<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kekeringan di Thailand Ancaman bagi Ekonomi hingga Picu Kemiskinan</title><description>Kekeringan di Thailand bisa mengancam kondisi ekonomi. Bahkan rekor suhu panas di negara tersebut bisa memicu kemiskinan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/26/320/2871610/kekeringan-di-thailand-ancaman-bagi-ekonomi-hingga-picu-kemiskinan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/08/26/320/2871610/kekeringan-di-thailand-ancaman-bagi-ekonomi-hingga-picu-kemiskinan"/><item><title>Kekeringan di Thailand Ancaman bagi Ekonomi hingga Picu Kemiskinan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/26/320/2871610/kekeringan-di-thailand-ancaman-bagi-ekonomi-hingga-picu-kemiskinan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/08/26/320/2871610/kekeringan-di-thailand-ancaman-bagi-ekonomi-hingga-picu-kemiskinan</guid><pubDate>Sabtu 26 Agustus 2023 14:54 WIB</pubDate><dc:creator>Sri Kurnia Ningsih</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/26/320/2871610/kekeringan-di-thailand-ancaman-bagi-ekonomi-hingga-picu-kemiskinan-FNLnDEc4Vk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kekeringan di Thailand picu kemiskinan (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/26/320/2871610/kekeringan-di-thailand-ancaman-bagi-ekonomi-hingga-picu-kemiskinan-FNLnDEc4Vk.jpg</image><title>Kekeringan di Thailand picu kemiskinan (Foto: Okezone)</title></images><description>


JAKARTA - Kekeringan di Thailand bisa mengancam kondisi ekonomi. Bahkan rekor suhu panas di negara tersebut bisa memicu kemiskinan.
Melansir VOA, Sabtu (26/8/2023), Thailand menderita kekeringan yang disebabkan oleh peristiwa cuaca El Nino, yang mengeringkan lahan untuk bercocok tanam palawija penting di kawasan pertanian negara itu.

BACA JUGA:
Angka Kemiskinan Ekstrem Tersisa 3,3 Juta, Terkonsentrasi di Indonesia Timur

Curah hujan di Thailand kini di bawah rata-rata pada tahun ini, dengan penurunan 25% secara nasional hingga Juli, menurut Departemen Meteorologi Thailand. Ini memaksa pemerintah untuk menganjurkan sebagian petani agar beralih ke tanaman lain yang menggunakan lebih sedikit air jika penanaman belum dimulai.
&amp;ldquo;Curah hujan lebih sedikit di bagian tengah Thailand selama beberapa bulan terakhir. Sementara itu Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) mengatakan Juli adalah bulan paling panas dalam sejarah. Tetapi bulan paling panas dalam setahun bagi Thailand adalah April,&amp;rdquo; kata Chaowat Siwapornchai, pakar cuaca di Bangkok.

BACA JUGA:
Menko PMK Sebut Kemiskinan Ekstrem Terus Turun, Optimis Capai Nol Persen di 2024

&amp;ldquo;Sebagai tren jangka panjang, kami terus menghadapi kenaikan suhu yang tahun ini berkombinasi dengan El Ni&amp;ntilde;o, yang menimbulkan situasi yang kita hadapi,&amp;rdquo; tambahnya.
Fenomena La Nina adalah pendinginan alami air di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik. Ini terjadi setiap beberapa tahun, tetapi mempengaruhi perubahan cuaca di seluruh dunia. Pola El Ni&amp;ntilde;o berdampak sebaliknya, menimbulkan air yang hangat, membawa cuaca lebih kering dan mengurangi curah hujan, berkontribusi pada cuaca panas yang ekstrem di Asia. Panas ekstrem juga umum terjadi tahun ini di India, China, Laos, Pakistan dan Vietnam.Dalam laporan yang diterbitkan bulan lalu. WMO mengatakan kondisi El  Nino telah berkembang di Pasifik untuk pertama kalinya dalam tujuh  tahun, seraya menambahkan bahwa ada 90% kemungkinan El Ni&amp;ntilde;o akan  berlanjut hingga akhir 2023.
Laporan ini mengatakan sudah hampir pasti lima tahun akan tercatat  sebagai yang terpanas, dengan satu dari kelima tahun dalam periode itu  akan tercatat sebagai tahun terpanas.
Namun bagi Thailand, suhu yang memecahkan rekor di negara Asia  Tenggara itu telah dirasakan pada awal tahun ini. Pada April lalu, kota  Tak mencatat suhu tertinggi, sekitar 45,5 derajat Celsius. Pada bulan  yang sama, Thailand mencatat indeks panas yang mencapai rekor 53,9  derajat Celsius, di Provinsi Chonburi dan pulau wisata yang populer,  Phuket. Indeks panas menunjukkan suhu yang dirasakan dengan  memperhitungkan kelembaban.
Suhu sangat tinggi juga memaksa rumah-rumah di Thailand menggunakan  lebih banyak listrik, misalnya untuk pendingin ruangan (AC), menyebabkan  konsumsi listrik membubung hingga ke level tertinggi pada April dan  Mei.
Dan pekan lalu, di daerah Korat, ketinggian permukaan air di  Bendungan Lam Takhong turun ke level hingga bagian bersejarah dari  Thailand muncul kembali. Jalan Thai-Amerika, yang dibangun dan digunakan  semasa Perang Vietnam dan digunakan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat  (AS) sebagai jalur menuju pangkalannya di Udon Thani, telah terlihat  kembali. Jalan ini biasanya terendam di bawah air bendungan itu, yang  kini turun menjadi kurang dari separuh kapasitasnya, kata harian  berbahasa Inggris Khaosod.</description><content:encoded>


JAKARTA - Kekeringan di Thailand bisa mengancam kondisi ekonomi. Bahkan rekor suhu panas di negara tersebut bisa memicu kemiskinan.
Melansir VOA, Sabtu (26/8/2023), Thailand menderita kekeringan yang disebabkan oleh peristiwa cuaca El Nino, yang mengeringkan lahan untuk bercocok tanam palawija penting di kawasan pertanian negara itu.

BACA JUGA:
Angka Kemiskinan Ekstrem Tersisa 3,3 Juta, Terkonsentrasi di Indonesia Timur

Curah hujan di Thailand kini di bawah rata-rata pada tahun ini, dengan penurunan 25% secara nasional hingga Juli, menurut Departemen Meteorologi Thailand. Ini memaksa pemerintah untuk menganjurkan sebagian petani agar beralih ke tanaman lain yang menggunakan lebih sedikit air jika penanaman belum dimulai.
&amp;ldquo;Curah hujan lebih sedikit di bagian tengah Thailand selama beberapa bulan terakhir. Sementara itu Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) mengatakan Juli adalah bulan paling panas dalam sejarah. Tetapi bulan paling panas dalam setahun bagi Thailand adalah April,&amp;rdquo; kata Chaowat Siwapornchai, pakar cuaca di Bangkok.

BACA JUGA:
Menko PMK Sebut Kemiskinan Ekstrem Terus Turun, Optimis Capai Nol Persen di 2024

&amp;ldquo;Sebagai tren jangka panjang, kami terus menghadapi kenaikan suhu yang tahun ini berkombinasi dengan El Ni&amp;ntilde;o, yang menimbulkan situasi yang kita hadapi,&amp;rdquo; tambahnya.
Fenomena La Nina adalah pendinginan alami air di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik. Ini terjadi setiap beberapa tahun, tetapi mempengaruhi perubahan cuaca di seluruh dunia. Pola El Ni&amp;ntilde;o berdampak sebaliknya, menimbulkan air yang hangat, membawa cuaca lebih kering dan mengurangi curah hujan, berkontribusi pada cuaca panas yang ekstrem di Asia. Panas ekstrem juga umum terjadi tahun ini di India, China, Laos, Pakistan dan Vietnam.Dalam laporan yang diterbitkan bulan lalu. WMO mengatakan kondisi El  Nino telah berkembang di Pasifik untuk pertama kalinya dalam tujuh  tahun, seraya menambahkan bahwa ada 90% kemungkinan El Ni&amp;ntilde;o akan  berlanjut hingga akhir 2023.
Laporan ini mengatakan sudah hampir pasti lima tahun akan tercatat  sebagai yang terpanas, dengan satu dari kelima tahun dalam periode itu  akan tercatat sebagai tahun terpanas.
Namun bagi Thailand, suhu yang memecahkan rekor di negara Asia  Tenggara itu telah dirasakan pada awal tahun ini. Pada April lalu, kota  Tak mencatat suhu tertinggi, sekitar 45,5 derajat Celsius. Pada bulan  yang sama, Thailand mencatat indeks panas yang mencapai rekor 53,9  derajat Celsius, di Provinsi Chonburi dan pulau wisata yang populer,  Phuket. Indeks panas menunjukkan suhu yang dirasakan dengan  memperhitungkan kelembaban.
Suhu sangat tinggi juga memaksa rumah-rumah di Thailand menggunakan  lebih banyak listrik, misalnya untuk pendingin ruangan (AC), menyebabkan  konsumsi listrik membubung hingga ke level tertinggi pada April dan  Mei.
Dan pekan lalu, di daerah Korat, ketinggian permukaan air di  Bendungan Lam Takhong turun ke level hingga bagian bersejarah dari  Thailand muncul kembali. Jalan Thai-Amerika, yang dibangun dan digunakan  semasa Perang Vietnam dan digunakan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat  (AS) sebagai jalur menuju pangkalannya di Udon Thani, telah terlihat  kembali. Jalan ini biasanya terendam di bawah air bendungan itu, yang  kini turun menjadi kurang dari separuh kapasitasnya, kata harian  berbahasa Inggris Khaosod.</content:encoded></item></channel></rss>
