<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mata Uang Pakistan Rupee Anjlok ke Level Terendah Sepanjang Sejarah, Ini Dampak Mengerikannya</title><description>Mata uang Pakistan Rupee anjlok ke level terendah sepanjang sejarah.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/25/320/2871120/mata-uang-pakistan-rupee-anjlok-ke-level-terendah-sepanjang-sejarah-ini-dampak-mengerikannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/08/25/320/2871120/mata-uang-pakistan-rupee-anjlok-ke-level-terendah-sepanjang-sejarah-ini-dampak-mengerikannya"/><item><title>Mata Uang Pakistan Rupee Anjlok ke Level Terendah Sepanjang Sejarah, Ini Dampak Mengerikannya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/25/320/2871120/mata-uang-pakistan-rupee-anjlok-ke-level-terendah-sepanjang-sejarah-ini-dampak-mengerikannya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/08/25/320/2871120/mata-uang-pakistan-rupee-anjlok-ke-level-terendah-sepanjang-sejarah-ini-dampak-mengerikannya</guid><pubDate>Jum'at 25 Agustus 2023 15:17 WIB</pubDate><dc:creator>Sri Kurnia Ningsih</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/25/320/2871120/mata-uang-pakistan-rupee-anjlok-ke-level-terendah-sepanjang-sejarah-ini-dampak-mengerikannya-4EyRYVkrL0.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Mata uang Pakistan melemah ke level terendah (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/25/320/2871120/mata-uang-pakistan-rupee-anjlok-ke-level-terendah-sepanjang-sejarah-ini-dampak-mengerikannya-4EyRYVkrL0.jpg</image><title>Mata uang Pakistan melemah ke level terendah (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMC8xOC80LzE1NTEyNy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Mata uang Pakistan Rupee anjlok ke level terendah sepanjang sejarah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Pakistan, nilai mata uang negara tersebut anjlok hingga lebih dari 300 rupee per USD.
Pelemahan nilai tukar ini meningkatkan kekhawatiran akan semakin mahalnya barang-barang kebutuhan sehari-hari karena konsumen menghadapi inflasi yang kian meningkat.

BACA JUGA:
Daftar 10 Mata Uang Terendah di Dunia


Melansir VOA, Jumat (25/8/2023), penurunan terbaru terjadi setelah rupee jatuh ke titik terendah dalam dua hari terakhir ini. Rupee Pakistan telah kehilangan lebih dari sepertiga nilainya terhadap dolar AS dalam setahun terakhir seiring upaya keras negara itu mengatasi tumpukan utang.
Para pakar mengatakan nilai rupee terdepresiasi karena meningkatnya permintaan akan dolar setelah pembatasan impor, yang diberlakukan oleh pemerintah tahun lalu untuk menyelamatkan cadangan dolar yang menipis, berakhir pada bulan Juni.

BACA JUGA:
Bye Dolar AS! Bank Sentral RI, Malaysia dan Thailand Perkuat Transaksi Mata Uang Lokal


&quot;Karena tidak terjadi impor, kami dapat menopang nilai rupee, secara artifisial, terhadap dolar AS,&quot; ujar ekonom Ammar Habib Khan kepada VOA. Khan adalah peneliti senior non-residen yang berbasis di Pakistan di lembaga Atlantic Council yang berkantor di Washington.
Membuka impor merupakan syarat bagi Pakistan untuk mendapatkan dana talangan dari Dana Moneter Internasional (IMF) sebesar USD3 miliar yang sangat dibutuhkan oleh negara itu. Kesepakatan tersebut dicapai pada bulan Juli setelah beberapa putaran negosiasi yang alot di mana pihak pemberi pinjaman menuntut reformasi ekonomi yang masif.
Dana talangan itu menyelamatkan Pakistan dari gagal bayar dan membuka  jalan bagi pinjaman dan investasi bernilai miliaran dolar dari sekutu  lama China, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab; yang tentunya meningkatkan  cadangan dolar.
Namun kebanyakan orang Pakistan sedang berjuang untuk memenuhi  kebutuhan hidup mereka karena inflasi mencapai angka 29%. Pemangkasan  subsidi untuk mendapatkan dana IMF membuat harga bahan bakar mencapai  rekor tertinggi dalam sejarah, demikian pula harga listrik, meskipun  telah terjadi penurunan permintaan.
Prof. Syed Ali Hasanain di Lahore University of Management Sciences,  mengatakan kepada VOA, penurunan nilai rupee yang berkelanjutan  menunjukkan bahwa Pakistan sedang berjuang untuk memperbaiki krisis  neraca pembayaran.
&quot;Negara ini telah sejak lama mengimpor lebih banyak dari yang  diekspor, sebagai konsekuensi dari pengabaian reformasi struktural  selama beberapa dekade,&quot; ujar Hasanain.
Pakistan, yang berpenduduk sekitar 240 juta orang, sangat bergantung  pada impor. Meskipun pembatasan impor membantu menyelamatkan cadangan  dolar yang berharga, hal tersebut juga menyebabkan penurunan ekspor  karena para produsen bergantung pada mesin-mesin dan bahan baku impor  untuk produksi.
Tahun lalu Pakistan terguncang oleh banjir besar, ketidakstabilan  politik yang parah, dan guncangan ekonomi akibat pandemi COVID-19.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMC8xOC80LzE1NTEyNy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Mata uang Pakistan Rupee anjlok ke level terendah sepanjang sejarah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Pakistan, nilai mata uang negara tersebut anjlok hingga lebih dari 300 rupee per USD.
Pelemahan nilai tukar ini meningkatkan kekhawatiran akan semakin mahalnya barang-barang kebutuhan sehari-hari karena konsumen menghadapi inflasi yang kian meningkat.

BACA JUGA:
Daftar 10 Mata Uang Terendah di Dunia


Melansir VOA, Jumat (25/8/2023), penurunan terbaru terjadi setelah rupee jatuh ke titik terendah dalam dua hari terakhir ini. Rupee Pakistan telah kehilangan lebih dari sepertiga nilainya terhadap dolar AS dalam setahun terakhir seiring upaya keras negara itu mengatasi tumpukan utang.
Para pakar mengatakan nilai rupee terdepresiasi karena meningkatnya permintaan akan dolar setelah pembatasan impor, yang diberlakukan oleh pemerintah tahun lalu untuk menyelamatkan cadangan dolar yang menipis, berakhir pada bulan Juni.

BACA JUGA:
Bye Dolar AS! Bank Sentral RI, Malaysia dan Thailand Perkuat Transaksi Mata Uang Lokal


&quot;Karena tidak terjadi impor, kami dapat menopang nilai rupee, secara artifisial, terhadap dolar AS,&quot; ujar ekonom Ammar Habib Khan kepada VOA. Khan adalah peneliti senior non-residen yang berbasis di Pakistan di lembaga Atlantic Council yang berkantor di Washington.
Membuka impor merupakan syarat bagi Pakistan untuk mendapatkan dana talangan dari Dana Moneter Internasional (IMF) sebesar USD3 miliar yang sangat dibutuhkan oleh negara itu. Kesepakatan tersebut dicapai pada bulan Juli setelah beberapa putaran negosiasi yang alot di mana pihak pemberi pinjaman menuntut reformasi ekonomi yang masif.
Dana talangan itu menyelamatkan Pakistan dari gagal bayar dan membuka  jalan bagi pinjaman dan investasi bernilai miliaran dolar dari sekutu  lama China, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab; yang tentunya meningkatkan  cadangan dolar.
Namun kebanyakan orang Pakistan sedang berjuang untuk memenuhi  kebutuhan hidup mereka karena inflasi mencapai angka 29%. Pemangkasan  subsidi untuk mendapatkan dana IMF membuat harga bahan bakar mencapai  rekor tertinggi dalam sejarah, demikian pula harga listrik, meskipun  telah terjadi penurunan permintaan.
Prof. Syed Ali Hasanain di Lahore University of Management Sciences,  mengatakan kepada VOA, penurunan nilai rupee yang berkelanjutan  menunjukkan bahwa Pakistan sedang berjuang untuk memperbaiki krisis  neraca pembayaran.
&quot;Negara ini telah sejak lama mengimpor lebih banyak dari yang  diekspor, sebagai konsekuensi dari pengabaian reformasi struktural  selama beberapa dekade,&quot; ujar Hasanain.
Pakistan, yang berpenduduk sekitar 240 juta orang, sangat bergantung  pada impor. Meskipun pembatasan impor membantu menyelamatkan cadangan  dolar yang berharga, hal tersebut juga menyebabkan penurunan ekspor  karena para produsen bergantung pada mesin-mesin dan bahan baku impor  untuk produksi.
Tahun lalu Pakistan terguncang oleh banjir besar, ketidakstabilan  politik yang parah, dan guncangan ekonomi akibat pandemi COVID-19.</content:encoded></item></channel></rss>
