kerancuan.

BACA JUGA:
Peninjauan Kembali Greylag Ditolak Pengadilan, Begini Respons Dirut Garuda Indonesia


Pengamat Penerbangan Alvin Lie mengatakan, dirinya kesulitan memahami seperti apa merger tersebut. Sebab menurutnya ketiga maskapai itu memiliki target pasar masing-masing.
&quot;Itu agak rancu ya, karena pelayanan penerbangan ini kan ada kelas pelayanannya, ada yang full service, ada yang LCC. Kan sangat aneh kalau Garuda kemudian juga jadi LCC misalnya,&quot; kata Alvin kepada MPI, Rabu (23/8/2023).

BACA JUGA:
Garuda Indonesia-Pelita Air Merger, Begini Penjelasan Erick Thohir


Dia menjelaskan, pelayanan tersebut berpengaruh kepada izin operasional masing-masing maskapai. &quot;Karena untuk penerbangan domestik itu dibedakan tarif batas atas untuk full service, untuk medium dan LCC itu tarif batas atasnya berbeda,&quot; jelasnya.
Dia membandingkan dengan yang dilakukan oleh Lion Group, dia menyebut apa yang dilakukan Lion Group pembedanya sangat jelas.
&quot;Lion Group itu jelas pembedanya Batik full service, kemudian Super  Air Jet dan Lion-nya LCC, Wings nya itu khusus untuk penerbangan  baling-baling, masing-masing ini punya karakter sendiri-sendiri dan  perusahaan sendiri-sendiri,&quot; ujarnya.
Dia khawatir penggabungan tiga perusahaan tersebut malah membuat perusahaan tidak gesit dalam menghadapi persaingan .
&quot;Saya melihat di negara-negara lain itu ada pembedanya, Singapore  Airlines itu full service, LCC-nya Scoot anak perusahaan mereknya beda,  karakternya beda, rutenya juga bisa beda, kalau di merger saya khawatir  justru tidak kompetitif, organisasinya menjadi terlalu besar, Garuda  saja sudah sangat besar, dan ketika menjadi terlalu besar tidak gesit  menghadapi dinamika persaingan,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8yMC80LzE2OTQ1My81L3g4bmNrY2M=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Menteri BUMN Erick Thohir berencana menggabungkan atau merger Garuda Indonesia, Pelita Air dan Citilink. Pengamat menilai rencana ini akan menimbulkan kerancuan.

BACA JUGA:
Peninjauan Kembali Greylag Ditolak Pengadilan, Begini Respons Dirut Garuda Indonesia


Pengamat Penerbangan Alvin Lie mengatakan, dirinya kesulitan memahami seperti apa merger tersebut. Sebab menurutnya ketiga maskapai itu memiliki target pasar masing-masing.
&quot;Itu agak rancu ya, karena pelayanan penerbangan ini kan ada kelas pelayanannya, ada yang full service, ada yang LCC. Kan sangat aneh kalau Garuda kemudian juga jadi LCC misalnya,&quot; kata Alvin kepada MPI, Rabu (23/8/2023).

BACA JUGA:
Garuda Indonesia-Pelita Air Merger, Begini Penjelasan Erick Thohir


Dia menjelaskan, pelayanan tersebut berpengaruh kepada izin operasional masing-masing maskapai. &quot;Karena untuk penerbangan domestik itu dibedakan tarif batas atas untuk full service, untuk medium dan LCC itu tarif batas atasnya berbeda,&quot; jelasnya.
Dia membandingkan dengan yang dilakukan oleh Lion Group, dia menyebut apa yang dilakukan Lion Group pembedanya sangat jelas.
&quot;Lion Group itu jelas pembedanya Batik full service, kemudian Super  Air Jet dan Lion-nya LCC, Wings nya itu khusus untuk penerbangan  baling-baling, masing-masing ini punya karakter sendiri-sendiri dan  perusahaan sendiri-sendiri,&quot; ujarnya.
Dia khawatir penggabungan tiga perusahaan tersebut malah membuat perusahaan tidak gesit dalam menghadapi persaingan .
&quot;Saya melihat di negara-negara lain itu ada pembedanya, Singapore  Airlines itu full service, LCC-nya Scoot anak perusahaan mereknya beda,  karakternya beda, rutenya juga bisa beda, kalau di merger saya khawatir  justru tidak kompetitif, organisasinya menjadi terlalu besar, Garuda  saja sudah sangat besar, dan ketika menjadi terlalu besar tidak gesit  menghadapi dinamika persaingan,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
