<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>70 Juta Orang Asia Jadi Miskin Gegara Pandemi dan Inflasi</title><description>Hampir 70 juta orang di negara-negara berkembang Asia ke dalam kemiskinan ekstrem pada tahun lalu.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/24/320/2870127/70-juta-orang-asia-jadi-miskin-gegara-pandemi-dan-inflasi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/08/24/320/2870127/70-juta-orang-asia-jadi-miskin-gegara-pandemi-dan-inflasi"/><item><title>70 Juta Orang Asia Jadi Miskin Gegara Pandemi dan Inflasi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/24/320/2870127/70-juta-orang-asia-jadi-miskin-gegara-pandemi-dan-inflasi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/08/24/320/2870127/70-juta-orang-asia-jadi-miskin-gegara-pandemi-dan-inflasi</guid><pubDate>Kamis 24 Agustus 2023 10:46 WIB</pubDate><dc:creator>Kharisma Rizkika Rahmawati</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/24/320/2870127/70-juta-orang-asia-jadi-miskin-gegara-pandemi-dan-inflasi-jVq5NSkd8V.jpg" expression="full" type="image/jpeg">70 juta orang asia jadi miskin karena pandemi dan inflasi. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/24/320/2870127/70-juta-orang-asia-jadi-miskin-gegara-pandemi-dan-inflasi-jVq5NSkd8V.jpg</image><title>70 juta orang asia jadi miskin karena pandemi dan inflasi. (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNi8yMC8xLzE2NzM4My81L3g4bHdydWc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;


JAKARTA - Bank Pembangunan Asia (ADB) menyampaikan bahwa pandemi virus corona dan kenaikan biaya hidup telah mendorong hampir 70 juta orang di negara-negara berkembang Asia ke dalam kemiskinan ekstrem pada tahun lalu.

Sehingga mengikis upaya untuk memerangi kemiskinan.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Angka Kemiskinan Ekstrem Tersisa 3,3 Juta, Terkonsentrasi di Indonesia Timur



Dalam laporan baru yang dirilis pada Kamis, ADB mengatakan sekitar 155,2 juta orang di negara-negara berkembang di Asia, atau 3,9% dari populasi di wilayah tersebut, hidup dalam kemiskinan ekstrem pada tahun lalu, atau 67,8 juta lebih banyak dibandingkan jika tidak ada krisis kesehatan dan krisis biaya hidup.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Menko Muhadjir: Kemerdekaan Juga Diartikan Bebas dari Kemiskinan

Negara-negara berkembang Asia terdiri dari 46 negara di Asia-Pasifik dan tidak termasuk Jepang, Australia, dan Selandia Baru.



&quot;Asia dan Pasifik terus pulih dari pandemi Covid-19, namun peningkatan krisis biaya hidup menghambat kemajuan dalam pengentasan kemiskinan,&quot; kata Kepala Ekonom ADB Albert Park.



Kemiskinan ekstrem didefinisikan sebagai hidup dengan pendapatan kurang dari 2,15 dolar AS per hari, berdasarkan angka tahun 2017.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Jokowi Targetkan Angka Kemiskinan Turun Jadi 7,5% di 2024


Inflasi di sebagian besar negara telah melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir pada tahun lalu, didorong oleh pulihnya aktivitas ekonomi dan meningkatnya gangguan rantai pasokan.




&amp;nbsp;BACA JUGA:

Anggaran Bansos Cs Turun Jadi Rp493,5 Triliun, Kemiskinan Bisa Teratasi?BACA JUGA:

Anggaran Bansos Cs Turun Jadi Rp493,5 Triliun, Kemiskinan Bisa Teratasi?BACA JUGA:

Menko PMK Lapor ke Wapres, Angka Kemiskinan Ekstrem Turun Jadi 1,12%BACA JUGA:



Menko Muhadjir: Kemerdekaan Juga Diartikan Bebas dari KemiskinanBACA JUGA:



6 Fakta Target Presiden Jokowi untuk Kemiskinan dan Pengangguran di Akhir Masa JabatannyaBACA JUGA:



6 Fakta Target Presiden Jokowi untuk Kemiskinan dan Pengangguran di Akhir Masa JabatannyaBACA JUGA:



Ketua DPR Ingatkan Tantangan Pemerataan Pembangunan hingga Kemiskinan EkstremBACA JUGA:



Jokowi Targetkan Angka Kemiskinan Turun Jadi 7,5% di 2024&amp;nbsp; &amp;nbsp;





Kenaikan harga-harga berdampak pada semua orang, namun masyarakat miskin adalah pihak yang paling terkena dampaknya karena mereka harus menghabiskan lebih banyak uang untuk makanan dan bahan bakar.



Di mana itu menyulitkan mereka untuk menabung dan membayar kebutuhan pokok termasuk layanan kesehatan dan pendidikan.







&quot;Dengan memperkuat jaring pengaman sosial bagi masyarakat miskin dan mendorong investasi dan inovasi yang menciptakan peluang pertumbuhan dan lapangan kerja, pemerintah-pemerintah di kawasan ini dapat kembali ke jalur yang benar,&quot; kata Park, dikutip dari Antara, Kamis (24/8/2023).







Negara-negara berkembang di Asia berada pada jalur pertumbuhan sebesar 4,8% tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya, lebih cepat dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya sebesar 4,2%, kata ADB pada Juli.







Meskipun perekonomian di negara-negara berkembang di Asia diperkirakan mengalami kemajuan dalam mengatasi kemiskinan.



ADB juga mengatakan 30,3% populasi di kawasan ini, atau sekitar 1,26 miliar orang, masih dianggap rentan secara ekonomi pada tahun 2030.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNi8yMC8xLzE2NzM4My81L3g4bHdydWc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;


JAKARTA - Bank Pembangunan Asia (ADB) menyampaikan bahwa pandemi virus corona dan kenaikan biaya hidup telah mendorong hampir 70 juta orang di negara-negara berkembang Asia ke dalam kemiskinan ekstrem pada tahun lalu.

Sehingga mengikis upaya untuk memerangi kemiskinan.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Angka Kemiskinan Ekstrem Tersisa 3,3 Juta, Terkonsentrasi di Indonesia Timur



Dalam laporan baru yang dirilis pada Kamis, ADB mengatakan sekitar 155,2 juta orang di negara-negara berkembang di Asia, atau 3,9% dari populasi di wilayah tersebut, hidup dalam kemiskinan ekstrem pada tahun lalu, atau 67,8 juta lebih banyak dibandingkan jika tidak ada krisis kesehatan dan krisis biaya hidup.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Menko Muhadjir: Kemerdekaan Juga Diartikan Bebas dari Kemiskinan

Negara-negara berkembang Asia terdiri dari 46 negara di Asia-Pasifik dan tidak termasuk Jepang, Australia, dan Selandia Baru.



&quot;Asia dan Pasifik terus pulih dari pandemi Covid-19, namun peningkatan krisis biaya hidup menghambat kemajuan dalam pengentasan kemiskinan,&quot; kata Kepala Ekonom ADB Albert Park.



Kemiskinan ekstrem didefinisikan sebagai hidup dengan pendapatan kurang dari 2,15 dolar AS per hari, berdasarkan angka tahun 2017.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Jokowi Targetkan Angka Kemiskinan Turun Jadi 7,5% di 2024


Inflasi di sebagian besar negara telah melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir pada tahun lalu, didorong oleh pulihnya aktivitas ekonomi dan meningkatnya gangguan rantai pasokan.




&amp;nbsp;BACA JUGA:

Anggaran Bansos Cs Turun Jadi Rp493,5 Triliun, Kemiskinan Bisa Teratasi?BACA JUGA:

Anggaran Bansos Cs Turun Jadi Rp493,5 Triliun, Kemiskinan Bisa Teratasi?BACA JUGA:

Menko PMK Lapor ke Wapres, Angka Kemiskinan Ekstrem Turun Jadi 1,12%BACA JUGA:



Menko Muhadjir: Kemerdekaan Juga Diartikan Bebas dari KemiskinanBACA JUGA:



6 Fakta Target Presiden Jokowi untuk Kemiskinan dan Pengangguran di Akhir Masa JabatannyaBACA JUGA:



6 Fakta Target Presiden Jokowi untuk Kemiskinan dan Pengangguran di Akhir Masa JabatannyaBACA JUGA:



Ketua DPR Ingatkan Tantangan Pemerataan Pembangunan hingga Kemiskinan EkstremBACA JUGA:



Jokowi Targetkan Angka Kemiskinan Turun Jadi 7,5% di 2024&amp;nbsp; &amp;nbsp;





Kenaikan harga-harga berdampak pada semua orang, namun masyarakat miskin adalah pihak yang paling terkena dampaknya karena mereka harus menghabiskan lebih banyak uang untuk makanan dan bahan bakar.



Di mana itu menyulitkan mereka untuk menabung dan membayar kebutuhan pokok termasuk layanan kesehatan dan pendidikan.







&quot;Dengan memperkuat jaring pengaman sosial bagi masyarakat miskin dan mendorong investasi dan inovasi yang menciptakan peluang pertumbuhan dan lapangan kerja, pemerintah-pemerintah di kawasan ini dapat kembali ke jalur yang benar,&quot; kata Park, dikutip dari Antara, Kamis (24/8/2023).







Negara-negara berkembang di Asia berada pada jalur pertumbuhan sebesar 4,8% tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya, lebih cepat dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya sebesar 4,2%, kata ADB pada Juli.







Meskipun perekonomian di negara-negara berkembang di Asia diperkirakan mengalami kemajuan dalam mengatasi kemiskinan.



ADB juga mengatakan 30,3% populasi di kawasan ini, atau sekitar 1,26 miliar orang, masih dianggap rentan secara ekonomi pada tahun 2030.</content:encoded></item></channel></rss>
