<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cara BI Jaga Likuiditas Perbankan Tetap Longgar</title><description>Bank Indonesia (BI) tengah menjaga kondisi likuiditas perbankan di tahun ini agar tetap longgar.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/24/320/2870478/cara-bi-jaga-likuiditas-perbankan-tetap-longgar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/08/24/320/2870478/cara-bi-jaga-likuiditas-perbankan-tetap-longgar"/><item><title>Cara BI Jaga Likuiditas Perbankan Tetap Longgar</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/24/320/2870478/cara-bi-jaga-likuiditas-perbankan-tetap-longgar</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/08/24/320/2870478/cara-bi-jaga-likuiditas-perbankan-tetap-longgar</guid><pubDate>Kamis 24 Agustus 2023 17:06 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/24/320/2870478/cara-bi-jaga-likuiditas-perbankan-tetap-longgar-wDHcRG9n3A.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Bank Indonesia jaga likuiditas perbankan agar tetap longgar. (Foto: BI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/24/320/2870478/cara-bi-jaga-likuiditas-perbankan-tetap-longgar-wDHcRG9n3A.JPG</image><title>Bank Indonesia jaga likuiditas perbankan agar tetap longgar. (Foto: BI)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8zMS8xLzE2MTg0NC81L3g4ajZpMGo=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) tengah menjaga kondisi likuiditas perbankan di tahun ini agar tetap longgar.

&quot;Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) tercatat tinggi, yakni 26,57% pada Juli 2023, sejalan dengan stance kebijakan likuiditas longgar Bank Indonesia,&quot; kata Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (24/8/2023).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

DPR Tetapkan 7 Anggota Badan Supervisi Bank Indonesia, Berikut Nama-namanya

Perry menuturkan, suku bunga perbankan tetap rendah. Untuk di pasar uang, suku bunga Indonesia tercatat 5,59% pada 23 Agustus 2023.

&quot;Di perbankan, suku bunga deposito 1 bulan dan suku bunga kredit pada Juli 2023 terjaga rendah, yaitu sebesar 4,18% dan 9,35%,&quot; ungkap Perry.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Bank Indonesia Diprediksi Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 6%

Di pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun tercatat sebesar 6,62% pada 23 Agustus 2023.

&quot;Bank Indonesia terus memastikan kecukupan likuiditas perbankan untuk memperkuat transmisi kebijakan moneter, menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan, serta mendorong kredit/pembiayaan kepada dunia usaha,&quot; jelasnya.

Adapun ketahanan sistem keuangan, khususnya perbankan, tetap terjaga. Permodalan perbankan kuat dengan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) sebesar 26,74% pada Juni 2023.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Kredit Perbankan Diramal Meningkat pada Triwulan III-2023


Risiko kredit terkendali, tercermin dari rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) yang rendah, yaitu 2,44% (bruto) dan 0,77% (neto) pada Juni 2023.



Likuiditas perbankan pada Juli 2023 terjaga, dipengaruhi oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 6,62% (yoy). Hasil stress test Bank Indonesia juga menunjukkan ketahanan perbankan yang tetap kuat.



&quot;Bank Indonesia terus memperkuat sinergi dengan KSSK dalam memitigasi berbagai risiko ekonomi domestik dan global yang dapat mengganggu ketahanan sistem keuangan dan momentum pertumbuhan ekonomi,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8zMS8xLzE2MTg0NC81L3g4ajZpMGo=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) tengah menjaga kondisi likuiditas perbankan di tahun ini agar tetap longgar.

&quot;Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) tercatat tinggi, yakni 26,57% pada Juli 2023, sejalan dengan stance kebijakan likuiditas longgar Bank Indonesia,&quot; kata Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (24/8/2023).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

DPR Tetapkan 7 Anggota Badan Supervisi Bank Indonesia, Berikut Nama-namanya

Perry menuturkan, suku bunga perbankan tetap rendah. Untuk di pasar uang, suku bunga Indonesia tercatat 5,59% pada 23 Agustus 2023.

&quot;Di perbankan, suku bunga deposito 1 bulan dan suku bunga kredit pada Juli 2023 terjaga rendah, yaitu sebesar 4,18% dan 9,35%,&quot; ungkap Perry.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Bank Indonesia Diprediksi Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 6%

Di pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun tercatat sebesar 6,62% pada 23 Agustus 2023.

&quot;Bank Indonesia terus memastikan kecukupan likuiditas perbankan untuk memperkuat transmisi kebijakan moneter, menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan, serta mendorong kredit/pembiayaan kepada dunia usaha,&quot; jelasnya.

Adapun ketahanan sistem keuangan, khususnya perbankan, tetap terjaga. Permodalan perbankan kuat dengan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) sebesar 26,74% pada Juni 2023.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Kredit Perbankan Diramal Meningkat pada Triwulan III-2023


Risiko kredit terkendali, tercermin dari rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) yang rendah, yaitu 2,44% (bruto) dan 0,77% (neto) pada Juni 2023.



Likuiditas perbankan pada Juli 2023 terjaga, dipengaruhi oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 6,62% (yoy). Hasil stress test Bank Indonesia juga menunjukkan ketahanan perbankan yang tetap kuat.



&quot;Bank Indonesia terus memperkuat sinergi dengan KSSK dalam memitigasi berbagai risiko ekonomi domestik dan global yang dapat mengganggu ketahanan sistem keuangan dan momentum pertumbuhan ekonomi,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
